Ceramah Ramadhan Malam Ketigabelas #BukittinggiKotaYangSejuk #TentangSejarahPendirianRumahSakitIslamSumbar

image

Foto di atas adalah pemandangan yang diambil dari lantai tiga kos-kosan Rumah Hijau Darul Hufaz, letaknya persis di samping Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Bukittinggi. Bangunan putih itu adalah ruang VIP, sedangkan atap-atap berikutnya adalah bangunan ruang rawat. Saya bisa melihat aktivitas perawat di ruangan anak dari lorong rumah, atau perawat di Paviliun Khusus (PK) dari atas. Bahkan teman saya yang perawat di PK saja, bisa diteriaki atau melempar beberapa barangnya yang ketinggalan di kamar ke halaman PK.

Pemandangan dari sini sungguh bagus. Saya bisa melihat betapa gagahnya beberapa gunung kebanggaan masyarakat Minangkabau dari lantai tiga kos-kosan. Kalau tidak salah yang di atas adalah gunung Merapi, geser pandangan ke arah barat sedikit kita bisa melihat gagahnya Singgalang. Saya tidak tau persis mana yang Singgalang mana yang Merapi, kira-kiranya begitulah, ada 3 gunung gagah yang bisa saya saksikan dari lantai tiga ini.

Udara Bukittinggi sungguh sejuk malam ini. Terutama akhir-akhir ini setelah rinai hujan mengguyur semalam kemaren. Bahkan kabarnya Kota Padang banjir karena meluapnya debit air setelah hujan seharian.

Iya, pada dasarnya Bukittinggi memang wilayah yang sejuk dengan pemandangan menakjubkan. Jam gadang hanya salah satu spot ternama yang banyak dikenal, namun selain jam gadang dan Pasa Ateh, sesungguhnya masih banyak spot-spot lain Bukittinggi yang tak kalah mengagumkannya. Maka tak heran Bukittinggi dikenal sebagai Kota Pariwisatanya Sumatera Barat. Bahkan kampus tempat saya mengajar bahkan sebelahan dengan ngarai yang terkenal itu, makanya kampus kami sering dikunjungi monyet ngarai *krik krik krik krik*.

Oke, kembali ke udara yang sejuk. Memang beberapa tahun belakangan konon kabarnya Bukititnggi tidaklah lagi sesejuk biasanya, pengarus global warming dan padatnya penduduk i guest. Tapi pada wilayah-wilayah tertentu, seperti daerah Tanjuang Alam (*ini masih masuk Kiktenggeh kan ya?) itu masih asri dan sejuk. Tempat saya tinggal, termasuk pusat Kota dan Pusat Keramaian di Bukittinggi, hanya beberapa ratus meter jaraknya dari Jam Gadang, Pasa Ateh dan Pasa Bawah, serta Aua Kuniang, makanya saya sering merasa kepanasan juga di siang hari. Kami sering protes kalau AC di kantor dimatikan secara semena-mena oleh orang bagian umum. Namun begitu, di tempat yang cukup teduh, masih sejuk. Saya bahkan harus bergelung selimut tebal ketika tidur di sore hari. Cuma di Bukittinggi saya ketiduran di sore hari sambil pakai selimut begitu. Di Padang?? Haah itu namanya sauna kalau masih pake selimu! *Salut untuk teman saya Desi yang di Padang selalu tidur siang pakai selimut tebal*.

Jadi malam ketiga belas ini sangat dingin, tingkat dingin yang menyebabkan kamu merasa lebih nyaman untuk tidur saja di rumah setelah berbuka puasa dengan sajian yang lezat. Apalagi sore tadi rintik gerimis juga turun. Kami bergegas ke Mesjid demi menghindari udara dingin.

Nasib baik kami dapat posisi saf kedua dari depan. Spot yang baik karena tiga saf terdepan itu difasilitasi dengan karpet mesjid yang baru. Hahahhaha *penting dibahas ya Ni*

Topik ceramah agama malam ketiga belas ini adalah: Pemimpin yang Baik.

Membahas tentang kriteria pemimpin yang baik tidak akan ada habisnya. Tidak cukup waktu 30 menit ceramah sebenarnya.

Ustad membuka kajian tersebut dengan membacakan sebuah ayat yang intinya:
Setaat taat apapun manusia, meski ia mampu menyamai ketaatan Nabi dan Rasul Allah, tidak akan menambah kekuasaan Alah. Seburuk buruk apapun manusia, juga tidak akan mengurangi kekuasaan allah. Manusialah yang butuh Allah bukan Allah yg butuh manusia.

Nabi sukses menjadi pemimpin dengan sifat-sifat Beliau yang mulia siddiq amanah fathanah tabliq.
Sidiq menempati posisi pertama. Kejujuran, biarlah tidak terlalu fathanah, asal sidiq (*begitu kata Ustad, mengingat betapa susahnya mencari pemimpin yang jujur saat ini).

Nabi dan para sahabat, imannya selalu naik. Imannya malaikat, tetap. Malaikat bisa berbuat apapun saja asal Allah yang memerintahkan. Nah, Iman manusialah yang selalu berubah-ubah, kadang naik, kadang turun, naik lagi, turun lagi. Contohnya: umat islam yang hanya memadati Mesjid di 10 malam pertaman, namun setelahnya sampai 10 ramadhan terakhir sudah banyak yang kembali meninggalkan Mesjid.

Tanggal 1 syawal, mesjid kembali sepi. Padahal Ramadhan adalah bulan latihan. Manusia dilatih selama 1 bulan full untuk meningkatkan keimanannya. Binatang apapun bisa dilatih (*kecuali kambing), mestinya orang bukittinggi lebih bijak karena kebun binatang ada di bukittinggi(?). Harimau bisa dilatih, gajah bisa dilatih. Bahkan karena keunggulan meraka, ada beberapa biantang yang dijadikan nama surat di dalam Al-Qur’an. Ada surat semut, surat gajah, surat lebah. Intinya: binatang bisa dilatih. Tapi kenapa manusia tidak bisa juga dilatih???
Di dalam alquran surat Al ‘Araf(7) 179: binatang tidak bisa menjadi manusia, namun manusia bisa menjadi binatang jika tidak taat. Dan sungguh kebanyakan isi neraka adalah jin dan manusia, mereka diberi hati namun tidak digunakan, diberi mata tidak dimanfaatkan untuk Allah. Maka sama ia dengan binatang, malah lebih buruk.

Berikut redaksinya dari terjemahan: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Mungkin kita tidak bisa mencontoh Nabi langsung, mancontoh sahabat langsung, paling tidak kita bisa mencontoh para pemimpin terdahulu. Bahkan kebanyakan pemimpin bangsa Indonesia berasal dari Sumatera Barat. Seperti: Agus Salim, Moh. Natsir, Moh. Hhatta, dll.

Empat kunci sukses untuk menjadi Pemimpin
1. Taat beribadah kepada Allah.
Pemimpin bangsa umumnya orang Minang, dan berasal dari Mesjid.
Pak Natsir kalau sholat snagatlah lama, karena beliau menjadikan kesempatan solat untuk berdialog dengan Allah. Berbicara tentang Moh.Natsir, ustad kemudian mengisahkan tentang sedikit tentang riwayat pendirian Rumah Sakit Islam di Sumatera Barat (*yang sudah sering saya dengar karena ini merupakan materi pertama yang saya dapatkan dari petinggi Yarsi ketika direkrut menjadi dosen di Yarsi). Dahulu di Bukittinggi berdiri rumah sakit kristen imanuel. Karena tidak ada balai pengobatan yang lain, umat islam banyak yang berobat ke sana. Tentu saja ini menimbulkan kekhawatiran dari pemuka adat dan pemuda islam. Bahkan kata Ustad, dulu pemuda-pemuda yang baru pulang sekolah dari Timur tengah ingin menaroh bom di sana *saking gemasnya*.

Kemudian pak natsir yang santun dan benar-benar memiliki pemahaman agama yang baik menasehati: anak-anakku, sakit hati ke tikus, jangan dibakar lumbungnya. Jangan mematikan cahaya orang lain, tapi ciptakan cahaya sendiri yang lebih terang. Maka berdirilah balai pengobatan pertama di Kota Bukittinggi, yang lahannya merupakan hasil sumbangsih dari umat. Perlahan balai pengobatan ini dibangun menjadi rumah sakit islam pertama di Bukittinggi. Perlahan setelahnya kemudian dibangunlah rumah skait-rumah sakit islam lainnya di beberapa tempat di Sumatera Barat: Payakumbuh, Padang Panjang, Padang, Simpang Empat dan Panti di Pasaman. Bahkan pendirian rumah sakit islam tersebut letaknnya selalu berdampingan dengan gereja. Ya, kos-kosan saya yang letaknya persis di sebelah RSI Yarsi, itu juga letaknya persis di belakang gereja, makanya saban tiap minggu saya juga mendengar lonceng gereka menggema-gema. RSI Yarsi Payakumbuh juga berdekatan dengan gereja, di Panti Pasaman apalagi, di sekitarnya kebanyakan gereja. Intinya adalah: Menyalakan lentera islam di pusat pengaruh agama lain.

Sedikit saya tambahan cerita, karena Rumah Sakit ini masih kekurangan tenaga kesehatan, terutama perawat, maka Yayasan Rumah Sakit Islam ini kemudian mendirikan Sekolah Pendidikan Perawat pertama di Bukittinggi, yang dalam perjalanannya sangat terkenal di Sumatera Barat, yang setelah bertahun-tahun kemudian bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan dengan program pendidikan DIII Keperawatan, Pendidikan Sarjanan Keperawatan dan Ners (tempat saya mengabdi), Program Studi DIII Kebidanan, bahkan saat ini di tahun 2015, YARSI Sumatera Barat sudah mendirikan sebuah Univeristas bernama Univeristas Moh. Natsir.

Itu semua merupakan cita-cita dari para pendahulu yang tidak ingin islam memudar di Sumatera Barat, dengan kepemimpinan dari seseorang yang taat kepada Allah, yang karena ketaatan dan santunnya, Beliau begitu pandai menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Ingat betapa bijaknya rasulullah ketika mengajak pamannya Abu Thalib??

Kemudian cerita Ustad ngalor ngidul agak kemana-mana, yang penting intinya bagus😀

  • Kalaulah tahu manusia tau subuh berjamaah sama dengan solat sunah semalam suntuk.
    Kalaulah manusia tau solat isya berjamaah itu sama faedahnya dengan solat sunnah setengah sunnah semalam.
  • Yang sulit untuk melakukan solat subuh dan isya berjamaah, adalah orang yang munafik.
  • Mau sekaya apapun orang, sehebat apapun orang, pasti masuk mesjid (*setidaknya sekali ketika mati).

2. Berakhlak Mulia

Ustad mengambil contoh betapa mulia akhlak dari Buya Hamka yang bersedia mengajarkan islam kepada Ir. Soekarno di hari-hari terakhir beliau, bahkan beliau sendiri yang menjadi Imam solat ketika Ir.Soekarno wafat, MESKIPUN  di dalam perjalannya,  Ir. Soekarno pernah memenjarakan Buya Hamka.

Sebanyak-banyak apapun ustad memberikan ceramah, belum tentu didengarkan umat. Tapi sekali walikota mengeluarkan perintah dan peraturan, akan dipatuhi oleh masyarakatnya. (*Saya teringat tentang urgensi kenapa pemimpin itu haruslah orang silam yang taat, dan teringat berita yang sednag viral: perda sayriah yang dipertahankan Ust. Mahyeldi walikota Padang)

3. Sabar dan Pemaaf

Saya tidak begitu mendengarkan penjelasan untuk ini (et causa saya tetiba skait perut dan musti segelah ke toile gegara kalikih santan kebanyakan susu maybe *haruscurhat*), kira-kiranya mirip lah dengan contoh Buya Hamka dengan Ir. Soekarno di atas

4. Silau dengan Dunia

Ustad Kembali ke cerita M.Natsir  tentang jangan padamkan cahaya orang, tapi perkuat cahaya kita. Tentang Buya-Buya kita terdahulu yang hidup dengan sederhana, tidak silau dengan harta dunia. Tentang betapa sederhannya hidup Moh.Hatta.

Silau dengan dunia adalah faktor predisposisi terbesar pemimpin-pemimpin yang korupsi.

Hokeeeeh, sekian postingan kali ini. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua😀

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s