Flashback Keluarga Cemara

Kemaren ketika di kelas, salah seorang teman bercerita tentang cemilan bernama Opak (opak ya bukan Opa, Opa mah di Korea.. 😀 ). Ketika mendengar kata-kata Opak, saya langsung teringat sesuatu:

“Eh, itu cemilan yang dijual teh Euis keluarga Cemara bukan sih?”
“Iyaaaa Betuuuul Ainiii..”

Jadilah percakapan merembes ke Sinetron ngehits era 90-an, Keluarga Cemara. Bahkan kita menyanyikan Original Soundtrack nya yang terkenal itu,”Selamat pagi Emak… Selamat pagi Abah”.

Malam nya, saya iseng nonton Youtube. Buka-buka acara talkshow TV yang tida sempat saya tonton. Mana tau ada yang menarik. Awalnya ngebuka Initalkshow yang mengundang seleb sekaliber Agnes yang nostalgia bersama Indra Bekti dan Syahrul gunawan, dan eng ing engg… Di halamannya juga ada ini sodara-sodara: Reunian Keluarga Cemara di Hitam Putih!!!! Aaaaaaakkkk…..

Hasil gambar

Keluarga cemara.jpg

Saya kangeeen plus terharu banget melihat Abah yang sudah tua dengan rambut memutih, tapi masih dengan gaya berbicara yang sama persis dengan Abah di Keluarga Cemara. Di sana juga hadir Teh euis dan Agil yang sudah dewasa, juga Tante Pressier dan Pipin.

Alhasil, semalaman itu saya stalking lagi sinetron keluarga Cemara yang ternyata sudah banyak link nya di Youtube (Thanks to Youtube founder! Youtube menyajikan acara yang saya inginkan yang mungkin tidak akan pernah ada di program TV biasa).

Menonton kembali Keluarga Cemara, saya seperti sedang menaiki kapsul waktu menuju tahun 1996, dengan gaya hidup familier seperti saya di masa kanak-kanak. De Javu, dengan kondisi rumah keluarga Abah yang sederhana, feels like Hommy banget, dengan air pancuran, kandang ayam, taman bunga, jalan setapak di samping kolam ikan yang teduh dengan pepohonan. Aaaaakk… itu gambaran rumah impian yang sering saya lukis ketika kanak-kanak, bukan rumah mewah dengan perabotan mahal dan mobil di depannya!

Hasil gambar

Berbicara tentang episode yang paling berkesan, saya selalu ingat dengan Cemara yang waktu itu naksir botol air minum bekas yang dijual mamang pedagang keliling, padahal harganya cuma 1200 perak, tetapi Ara tidak berani meminta uang kepada Emak dan Abah karena ia paham dengan kondisi ekonomi keluarga yang sulit. Terus, perjuangan teh Euis yang ingiiiin sekai menyenangkan adik-adiknya dengan cara membelikan karcis untuk naik komedi putar. Tapi sayang, uang hasil jualan opak yang dikumpulin teh Euis tercecer di jalan. Agil menangis, kemudian teh Euis menggendong Agil di punggung dan berlari mengelilingi komedi putar (sedih banget gue nontonnya). Akhirnya Ara merelakan uang yang seharusnya ia kumpukan untuk beli botol air minum, sebagai pengganti uang teteh demi membelikan Agil karcis komedi putar. Terus ada juga adegan mengahrukan waktu Ara masuk TK untuk pertama kalinya, coba perhatikan kantong plastik yang dijadikan Ara tas, itu kan kantong bekas pembungkus sendal jepit zaman baheula! Ah, asli mewek banget mengingat kesederhanaan keluarga ini. Udaaah… Nonton sendiri aja deh! Hahahha…

Hasil gambar

Hasil gambar

Ara dan Agil yang ‘mupeng’ ketika mendengar cerita teman-teman tentangga sebelah tentang Komedia putar.

Keluarga Cemara, sinetron sederhana yang kaya akan nilai-nilai pekerti, mengajarkan anak-anak bagaimana harus bersikap dengan baik, bagaimana menjaga tingkah laku terhadap orang tua dan teman, dengan konflik-konflik sederhana yang sering terjadi di keseharian. Nasehat-nasehat Abah sangat rasional, menyentuh, tepat sasaran. Secara langsung juga mengedukasi anak-anak yang menonton. Coba bandingkan dengan emak-bapak di sinetron zaman sekarang!

Oia, di sini saya juga menemukan scene ketika Teh Euis pertama kali datang bulan, Mak langsung mengedukasi Euis tentang apa artinya Menstruasi bagi seorang wanita (*di sini gue langsung teringat mata kuliah “Kesper” Kesehatan Perempuan, tentang edukasi, next time bakal dibahas juga di blog ini)

Tanpa harus membahas secara mendalam, saya yakin anak-anak yang tumbuh di era tahun 1990-an sangat mengenal serial ini dengan baik, dan tentunya sangat sepakat jika sinetron-sinetron senada kembali diangkat ke layar kaca, demi menggerus pengaruh buruk dari sinetron kekinian Indonesia yang benar-benar minus dari nilai-nilai pekerti.

Semoga abah, sehat selalu dan tetap menginspirasi anak-anak Indonesia!!

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Flashback Keluarga Cemara

  1. Ketauan udah veteran, ehh… 😀

    *Cliiiing

  2. devi nuryani says:

    mungkin blm lahir, jd kurang tau dg keluarga cemara hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s