Bangsa Indonesia

~Suasana mati lampu tanpa adanya aliran listrik sungguh merupakan momen langka untuk sejenak menjauhkan diri dari hingar bingar suara TV, suara ribut keluarga yang menonton sinetron, bunyi mp3, bising tambahan dari games yang dimainkan adik, pun seharusnya merupakan momen baik untuk menjarak dari yang namanya gadget. Kembali menghimpun ingatan dan motivasi untuk sesuatu yang selalu ditunda-tunda demi uzur yang disebabkan oleh kesenangan dunia bernama: media elektronik.

Ini tulisan ‘semi serius’ pertama saya di bulan Agustus. Banyak hal yang ingin saya tulis secara random di blog. Tapi sering terkendala di motivasi dan semangat diri. Sampai akhirnya ada momen mati lampu begini.

Sengaja saya posting melalui path, yang akan otomatis dishare langsung ke blog, karena saya tidak punya paket data yang adekuat untuk memposting foro sekaligus tulisan di aplikasi WordPress. Saya tidak memiliki ekspektasi tulisan ini akan dibaca banyak orang (karena tulisan ini sangat membosankan), saya hanya ingin menulis. 😊

°°°°°°°°°°°°

17 Agustus. Jika tidak salah, sudah 26 kali momen 17 Agustusan terjadi di dalam kehidupan saya. Meski tidak semuanya yang dapat saya ingat, 17 Agustus seringkali identik dengan masa dimana seluruh rakyat Indonesia mendadak memiliki jiwa Nasionalisme yang meningkat beberapa skala. Yang ditandai dengan pengadaan atribut berwarna merah-putih, gapura 17 Agustusan (*saya selalu senang dengan pembuatan gapura, meski saat ini sudah tidak banyak yang melakukannya), upacara bendera, marching band, pawai, sepeda hias, beragam perlombaan rakyat demi menyemarakan perayaan HUT Republik Indonesia.

Hari dimana kita begitu merasa bangga menjadi bagian dari bangsa yang besar bernama Indonesia, dengan segala perjuangan dari para pahlawan kemerdekaan. Sejenak berusaha untuk melupakan tentang beragam problematika bangsa. Tentang ketidaksukaan kita terhadap pemimpin negeri, tentang kacaunya sistem pendidikan, ekonomi yang carut marut, korupsi, dan sederet permasalahan bangsa yang tidak habis jika dibahas.

Tema tentang: “Apa makna kemerdekaan bagimu?”-pun santer menjadi trending topik di TV-TV. Pada umumnya mereka menjawab: merdeka adalah kebebasan. Bebas berekspresi, berpendapat, kebebasan yang bertanggungjawab. Namun saya belum pernah mendengar pembahasan tentang:”Bagaimana cara Anda mencintai Indonesia?”. Ya, cinta! Bagaimana caranya?. Mencintai Indonesia itu tidak cukup hanya dengan penyampaian “Indonesia tanah yang kucintai” di postingan socmed saja, atau semacam postingan ucapan selamat HUT RI sambil melampirkan foto selfie di upacara bendera. Cinta itu adalah kata kerja. Dibuktikan dengan perbuatan dan aksi.

Jujur, jika saya yang mendapatkan pertanyaan seperti ini, saya tidak akan lagi berani menjawab dengan,”Belajar yang rajin, kemudian mengabdi kepada bangsa Indonesia, ikut berpartisipasi dalam pembangunan negara”-seperti jawaban yang saya tulis di dalam soal esai ujian PPKn belasan tahun yang lalu- Itu terlalu teoritis. Indonesia membutuhkan sesuatu yang konkrit yang bisa diberikan oleh pemuda dan pemudinya dan memiliki efek yang baik.

Dan saya masih belum merasa telah memberikan sesuatu yang nyata sebagai bukti kecintaan saya terhadap Indonesia. Segala yang saya lakukan sampai saat ini, masih sebatas pemenuhan ambisi dan kebutuhan hidup yang merupakan bagian dari tahap pencapaian cita-cita yang sungguh masih berorientasi pada diri sendiri.

Sebagian besar pemuda Indonesia (atau mungkin hanya saya saja) belum menterjemahkan rasa cinta itu kepada sesuatu yang bermanfaat (bernilai positif) atau, sesuatu hal baik yang saya lakukan, belum mengarah kepada pembuktian kecintaan kita kepada Indonesia.

Jadi, bagaimana caranya?

Ya, bagaimana caranya? Itu adalah pertanyaan besar yang harus kita tanyakan kepada masing-masing diri pribadi, karena hanya kita yang bisa mengukur kemampuan diri sendiri.

Mencintai bangsa bukan berarti semua kita harus menjadi politisi yang berlomba mencapai kekuasaan demi memiliki akses pembuatan kebijakan-kebijakan strategis, atau olahragawan berprestasi dengan beragam medali yang sudah jelas-jelas mengharumkan nama bangsa.

Mungkin, Kita bisa berbakti kepada Republik ini melalui profesi-profesi yang kita jalani saat ini.

Seorang guru yang mengajar sepenuh hati dan ikhlas, akan ikut mencerdaskan anak-anak bangsa.
Dokter, perawat, apoteker, bidan, dan paramedis lainnya yang bekerja dengan baik, akan ikut menyehatkan rakyat.
Insinyur, arsitek, pengusaha, turut memegang andil untuk pembangunan bangsa.
Petani, peternak, pedagang, menjadi salah satu aspek dalam membangun perekonomian negara.

Jika tidak mampu untuk berpartisipasi dalam lingkup yang luas, bahkan ketika kita bersikap baik dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak lingkungan, tidak melanggar aturan lalu lintas, mengantri dengan baik, mengunjungi tetangga yang sakit, ikut bergorong royong bersama masyarakat, menghemat penggunaan listrik dan air, tidak merokok, tidak mencoret tempat umum, taat aturan, patuh pada nasehat guru, merupakan bukti kecil kecintaan kepada tanah air.

So simple, Namun jika seluruh rakyat kompak untuk melaksanakannya, saya yakin, kita akan menjadi bangsa yang tidak melulu melakulan pemberontakan dan mendadak menjadi pengkritik hebat terhadap pemerintah.

Ah, mungkin salah satu bukti kecintaan itu adalah dengan mengurangi buruk sangka terhadap Pemerintah dan memperbanyak berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk kesejahteraan rakyat dan Indonesia yang lebih baik, Ni.

#NTMS

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s