Konsep(?) Persahabatan

Persahabatan.

Saya tidak tahu bagaimana lagi mendeskrispsikan kata-kata persahabatan. Sudah terlalu banyak para ahli bahasa, pakar kata, beragam sumber dan opini publik yang memberikan definisi untuk sebuah kata persahabatan. Namun percakapan saya dengan seorang kakak senior di pagi menjelang siang itu, ketika kami sama-sama berkutat dengan tugas di Perpustakaan, semakin membuka wacana saya tentang definisi ‘sahabat yang baik’ itu seperti apa.

Percakapan dimulai ketika beliau (senior), memperlihatkan kepada saya betapa happy dan hebohnya grup WhatsApp teman seangkatannya di perkuliahan. Benar-benar terlihat akrab, kemudian kakak itu bercerita: “Tapi tidak semua anggota kelas yang gabung di sini Ai, masih ada yang belum. Kakak tidak tahu kenapa teman yang satu itu belum di-add, tapu menurut teman-teman, mereka kurang sreg dan kurang nyambung untuk mengajak si teman itu untuk diskusi gaje di grup WA”.

“Memangnya kenapa kak?”, Saya benar-benar tidak ingin mempergunjingkan orang, namun saya benar-benar penasaran, apa gerangan hal yang menyebabkan salah seorang teman dikucilkan kelompoknya begitu.

“Kami baik-baik saja selama berinteraksi di dunia nyata. Namun ada beberapa sifat dia yang tidak disukai teman-teman. Dia terlalu ambisius terhadap pencapaian sesuatu”.

“Terus, apa hubungannya dengan grup kak?”

“Ya, karena ambisinya itu, dia ingin menang sendiri Ai, tidak ingin mengalah, menganggap dirinya lebih pintar dan hebat dari pada yang lainnya. Bahkan dari cara berkomunikasi, seperti meremehkan dan menganggap rendah orang lain. Kami sungguh tidak menyukai orang yang selalu menimbulkan aura persaingan begitu”.

Ups… Saya tahu persis, selalu ada satu atau dua orang yang akan muncul di dalam grup, dengan sifatnya yang tidak disukai. Menjadi duri dalam daging, membuat orang-orag menjadi seperti bermuka dua. Baik di depannya, namun mempergunjingkannya di belakang.

Mau tidak mau saya lantas teringat dengan sahabat-sahabat karib yang sudah membersamai saya lebih dari 5 tahun belakang ini. Kemudian saya tersenyum mengenang setiap perjalanan kami. Baik dalam perkuliahan, aktivitas di luar kampus, menggores impian, bahkan ketika melakukan hal-hal tidak penting lainnya. Saya menarik benang merah, bahwa dalam sebuah persahabatan, butuh sifat rela, tulus, dan saling support! Seperti halnya jari-jari tangan, ketika ada salah satu jari yang terluka, maka jari-jari yang lain akan turut membantu untuk menggentukan perdarahan, mengobati. Ketika ada makanan, maka jari-jari bekerjasama untuk mengambilnya. Tidak bisa hanya jempol yang beraksi, tidak bisa hanya telunjuk saja yang bergerak. Bahkan ketika ternyata si manis lah yang terpilih sebagai pemakai cincin cantik, maka jari-jari lain tidak pernah protes, mereka hanya mengaminkan karena mereka sadar dengan hanya si manis yang memakai cincin saja, maka mereka akan ikut kecipratan cantiknya.

Saya juga teringat dengan momen-momen membahagiakan yang beberapa teman saya raih, dan kami semua berame-rame mengucapkan selamat, mendoakan. Tidak ada yang diam-diam membenci, menikung, saling menyembunyikan informasi, atau menganggap saingan sahabat yang lain.

Maksud saya begini, di dalam kehidupan ini tentu semua orang ingin menjadi yang terbaik, menjadi yang terunggul, mencapai prestasi dan sederetan ambisi lainnya. Namun yang perlu digarisbawahi adalah, lakukanlah semuanya secara sportif. Sportif dalam berarti, lakukan yang TERBAIIIK yang bisa kita lakukan, maksimalkan usaha, maksimalkan doa dan tawakal, NAMUN tidak perlu menganggap orang lain sebagai saingan yang harus dibasmi, dimusnahkan, ditikung, yang kemudian kalau ada informasi tentang sesuatu ditutup-tutupi. Apalagi mengkerdilkan orang lain dengan argumen-argumen pedas yang menyakitkan. Menurut saya, orang yang senang bersaing kemudian juga suka “membuat rendah” orang lain adalah orang-orang yang memiliki low self confidence. Ya, dia terlalu tidak percaya diri dengan kemampuannya, sehingga harus menjatuhkan orang lain. Hei dear, rezeki itu tidak akan kemana, takdir Allah tidak akan pernah tertukar.

Saya juga pernah berada dalam kondisi yang membuat saya mau tidak mau secara langsung harus bersaing dengan sahabat-sahabat dekat saya dalam meraih sesuatu. Namun kami saling mendukung dan sharing informasi, tanpa berusaha menutupi peluang yang lain untuk melakukan hal termaksimal yang bisa mereka lakukan. Kita berjuang bersama-sama. Bahkan ketika yang berhasil lulus hanya 1 di antara kami bertiga, kami semua ikut merayakan kebahagiaan si teman yang berhasil. Saya pribadi tentu sedih, namun kesedihan itu bersifat sementara karena kekecewaan kegagalan saya pribadi, namun bukan kesedihan terhadap keberhasilan sahabat saya. Hehehe, tolong dibedakan antara kesedihan karena kegagalan pribadi dengan kedengkian atas keberhasilan orang lain. Terdengar munafik? No! It’s happened! Dan tentu saja bisa terjadi.

Memahami konsep ini memang rumit, serumit kita belajar tentang keikhlasan. Namun ingatlah, rezeki tidak akan pernah tertukar, dear. Sehingga tidak perlulah cara-cara busuk yang membuat teman-teman kita terganggu secara tidak langsung. Mungkin mereka tidak menyampaikannya di depan kita, namun siapa tahu di dalam hati atau di belakang kita mereka sibuk membahas tentang sifat jelek yang kita miliki.

Menjadi sahabat yang membuat setiap orang bisa dengan nyaman dan terbuka itu, ya harus dimulai dari diri sendiri untuk menjadi sosok yang nyaman dan terbuka dengan orang lain. Saling membantu dan mensupport tentu akan menjadi pengokoh persahabatan kedepannya.🙂

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

3 Responses to Konsep(?) Persahabatan

  1. Sandurezu サンデゥレズ says:

    Setuju kak.. 😊

  2. persahabatan sejati yaitu sehati dan sejalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s