Train to Busan

Siapa yang sudah pernah menonton Train to Busan? Seru atau mengerikan? Bagi yang sudah berpengalaman nonton film horor atau thriller, mungkin menganggap Train to Busan tidak terlalu mengerikan atau menakutkan. Namun, bagi saya film Korea Train to Busan ini sudah lebih lumayan ketimbang beberapa film Korea yang sepertinya bagus, pemainnya cakep-cakep, tapi konten filmnya sendiri Gajeeeee, ga jelas, tidak spesifik pesan yang ingin disampaikannya. Jadi, meskipun Train to Busan berakhir sedikit mengenaskan (*bukan happy ending), bagi saya Train to Busan sudah cukup memberikan pesan-pesan etik yang disampaikan melalui scene-scene nya kepada penonton.

Diantaranya:
Melunturkan sifat egoisme individu, terutama karena manusia adalah makhluk sosial yang mana mereka harus memikirkan kepentingan orang banyak juga. Seperti tokoh Ahjussi kaya raya nan sombong yang ingin menyelamatkan diri sendiri dengan cara menyogok dan memaksa masinis kereta untuk menyelamatkan penumpang eksekutif saja. Ya, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan mengorbankan orang lain demi keselamatan pribadi.

Berbuat baiklah kepada siapapun tanpa memandang status, gelar, hubungan. Saya suka sekali dengan second lead character di film ini. Dia adalah seorang suami baik hati, yang selain berfokus menyelamatkan istrinya yang sedang hamil, tetapi juga menolong siapapun yang bisa dibantunya tanpa pandang bulu. Caharacter anak kecil disini juga sangat baik sekali. Dia bahkan menyadarkan ayahnya (yang merupakan tokoh utama di film ini) untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri.

***

Setelah menonton film train to Busan, setiap kali melihat pemandangan KRL Bogor-Jakarta Kota yang saban hari melintas di depan kosan, yang dipenuhi penumpang berdempetan di setiap pagi dan sorenya, mungkin saya akan langsung teringat kembali dengan zombie-zombie yang bergelimpangan di kereta ke Busan. Beringas mencari manusia hidup.

Yaa… meski penumpang yang bersusun rapat bak sarden di KRL tidak menggigit sih, tapi mereka menginjak kaki, dan mendorong, dan melihat bangku kosong sebagai sesuatu yang musti dipertahankan.

Kira-kira seperti itu.

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s