A milestone

Halo blog!

Waktu sudah menunjukkan pukul 22:37, cukup larut untuk memulai untuk sebuah tulisan. Begitu banyak hal yang ingin saya tulis dan ceritakan, namun rentetan kisah ini masih belum menemukan ujung dan titik terangnya sih, jadi saya bingung juga bagaimana menggambarkannya, *bicara opo tho Ini… * Masih begitu banyak misteri dan pertanyaan yang belum terjawab, sehingga saya memutuskan untuk menunda menuliskannya. Namun akhirnya saya sadar, apa yang ada di benak saya saat ini, tidak ada yang bisa menjamin ia akan muncul lagi besok, minggu depan, atau bulan depan. Jadi, saya memutuskan untuk bercerita. Sebuah pencapaian dalam kehidupan, a milestone. Saya tidak tahu akan berujung seperti apa, namun yang pasti adalah, saya sangat berusaha untuk menikmatinya. Dengan penuh kebahagiaan tentunya.

Oke, finally… Akhirnya saya sudah berada di sini. Di tempat yang bahkan saya sendiri tidak begitu paham kenapa Allah pada akhirnya membuat saya terdampar di sini. Awalnya saya berpikir ini menyedihkan, bodoh, sia-sia…  :)  Saya akhirnya memilih tempat ini! Dengan keputusan tiba-tiba, tanpa persiapan yang pada akhirnya membuat saya terpuruk kepada pilihan-pilihan yang menurut orang-orang bodoh lainnya.

Dan tempat lain yang begitu saya idam-idamkan dan persiapkan semenjak lama, pada akhirnya saya menyadari Allah belum membukakan jalan ke sana, saat ini. Mungkin nanti, mungkin dua tahun lagi, mungkin 3 atau 4 tahun lagi, atau bisa jadi besok pagi!🙂 Who knows? Namun yang pasti, saya tidak pernah, even one inch in my heart, giving up to my dreams.

Saya sedikit sedih di awalnya, bukan karena kegagalan No, sekali lagi bukan karena gagal mengambil kesempatan kuliah ke luar negeri…, namun saya sedih dengan sedikit penyesalan karena tidak mempersiapkan plan B untuk keputusan mendadak saya memilih UI sebagai pelabuhan pendidikan berikutnya. Sehingga saya harus kocar-kacir mencari beasiswa di last minute pendaftaran ulang. Sesuatu yang seharusnya saya lakukan berbulan-bulan lalu.

Namun saya tidak pernah menyesal telah menghabiskan nyaris 2  tahun untuk persiapan ini itu demi mewujudkan impian bersekolah di kampus idaman. Saya tidak menyesal dengan kegagalan saya di dua seleksi AAS, tidak lolos seleksi beasiswa ke Prince Songkhla Thailand, gagal follow up seleksi masuk ke Cheng Kung University Taiwan, atau tidak melanjutkan LoA Conditional yang saya dapatkan dari Monash University awal tahun 2016 lalu. Fiuf… hidup saya sudah dipenuhi dengan banyak kegagalan, actually. Saya yakin, ini belum seberapa, masih banyak orang yang lebih berdarah-darah perjuangannya dibanding apa yang telah saya hadapi. Tapi banyak hal yang saya pelajari dari perjalanan ini.

Pun saat ini, saya masih berusaha untuk memetik hikmah, menemukan pelajaran berharga akan maksud dan tujuan Allah membelokan hati saya untuk akhirnya mendaftar seleksi masuk Universitas Indonesia bulan April lalu. Ya, sebuah keputusan dadakan! #FYI saya baru mendaftar seleksi online itu di H-2 penutupan, dan itupun saya lupa melampirkan ijazah SMA yang dipersyaratkan oleh Fakultas Ilmu Keperawatan. Tak banyak waktu yang saya punya untuk belajar TPA (Tes Potensial Akademik), yang notabene, kata teman-teman merupakan kunci standar kelulusan di Magister UI. Saya hanya sempat fokus belajar sekali-dua kali di kosan, di pesawat (*walau akhirnya gagal karena membaca fokus di pesawat itu bikin motion sickness ).

Tapi semuanya seperti mengalir begitu saja… lancar jaya, tanpa halangan yang begitu berarti. Saya tak perlu repot memikirkan penginapan karena ada Tante di Beji Depok yang begitu memfasilitasi, kamar yang nyaman, disediakan transportasi pribadi, sarapan dan makan tinggal ambil, dikasih petunjuk bagaimana mencapai kampus UI, kemudian ada senior yang tetiba ketemu di jalan dan bersedia mengantar keliling UI, melihat lokasi ujian, nunjukin jalan resmi via gerbang utama UI (karena saya taunya cuma jalan alternatif lewat belakang kampus). Besoknya saya datang tepat waktu, mengerjakan soal-soal TPA dengan baik, meski ketika ujian bahasa Inggris saya sempat sakit perut dan musti ke kamar mandi dulu, kemudian ada teman-teman yang datang kasih support, ngajak main, ngajak ketemuan, makan-makan. Mungkin ketemu jodoh itu begini ya? Lancaaaaaaaaaaaar saja semuanya. Namun saya juga yakin ini berkat do’a kedua orang tua. Karena Ama dan Apa jaaaaauuuuuuuh lebih bahagia dan bersemangat ketika saya mengumumkan sekaligus meminta izin untuk ikut tes mengambil spesialis di UI ketimbang ketika saya memberi tahu bahwa saya mendapatkan LoA dari salah satu Universitas di Australia.

Well, akhirnya pengumuman itu membawakan sesuatu yang menyenangkan. Membahagiakan awalnya, namun bikin nyesek karena saya tidak ada persiapan beasiswa untuk ke UI sama sekali. Hahahahaha. Banyak yang menyayangkan, but well… show must go on… saya tidak ingin menunda lagi, dan saya yakin, seyakin-yakinnya… bahwa pintu rezeki Allah itu sangatlah luaaasss, ada dimana-mana… Tak terhingga… Saya meminta kepada Allah agar dilapangkan rezeki untuk menyelesaikan 3 tahun pendidikan, tepat waktu tanpa kekurangan dana, diberikan pundak yang kokoh, tubuh yang sehat, otak yang lebih cerdas untuk menjalani perkuliahan yang konon kabarnya berat, juga saya berharap Allah segera menjawab pertanyaan-pertanyaan, kegelisahan yang masih saya rasakan saat ini, yang saya juga yakini cepat atau lambat jawaban itu akan memenuhi dahaga keingintahuan dan misteri saat ini.🙂

14184506_10208918334888862_4044977740976628755_n

14222190_10208918432731308_7915419937627389264_n14192191_10208918454451851_1409549721522835924_n

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

6 Responses to A milestone

  1. Semangat! semoga lancar jaya studinya, seperti halnya ketika berjodoh dengan Jakarta🙂

  2. Sandurezu サンデゥレズ says:

    Waah, kak aini.. Dreams has to be made, but still, Allah will decide. And His decision is only if we belive, that’s the best. Ganbatte kak!

    • I try my best to keep the positive mind Aan, insyaaAllah this is the best way ever, just wait and see what He want me to understand… however life must be go on, and time will answer all the todays question🙂

  3. Ami says:

    Kak Aini,perjuangan yang luar biasa. Dari beberapa orang yang ami dengan ceritanya, mereka rata-rata udah melewati serangkaian ujian yang nggak mudah. Tapi, di tempat sekarang, bukan berarti buruk, kan, Kak? Semoga dimudahkan Allah untuk meng-upgrade diri, pengetahuan, dan keterampilan di sana ya, Kak🙂 Semangaat!

    • Hahaha, Amiii… Iya Ami, kita tidak tahu ke depan seperti apa. Bergulat dengan pemikiran buruk saat ini sebenarnya hanya kesia-siaan belaka. Jangan sok tahu dengan rencana Allah namun tetap berpikiran positif, sepertinya itu yang harus kakak lakukan ;D
      btw, ini belum seberapa dibandingkan perjuangan yang lain Mi, kakak masih sama-sama belajar dnegan para pejuang terdahulu.
      Thankyou for your support ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s