#MaternityStudentLife ~ Todays ‘Parenting Life’ Lesson

Sebelum mengerjakan tugas Sains Keperawatan yang membutuhkan konsentrasi tingkat dewa untuk menganalisis 10 jurnal ke dalam sebuah makalah (which is semuanya di dalam bahasa Inggris), saya ingin mengalokasikan sekitar 30 menit (dan kemunginan lebih hahahha) untuk menuliskan tentang pelajaran parenting yang saya dapatkan dari dosen hari ini, seorang dokter spesialis Obstetri Ginekologi di RSPAD Gatot Subroto. Ya, tangan saya sudah gatal sejak tadi siang untuk membaginya kepada teman-teman blogger.

Oh iya, sedikit penjelasan… Kuliah ini berjudul Pengkajian Maternitas Lanjutan, dan dengan beliau kami mempelajari topik: Pemeriksaan laboratorium dan skrining masa prenatal (masa kehamilan), penilaian kesejahteraan janin, dan pengkajian klinik pada periode intranatal. Saya tidak akan membahas konten materi secara teoritis, namun yang akan saya jabarkan malam ini adalah hal-hal menarik yang sifatnya lebih ke “Nasehat tentang kehidupan” yang beliau sampaikan secara lugas, tegas, meski terkesan sedikit menyindir (saya aja kali yang merasa disindir) hehehhe. Namun beliau sudah mengatakan sejak awal,”Saya menyindir Anda bukan karena saya tidak suka, tetapi biar sadar” Laaaah sukak-sukak dokter jee lah.

Sebagai pembukaan, beliau bertanya “Menurut Anda, kenapa AKI (Angka Kematian Ibu) di Indonesia meningkat? Padahal fasilitas kesehatan sudah banyak”. Kebanyakan dari kami menjawab: Karena faktor pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat, kesadaran yang kurang, akses menuju rumah sakit yang susah. Sampai akhirnya kami merasa disentil ketika beliau mengatakan: Ini… Tenaga kesehatan kok selalu menyalahkan pasien, apa apa salah pasien… yang mereka telat laah, gak bependidikan laah, yang miskin laah… tapi sering tidak mengevaluasi diri sendiri. Peningkatan AKI itu juga disebabkan faktor kelalaian tenaga kesehatan! Pasien datang udah kritis, ini malah obgyn nya kagak ada di RS, lagi praktek di tempat lainlah, yang cutilah, yang masih di rumahlah… trus perawat nya juga gak kreatif. Jujur, ini benar-benar fakta yang saya juga sering menemukannya di lapangan.

Kemudian beliau menyindir bidan, perawat, obgyn yang senangnya cuma pergi pelatihan kesana kemari tetapi ilmunya ga dipakai. “Jangan menjadi tenaga kesehatan yang biasa, jadilah tidak biasa (*saya suka bagian ini, inii… saya banget lah heheh). Jangan silau dengan gelar, gelar bisa dibeli, jangan ujug-ujug ingin cari duit, tapi coba ganti pola pikirnya menjadi: Duit yang mencari kita. Jangan berhenti belajar, orang yang berhenti belajar itu adalah manusia yang sudah mati sebelum dia mati”. *Kemudian hening*

Yang sangat saya senangi, meskipun beliau seorang dokter, namun sangat menghargai profesi keperawatan, benar-benar menganggap perawat sebagai mitra,”Perawat itu kuat, seteroong, 24 jam bersama pasien, saya aja sering nitipin pasien saya ke perawat. Makanya Saya tidak ingin pelit membagi ilmu, saya mau apa yang saya tahu kalian juga tahu, tapi waktunya gak cukup. Kalian juga harus banyak ikut pelatihan atau kalau perawat mau, ubah kurikulumnya, ini kalian kuliah 3 tahun? Tambah 1 tahun lagi untuk khusus belajar tentang USG (*beliau sangat menyarankan kami untuk belajar USG yang beliau sendiri mempelajarinya dalam 2 tahun), di luar negeri perawat sudah pada bisa nge-USG, kalian bukannya tidak boleh tetapi harus belajar dulu secara intensif. Saya tidak mau kalian hanya sejajar dengan dokter umum (nah lho!), saya maunya kalian lebih tinggi. Kalian kan sudah S2, S2 plus lagi. Jadilah cemerlang di profesi masing-masing”. Prospek kuliah 3 tahun saja sudah membuat keringat dingin begini, apalagi mau ditambah lagi jadi 4 tahun, ya Rabb… bener juga sih, kemudian beliau menutup dengan: “Belajarlah dengan cara mengajar, saya ingin kalian tidak hanya sibuk dengan cari duit di klinik. Tenaga kesehatan yang bagus itu bukan yang jam terbang prakteknya tinggi, tapi mereka yang juga mengajar, menjadi bagian di Fakultas, lakukan penelitian-penelitian”. Kalau yang ini saya amat sangat sepakat, ini juga mimpi dan keinginan saya untuk kelak tidak hanya berkutat sebagai dosen namun juga terjun ke ranah klinik dan berinteraksi langsung dengan pasien.

Kemudian kami lanjut membahas tentang segala rupa tetek bengek materi yang berhubungan dengan pemeriksaan klinis ibu hamil, dan ketika topik memasuki tentang kesejahteraan janin, berikut nasehat menohok dari beliau: (yang dimiringkan itu komentar ga penting dari saya)

Kalian tahu program 1000 Hari Pertama Kehidupan??” *Jujur saya baru mendengar tentang program 1000 HPK itu saat ini*. Dari survei yang saya lakukan, 99,99% pasien saya tidak tahu tentang program ini. 95,99% Obgyn juga tidak mengetahuinya, dan mungkin 99,99% perawat juga seperti itu. Rusaknya Indonesia itu by designed! Dirusak oleh ibu! Karena yang mendidik anak itu adalah ibu, ibu, dan ibu. Jadi sekarang kalau Jokowi ngaco, itu Mak-nya mungkin ga bener (*oups…) jika JK gak bener itu juga salah emaknya (*heleuh, padahal baruuu saja saya nonton trailer film “Athirah” di youtube, yang merupakan kisah ibu dari Bapak Jusuf Kalla… dan menurut saya Ibunya Pak JK sudah keren banget, hehheh… Saya tahu ini Cuma sekedar contoh saja). Program ini bukan baru-baru ini ada, tapi sudah sejak zaman dahulu, bahkan ajaran islam sudah menyampaikannya. Anak disapih sampai usia dua tahun”

Jadi guys, mengapa 1000 HPK??? Seribu hari disini adalah seribu hari pertama kehidupan, yaitu 270 selama masa didalam kandungan dan 730 hari selama masa 2 tahun pertama pasca lahir. Mengapa penting? Ini adalah masa pertumbuhan dan perkembangan seluruh organ dan sistem tubuh. Pada saat dilahirkan, bayi mempunyai organ yang hampir semuanya telah selesai dibentuk, diikuti dengan perkembangan pasca lahir. Ya, Seribu Hari yang Menentukan Masa Depan Bangsa… (Sumber)

Sumber gambar: DISINI

Orang tua itu berkontribusi pada rusaknya anak mereka bahkan sejak masih janin. Karena mereka tidak mempersiapkan konsepsi dan kehamilan dengan baik. Ibu tidak mendeteksi adanya penyakit-penyakit yang mungkin diturunkan, yang mana seharusnya mereka mengoreksi dulu penyakitnya sebelum hamil. Mereka tidak melakukan seleksi ketat ketika memilih pasangan hidup, seleksi yang saya maksudkan adalah: Seleksi kesehatannya; penyakit bawaannya mungkin, apakah dia thalasemia mungkin, yang mungkin akan berakibat pada janin yang dihasilkan nanti. Kalian tahu? Ibu atau Bapak yang merokok sudah merusak benihnya dari awal. Bukan hanya perokok aktif, termasuk juga perokok pasif. Dan itu kelak akan ditanya di akhirat, kenapa kamu merusak anakmu begitu!?! *Dear you smokers!!!! Kalian bukan hanya merusak kesehatan manusia yang hidup saat ini saja, juga merusak calon-calon penerus generasi. Camkan ituh!*

Ada tujuh langkah yang harus dilaksanakan untuk sukses dalam program 1000 HPK ini, empat yang paling penting diantaranya: 1. Kejujuran; anak-anak harus diajarkan untuk jujur, orang tua juga harus saling jujur 2. Harus mengajarkan anak untuk berbagi, jangan menjadi orang yang egois 3. Nutrisi, hindari pertumbuhan anak menjadi pendek dengan selalu memantau KMS, orang pendek itu ga bener, jarak otak dengan dengkulnya juga pendek (Saya gak percaya kalau ini maah, hahahah) 4. Intelektual. Kamu tahu berapa berat otak bayi ketika mereka lahir??? Gak ada yang pada memperhatikan atau bisa mengukur berat otak anak ketika lahir, kan? Paling cuma ngeh dengan Berat badan dan panjang badan lahir anak. You know what? Berat otak bayi ketika lahir itu adalah 300 gr, dan dalam 2 tahun pertama berkembang menjadi 1200 gr, meningkat menjadi 1400 gr ketika dewasa, YANG ARTINYA adalah: 400%  otak manusia berkembang pesat dalam 2 tahun pertama kehidupannya. Makanya dear you Mom (note for my self too), Jangan pernah anak itu dirawat oleh orang asing di dua tahun pertamanya, termasuk oleh neneknya. Kamu harus merawat anakmu sendiri! Berhenti bekerja di 2 tahun pertama! (gue merinding menulis ini)

Anda berpendidikan tinggi, lha anak di masa otaknya lagi cerdas-cerdasnya malah diajar dan diasuh oleh pembantu yang maaf, mungkin berpendidikan lebih rendah dari Anda. Bahkan pendidikan anak itu seharusnya sudah dimulai sejak masa intrauterin (masa kehamilan), biasakan membaca buku, bacakan dongeng untuk janin, suruh anaknya membaca sejak janin! (*kemudian saya bingung bagaimana caranya). Anak-anak bermasalah masa kini itu asuhan baby sitter! Yang setiap mereka nangis paling ujug-ujug mulutnya disumpal dengan dots berisi susu sapi. Harusnya para ibu yang memberikan ASI mereka langsung! Jangan jadikan anak-anakmu anak sapi (*hadeuh, sesak dada ainun mendengarkannya). Nutrisi itu bukan harus makanan mewah yang bernilai gizi tinggi. Kalian pernah mendengar anak tukang becak yang lulusan cumlaude? Anak orang miskin yang jadi juara nasional?? Memangnya mereka punya uang untuk memenuhi nutrisi anaknya secara mewah? Tidak… karena mereka miskin, mereka cuma bisa memberikan ASI, ASI nya lengkap dua tahun, anaknya diemong sendiri. Lah, kalau ibunya wanita karir, meski kaya raya, tetapi anaknya malah dibentuk dengan cara yang tidak berpendidikan. Mau seperti apa anak dewasanya, itu ditentukan dari bagaimana ibu merawat janinnya di 1000 hari pertama kehidupan (1000 hari: Masa kehamilan+2 tahun bayi lahir). Persiapkan diri tentang bagaimana Anda akan merawat anak, bahkan sejak masa konsepsi. (Termasuk selektif memilih pasangan ya dok? harus cari yang high quality juga begitu??)

Kemudian dokter tersebut mengisahkan bagaimana beliau benar-benar menseleksi calon istrinya, ia menikahi wanita, seorang dokter yang tidak ingin menjadi spesialis, karena ia butuh wanita yang bersedia merawat anak-anaknya sendiri, by her own hands, sehingga anak-anaknya kreatif, cerdas. Mungkin anak-anak yang mengonsumsi susu sapi dan dijaga oleh bukan ibunya ada juga yang jadi sarjana, sukses. Namun, perkembangan mental, sikap dan kreatifitasnya akan berbeda. Bonding dengan ibu kandung akan sangat jauh berbeda dengan orang asing. By the way Anak yang tidak lagi dirawat oleh ibu kandungnya adalah salah satu tanda-tanda hari kiamat.

Jadi tolong dikembangkan ini kepada pasien-pasien Anda. Itulah kenapa angka kematian itu naik, yang pinter kita-kita saja. Sedangkan masyarakat dibiarkan bodoh. Lah petugas kesehatannya cuma sibuk nyari duit (*deep sigh… ampunkan dosaaaaa kami ya Allaaaah….).

TERIMAKASIH UNTUK PELAJARANNYA HARI INI DOKTER…

~~~ Well, kami sekelas, yang merupakan perempuan semua, langsung ngap-ngapan dapat nasehat begini. Hampir keseluruhan anggota kelas adalah wanita karir semua, berasal dari institusi pendidikan atau Rumah Sakit, 80% diantaranya sudah menikah dan memiliki anak, bahkan ada yang baru punya bayi yang berusia 3 bulan, 6 bulan, dan mereka adalah pejuang ASI. Setiap break kuliah, langsung ngacir ke ruang ASI untuk pumping. Mereka juga rutin membawa makanan dari rumah, plus tabung air 1 liter untuk minum (*bahkan kemaren mbak-nya bawa tabung air 1.5 liter karena 1 liter sudah gak cukup) demi memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan untuk produksi ASI. “Memberikan ASI itu berat Ai, setelah anak nyusu itu rasanya nutrisi kita dihisap sampai ke tulang-tulang, bibir jadi kering kalau cairannya gak diganti”. Mereka yang merupakan student mom dan sudah sebegitu besar perjuangannya, masiiiiih juga merasa nge-jleb mendengar ceramah 3 jam dari dosen kami tersebut, merasa bersalah karena meninggalkan anak untuk kuliah (apalagi gue yang belum ngapa-ngapain, but at least saya merasa bersyukur karena belum menelantarkan anak siapapun saat masih kuliah begini hehehe. Dear my future children, ibu mau sekolah tinggi-tinggi supaya jadi orang pinter demi kalian, nak. hak hak hak😀). Dan sebagian besar (termasuk saya) langsung punya planning, untuk kehamilan anak berikutnya benar-benar harus direncanakan dengan baik masa kehamilan dan perawatannya. Hey you! Jangan bisanya cuma bikin anak doang, itu amanah yang harus dijaga. #NTMS

Sedikit tambahan serba-serbi informasi yang mungkin harus diketahui oleh para ibu hamil: Pada masa kehamilan, stres pada ibu hamil itu memberikan efek yang cukup signifikan pada perkembangan janin, faktor nutrisi tidak banyak pengaruhnya, susu hamil itu sebenarnya tidak terlalu bermanfaat. Menjaga gizi dengan baik dengan terutama pemenuhan asam folat itu jauh lebih penting ketimbang mengonsumsi susu kehamilan termasuk vitamin-vitamin (itu benda asing kata beliau).  Yang penting jangan sampai janin kekurangan oksigen (antisipasi bagi ibu dengan riwayat asma, dan para ibu hamil yang masih berkontak dengan asap rokok).

Sepertinya hari ini saya full belajar parenting life, karena kelar dari RSPAD, saya langsung balik naik kereta ke Mesjid UI untuk mengikuti ceramah Aa Gym yang lagi-lagi pembahasannya masih seputar masalah rumah tangga (ondeh mandeh, ndak ko lai mak)😦. Karena saya gak terlalu merekam (karena datang terlambat) saya belum bisa membuat note khusus tentang itu. Ok, semoga bermanfaat and… see you on the next topic!

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to #MaternityStudentLife ~ Todays ‘Parenting Life’ Lesson

  1. dpw says:

    Daku baca dari awal sampe habis, ni. Nyengir di akhirnya, pas baca dirimu dengerin ceramah aa gym. Ehem. Mungkin semacam kode alam, ni. Mungkin. Kiwkiwkiw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s