Stupefy

Halo Oktober! Postingan pertama di bulan kesepuluh dan kenapa begitu susah untuk duduk diam demi memulai sebuah tulisan? Sama susahnya dengan menerima kenyataan bahwa manusia seringkali gagal ketika mencoba untuk menjadi orang lain. Sebuah obsesi durjana yang kemudian menampar-nampar mereka sembari berteriak keras,”Hei, kurang apalagi pemberian Tuhanmu sampai kau begitu kurang ajar tidak mensyukuri nikmat-Nya?”. Sebagian ada yang menyerah, tapi kebanyakan lebih memilih untuk berpura-pura, yah… biar palsu, tapi bisa memperlihatkan sesuatu yang menurutnya keren kepada dunia. Tchk! Duniaaa… Semenjak pandangan dunia lebih penting dari segalanya, maka selama itu pula manusia hidup dalam kebahagiaan yang tidak nyata. Mereka saling memakai topeng dan menyembunyikan identitas sebenarnya.

Adakah orang yang berpura-pura untuk menjadi tidak baik? Ya, mungkin ada yang melakukannya demi tujuan-tujuan tertentu seperti yang sering kali kita temukan di drama Korea atau serial India, dengan alasan klise seperti: agar dijauhi oleh orang yang tidak disukainya, atau demi kebaikan orang lain, yang kadang membuat kita sebagai penonton menggeleng ‘eneg’ tidak paham dengan pola pemikiran si pembuat skenario.

Namun pada suatu ketika di kehidupan nyata, kita terpaksa untuk ‘tidak berbuat baik’, demi… demi kebaikan orang lain *mungkin. Seperti keputusanmu untuk tidak berbuat baik ketika bertemu dengan seorang ibu bersama bocah lelakinya yang sedang sibuk dengan mainan entah apa di tangannya. Si ibu yang tidak berpenampilan layaknya pengemis dengan wajah memelas memohon bantuanmu untuk menyumbangkan beberapa puluh ribu rupiah setelah bercerita dengan derajat kesedihan maksimum tentang keluarganya yang dirawat di rumah sakit dan butuh membeli obat di apotek, atau skenario kehabisan ongkos dan saudara tidak bisa dihubungi karena HP nya mati.

Pada level ini, kamu sudah berada di titik apatis, kebas, traumatis, dan sedikit kesal sembari mendengus di dalam hati,”Apa aku selugu itu untuk dipilih sebagai manusia yang akan dikibuli??”. Ya, otakmu secara default setting menterjemahkan kejadian ini sebagai ‘skenario penipuan‘. Kamu meminta maaf dan kemudian berjalan pergi, dengan sedikit rasa penyesalan dan kesedihan akan citra diri tentang anggapan ‘saya sudah kehilangan rasa kemanusiaan’, ‘bukankah itu ladang sedekah, ya beri saja…. persetan dengan itu tipuan atau tidak’. Beberapa puluh langkah di depan, kamu berbalik dan melihat si ibu dengan scene yang sama mencegat perempuan berwajah lugu lainnya. Kamu menghela nafas semoga masih ada manusia yang memiliki moralitas jauh di atasmu yang akan memberikan bantuan kepada si ibu.

Beberapa minggu kemudian, kamu berjalan dengan seorang karib di salah satu mal, bersikap biasa sampai akhirnya si ibu yang sama dengan pakaian yang berbeda, bersama bocah lelakinya yang sedang sibuk dengan mainan entah apa di tangannya. Ia mencegatmu dan teman sebelum menaiki eskalator. Masih dengan skenario yang sama, dan kali ini kamu bersikap jauh lebih apatis dan membiarkan si teman mendengarkan si ibu yang bercerita dengan kisah mirip dengan beberapa minggu lalu. Sebelum si ibu menyelesaikan kalimat penutup mutakhirnya, kamu segera menyeret tangan si teman menjauh dan berkata,”Maaf bu, kita belum ambil duit di ATM”, sambil menaiki tangga berjalan dan dengan ekor mata memperhatikan si ibu yang entah kenapa ekspresinya langsung berubah normal (tidak lagi dengan mimik skala anxietas 10 seperti sebelumnya). Kali ini kamu masih kesal dan sedikit menyesal kenapa kamu harus menyesal dan sedih waktu itu! Penyesalan macam apa itu -..-)” .

Kemudian kamu mulai berpikir, apakah berbuat tidak baik adalah sebuah kebaikan di zaman ini??? Bagaimana kaidah moral dan etik-nya ketika kita memutuskan untuk mengabaikan orang lain yang kesusahan demi kebaikannya? Ah, kenapa keinginan untuk berbuat baik begitu rumit saat ini? Kenapa kita harus memilih siapa yang akan kita bantu dan siapa yang harus kita abaikan? Kenapa mereka yang meminta uang dengan cara menipu tidak mencontoh Bapak penjual celengan lima ribu di jembatan penyebrangan yang selalu menyuguhkan senyuman (*tanpa banyak cakap dan promosi) ketika kita berhenti untuk melihat-lihat celengannya ?? Kamu tahu?? Bahkan demi melihat senyuman si Bapak, kamu tidak akan kuasa menahan keinginan untuk membeli, membeli dengan hati riang gembira! Bahkan rela jika harus membayar lebih harga celengan yang tidak sepertiga harga celengan di supermarket! Ya, dengan hati seringan dan selapang-lapangnya. Ada keinginan untuk membantu lebih banyak ketimbang obsesi untuk memiliki barang jualannya.

 2016-10-19-23-55-39

Dear teman-teman yang sering menggunakan jembatan penyebrangan Detos-Margo Depok, yang mau punya celengan tanah liat cakep, silahkan jumpai si Bapak penjual celengan yang saban hari biasanya duduk di tengah jembatan. Serius, celengannya bagus-bagus, berasa kembali ke zaman kita masih cilik, karena tanah liatnya asli dan terlebih harganya sungguh murah meriah! Datang dan dapatkan senyuman ramah si Bapak, dan jangan NAWAR! Just buy it! *maksa… hehehhe

Begitu banyak kaidah dan nasehat para ustad tentang hal ini, namun tetap saja hal-hal begini menciptakan kerumitan tersendiri. Ah dunia, semakin tua ia beranjak semakin linglung saja.

Stupefy!

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Stupefy

  1. kadang bingung harus apa kita,ada rasa takut kalau duit kita sampai ke tangan orang yang bukan haknya,apakah harus cari jalan lain supaya lebih yakin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s