20 Agustus 2016

Ini adalah ibu/mama, saya sering memanggil beliau dengan “Ama” atau “Siomai” (*karena Ama akrab disapa ‘amai’ oleh keponakan-keponakan dari keluarga Apa, saya ikut-ikutan mentertawakan beliau dengan tambahan “siomai”, karena itu lucu).

Kami bukanlah tipe ibu-anak perempuan romantis, yang sering berpelukan atau cipika-cipiki, seperti yang banyak orang posting di social media. Namun, tangan beliau adalah tangan tersyahdu yang pernah saya cium, tangan yang membuat hati saya bergetar hebat hanya dengan menjabat untuk kemudian menciumnya khidmat.

Saya hanya sering memeluk beliau dari belakang, ketika kami sama-sama menghabiskan waktu bercerita panjang lebar di kamarnya, ketika beliau kemudian tertidur membelakangi saya yang sibuk dengan android, punggungnya adalah bagian ternyaman untuk dipeluk. Wanginya menyegarkan, posisi terhangat yang menjadi favorit saya bertahun-tahun.

Saya tidak pernah berbisik,”I love you Mom, Ani sayang Ama” kemudian mencium pipi beliau. Tidak… Tidak pernah sejak saya beranjak dewasa. Itu akan menjadi awkward di keluarga kami, kami bukan tipe keluarga romantis begitu. Tapi saya paham, Ama tahu persis bahwa cinta dan rasa sayang yang saya miliki terhadapnya, tidak akan pernah terukur, begitu mendalam, meski saya tidak pernah mengungkapkannya Secara langsung. Ya, saya ingin membalas cinta Ama kepada saya, yang meski tak pernah beliau ungkapkan, namun selalu tergambar dari setiap perbuatan yang ia lakukan.

Foto di atas saya ambil secara random. Niat awal hanya ingin mengajak Ama berfoto berdua (*hal yang jarang kami lakukan), sebelum mobil travel datang menjemput saya ke bandara. Tahu anaknya akan merantau lama, Ama secara spontan lalu mencium saya seperti ini, tanpa aba-aba, tanpa kode, tanpa request-an dari saya agar foto terlihat romantis seperti yang banyak orang kirim ke instagram. Saya benar-benar tidak bisa menahan air mata Saat itu. Di sana hanya ada saya dan Ama (Adik-adik sudah berangkat sekolah, Apa sudah kembali ke Dharmasraya). Saya benar-benar tidak ingin kepergian saya untuk melanjutkan kuliah kali ini dibuat dramatis, bahkan saya sama ssekali menolak ketika ditawari Ama untuk diantar langsung ke bandara. Bahkan ketika melepas saya kuliah S1, Ama cuma cipika-cipiki biasa sebelum saya naik bus, hanya saat pertama kali mengantar naik bus, bukan mengantar langsung ke Padang (saya sudah dibiasakan mandiri sejak lulus SMA), naik bus berikutnya kami santai.

Namun kali ini berbeda. Travel datang, saya tidak sanggup untuk tidak memeluk dan mencium syahdu kedua pipi Ama, kemudian menangis haru. “Anak Ama berangkat berjuang menuntut ilmu”, bisik Ama sambil menahan gerimis di matanya.

Oh God… Saya benar-benar benci drama yang seperti ini terjadi di kehidupan nyata. I wanna go as cool as i am before. Tapi mengenang apa yang telah Ama berikan selama ini membuat saya merasa haru, sedih, cemas, takut. Saya akan pergi untuk beberapa waktu, bukan berjarak rumah-padang, atau rumah-bukittinggi yang bisa membuat saya pulang kapan saja. Saya tidak akan sering pulang kali ini. Bagaimana jika Ama sendirian di rumah? Bagaimana jika Ama sakit? Bagaimana jika Ama tidak bisa membayar sendiri tagihan BPJS nya? Bagaimana jika gula darah Ama naik? Bagaimana jika adik saya membuat ulah dan Ama kerepotan mengurusnya? Bagaimana jika Ama merasa kesepian, mengingat saya dan menangis dalam kesendirian? Bagaimana jika Ama kemudian mendapatkan firasat buruk seperti mimpi buruknya tentang saya beberapa waktu lalu dan mulai paranoid sendiri?

Begitu banyak hal yang saya cemaskan, sebanyak hal yang ingin saya lakukan untuk Ama dan Apa. Saya benar-benar ingin menjaga dan mengabdi untuk keduanya di hari tua mereka. Posisi saya sebagai anak saat ini, adalah seperti posisi kedua orang tua saya ketika mengayomi kami ketika kecil. Ada banyak hal yang sudah terbatas untuk mereka lakukan dan membutuhkan kita anak-anaknya sebagai perpanjangan tangan.

Untuk itulah saya ingin selalu hadir di setiap kali mereka membutuhkan, setiap mereka inginkan, mendampingi keduanya mewujudkan impian-impian masa muda yang tertunda karena mereka lebih memprioritaskan kami anak-anaknya.

Saya ingin mereka mengetahui apa yang saya ketahui, mencoba hal-hal seru yang pernah saya lakukan, memakan makanan enak yang pernah saya rasakan, bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi, menggunakan teknologi yang bahkan tidak pernah mereka pikirkan. Saya ingin melakukan semua itu. Saya tidak ingin mereka hanya mendorong kami untuk melaju begitu jauh dan kemudian meninggalkan mereka di belakang. Saya betul-betul ingin merawat keduanya, meski Ama dan Apa tidak pernah meminta.

Mereka adalah cinta terbesar saya terhadap manusia, sejak pertama mengenal dunia.

Dear Rabb, kuserahkan penjagaan atas kedua orang tuaku, keluargaku, kepada Engkau Sang Maha Pengasih lagi Penyayang, ketika tanganku tak sampai kepada keduanya, ketika langkahku berada jauh dari keduanya.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s