Book Review: Hujan

Sumber foto: Google

Sumber foto: Google

Judul: Hujan
Penulis: Tere Liye
Penerbit: GPU, Januari 2016
Tebal: 320 halaman
ISBN 978-602-03-2478-4

Tentang Hujan…..
Tentang Cinta…..
Tentang Melupakan…..
Tentang Perpisahan….
Tentang Hujan…..

Kalian suka Hujan? Apakah setiap kejadian penting dalam hidupmu terjadi saat Hujan turun? Cinta misalnya, bertemu seseorang yang selalu ada di hatimu.

Jika iya, itu kabar buruk. Ketahuilah, jangan pernah jatuh cinta saat hujan turun. Karena ketika besok lusa kalian patah hati, setiap kali hujan turun, kalian akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu (salah satu kutipan favorit saya di novel ini).

Halo Blogs~!!
Akhirnya!! 😄🙌🙋

Saya memposting juga sinopsis “Hujan” yang sudah berbulan-bulan tertunda entah karena apa. Ok, awal pertemuan saya dengan Hujan adalah di sebuah Toko Buku (*hondeh tu lah iyo nyo -..- ), ketika melihat “Hujan” nongkrong cantik di salah satu rak-rak buku Gramedia, saya langsung punya feeling ini akan menjadi Novel favorite saya. Pertama karena judulnya “Hujan”, saya suka hujan. Kedua karena saya langsung jatuh cinta pada paragraf pertama ketika membaca sinopsinya. Terutama pada kata “melupakan”, ya… agaknya melupakan adalah sebuah pekerjaan yang cukup berat untuk dilakukan manusia dewasa masa kini. Terutama melupakan kenangan-kenangan buruk yang pernah terjadi di dalam kehidupannya #kemudianbaver😥. Maka, Hujan-pun langsung menarik dan membuat penasaran untuk segera mengetahui apa yang sedang ingin diceritakan Tere Liye, ada apa dengan hujan? Ada apa dengan melupakan?

OK FIX!… Novel ini langsung menjadi Novel Tere Liye yang paliiiiiiiiing saya sukai di antara Novel lain yang beberapa waktu lalu saya baca.😂😁:)

***

Novel ini sebenarnya novel romansa dengan balutan science fiction. Mungkin ketika melihat covernya yang sederhana, banyak yang tidak akan percaya jika Novel sederhana ini berisi cerita hebat dengan tingkat ilmiah yang cukup mengagumkan untuk ukuran sebuah Novel. Latar waktu novel ini juga diambil dari masa depan: 2042, dengan cerita fiksi masa depan, semua alur dan bentuk kejadian pun disesuaikan dengan kondisi, sehingga pembaca akan menemukan hal-hal baru dan menambah pengetahun juga gambaran akan seperti apa teknologi canggih yang sedang kita nikmati saat ini.

Hujan pun dibuka oleh keinginan Lail menghapus memorinya tentang seseorang, yang mana ia meminta bantuan seorang psikiatri bernama Elijah. Kemudian Lail mengingat alasan kenapa ia harus menghapus memorinya tersebut, dan ia pun menceritakannya kepada Elijah.

Cerita dimulai saat Lail ingin berangkat sekolah, di tahun 2042, saat breaking news tentang krisis air begitu mengkhawatirkan penduduk bumi. Lail, yang kala itu masih kecil, belum mengerti. Sampai akhirnya bencana itu terjadi. Bencana yang membuatnya jadi anak yatim piatu.

Dan saat itulah ia bertemu Esok, remaja laki-laki yang baik dan menjadi sosok kakak untuk Lail. Begitu banyak hal yang terjadi di dalam kehidupan persahabatan mereka. Lail remaja tumbuh menjadi gadis mandiri yang pintar dan memiliki jiwa voluntir yang tinggi. Ia kemudian bersekolah di Sekolah Keperawatan.

Hahahha, ketika membaca Lail memilih sekolah keperawatan, entah kenapa saya langsung bahagia, berkali-kali lipat bahagia… ya ya ya… itu karena saya juga bersekolah di sekolah keperawatan. Hahahha… Menurut Tere Liye di acara bedah buku yang saya hadiri beberapa bulan yang lalu di Padang, memilih profesi perawat untuk tokoh utama di Novel ini bukan karena latar belakang cerita atau asal pilih saja. Sebelum beliau menyelesaikan Novel ini, ia telah melakukan survey terhadapa reader “kira-kira profesi apakah yang pembaca inginkan untuk yokoh utama di novel berikutnya”. Dan kemudian terpilihlah profesi perawat. Hahaha… Tapi menurut saya Lail memang sangat cocok untuk menjadi perawat mengingat ia memiliki jiwa “penolong” yang tinggi, beranjak dari pengalaman hidupnya yang menjadi anak korban bencana.😁😝🙌

Tere Liye mengisahkan kisah ini dengan begitu menyenangkan. Kita seperti diajak berimajinasi tentang bumi di masa depan. Diajak bertualang bersama Lail dan Maryam, sahabat Lail dengan rambut kribo. Topik tentanng Global Warming di masa depan yang dibahas di sini, ikut membuat kekhawatiran.

Jadi kenapa Novel ini berjudul Hujan??
Selain karena banyak kejadian yang terjadi dalam kehidupan Lail yang bertepatan dengan hujan, juga karena novel ini menceritakan perubahan iklim dunia. Yang puncaknya terjadi musim panas ekstrem dengan suhu yang terus naik dengan signifikan. Tidak ada awan, dan tiada lagi hujan. Dan untuk mengatasinya, Esok alias Soke Bahtera, sang ilmuwan muda, ikut membantu dalam sebuah proyek rahasia untuk menciptakan sebuah benda yang gunanya untuk menyelamatkan manusia dari kepunahan, yang membuatnya jarang bertemu dengan Lail, dan juga yang membuat mereka jarang mengunjungi lubang yang menjadi tempat awal pertemuan mereka.
Selain terhipnotis dengan kisah dan jalan ceritanya yang susah ditebak, pembaca juga dimanjakan dengan kalimat-kalimat yang sungguh membuat perasaan menjadi hangat (*melted mode on).

Berikut beberapa kalimat yang saya senangi, dan tentu QUOTE-ABLE banget. Hahhaha…😍

“…ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu helaan nafas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok. Tak pelak lagi, kamu sedang jatuh cinta…”
“Apa yang terjadi, jika hujan tidak pernah turun lagi? Apa yang terjadi, jika kamu tidak pernah mengingatku lagi? Seperti orang-orang yang lupa tentang hujan?”

“Ratusan orang pernah berada di ruangan ini. Meminta agar semua kenagan mereka dihapus. Tetapi sesungguhya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, maka dia tidak akan bisa melupakan.”

“Tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar.
Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian.”

“Hidup ini memang tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari: Kapan kita berhenti menunggu.”

“Orang kuat itu bukan karena dia memang kuat, melainkan karena dia bisa melepaskan…”
“Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.” (hal. 256)
“Ada banyak hal yang bisa saling dipahami oleh dua orang sahabat sejati tanpa harus berbicara apa pun.” (Hal. 271)
“Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal yang menyakitkan yang mereka alami.” (Hal. 317)

image
(Pssst…yang baju item di belakang buku itu Tere Liye looh! 😀 Diambil ketika acara bedah buku di Pesantren Ar Risalah Padang 👍👍)

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s