PEREMPUAN SAAT INI

https://ainicahayamata.files.wordpress.com/2016/11/4b145-wm.jpg?w=640

SumberGambar

Memasuki minggu terakhir bulan November, saya nyaris melewatkan bulan ini tanpa memposting apapun di blog. Menurunnya grafik postingan di blog sama sekali tidak ada hubungannya dengan aktivitas kesibukan. Tidak ada postingan apapun berarti saya mengalami less of productivity in writing dan memunculkan ide. Karena ketika kamu memiliki motivasi yang tinggi untuk menulis sesuatu, mau banyak agenda, tugas menumpuk, atau apapunlah itu namanya, kamu pasti akan menyempatkan diri untuk menulis. Contohnya menulis status di facebook, bahkan sedang mengikuti ceramah agamapun, seseorang yang termotivasi tidak akan sanggup menahan dirinya untuk tidak memposting update-an semacam “Lagi dengerin kajian ustad tentang isu sara nih ……”. Bahkan di android sudah ada aplikasi WordPress, ada wifi dimana-mana, tidak harus menunggu bertemu laptop dulu untuk bisa membuahkan sebuah tulisan *talk to your face Ni !!!

Postingan kali ini benar-benar terinspirasi dari asupan materi yang saya dapatkan selama beberapa bulan belakangan di bangku perkuliahan dan di beberapa kajian. Ya, saya sekolah kali ini memang lebih banyak mendalami tentang perempuan. Kedepannya juga akan begitu, kurikulum yang saya ambil memang berpusat tentang perempuan! Mulai dari isu feminisme, kajian gender, seksualitas, ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui, ibu mau KB, ibu muda yang stres dengan kelahiran anak pertama (maternal role), chilbearing, remaja putri dengan kegalauannya, remaja putri hamil di luar nikah kemudian aborsi, tentang kekerasan pada perempuan, kasus obstetry and gynekologi, ect. YES! I am a maternity nurse! Pernah mendengar profesi perawat spesialis maternitas?? Belum?? welcome to the thug life dude!😀

Jujur, sudah sejak lama saya ingin sharing informasi yang saya dapatkan dari orang-orang profesional di sini tentang kajian yang cukup debate-able semacam feminsm, isu gender, and so on. Tapi akhirnya saya baru benar-benar termotivasi untuk menulis begini setelah kemarin harus menghadapi tragedi KRL tanah abang (*ya, menurut saya ini semacam tragedi sekali). Itu adalah untuk pertama dan kedua kalinya saya naik kereta ke Tanah Abang. Ngapain ke Tanah Abang? Belum… Saya belum siap lahir bathin untuk berfoya-foya dengan shopping di sana. Misi saya adalah harus melakukan wawancara dengan manajer keperawatan di salah satu Rumah Sakit swasta yang berada di sekitar pusat grosir terbesar Indonesia tersebut.

Jadi ketika kembali ke tempat saya berasal (*kos-kosan maksudnya), saya harus kembali menaiki kereta yang demi janggut Merlin!, sore itu adalah puncak aktivitas arus balik umat manusia di stasiun Tanah Abang! Saya sudah sering mengalami kepadatan kereta jabodetabek, namun tidak dengan Tenabang!! Saya berasa sedang syuting Train to Busan, seperti sedang dempetan mencari celah untuk menghindari Zombi yang berkeliaran, demi menyaksikan ibu-ibu dengan anak kecil harus tergencet di keramaian umat manusia, belum lagi dorong-dorongan penumpang baru masuk di stasiun-stasiun yang dilewati kereta.

Para mbak-mbak kantoran yang mengejar kereta sore untuk segera pulang ke rumah. Jelas sekali raut kelelahan di wajah-wajah mereka. What a wonder woman! Saking padatnya kereta sore itu, saya tidak perlu bergelantungan lagi karena posisinya PAS, kamu tidak akan roboh jika tetiba kereta berhenti karena depan belakang sudah ada semacam pagar tubuh manusia yang menghalangi. Bahkan bisa menjejakkan kaki di lantai kereta saja rasanya sudah syukur alhamdulillah. Fiuf… Kereta khusus wanita macam apa inih! Justru di kereta seperti ini para wanita terlihat semakin teraniaya (*menurut saya)

Sambil mengamati pemandangan nyesek di sekitar, saya teringat dengan video yang diputarkan oleh dosen beberapa hari yang lalu, beliau seorang sosiolog, pakar kajian gender. Topik perkuliahan hari itu memang tentang Kajian gender dan seksualitas yang diawali dengan sebuah tayangan video animasi dari Amerika jadoel (*bayangkan kartun Tom and Jerry jaman baheulak, video kartun si dosen jauh lebih ngeblur dari itu, resolusinya rendah sekali). Video itu berjudul “The Impossible dream”. Menggambarkan tentang aktivitas seorang ibu rumah tangga yang memulai hari dengan tangisan bayi sebagai jam wekernya, kemudian bak robot yang sudah di default-setting, ia mulai sibuk dengan mengurus bayi, membangunkan anak-anak yang lain untuk sekolah, menyiapakan pakaian suami kerja, menyajikan sarapan pagi dan bekal suami serta bekal anak-anak, mengarahkan anak perempuannya untuk menyapu dan mengasuh adik (*sementara suami dan anak laki-laki sibuk mengunyah roti sambil menonton TV). Ketika sarapanpun, si ibu mendapatkan porsi makan yang lebih sedikit karena anak bayi menumpahkan makanan beliau. Kemudian ibu, ayah, anak-anak naik bus; anak ke sekolah, ayah ke tempatnya bekerja, ibu ke daycare (tempat penitipan bayi) untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke tempatnya bekerja. Seharian si ibu bekerja di pabrik konveksi, menerima kopi pahit dari mandor gemuk yang mengawasi mereka bekerja sambil tidak berhenti ngomel.

Sorenya si ibu pulang bekerja, mampir dulu ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah tangga, menjemput bayi ke TPA, jemput anak-anak di sekolah untuk kemudian pulang ke rumah, ayah juga sudah pulang ke rumah. Never ending activity! Selanjutnya adalah mencuci, menggosok baju, menyiapkan makan malam, sementara ayah sibuk ngopi sambil baca koran ditemani putranya yang sibuk main sambil nonton TV. Anak perempuan? Masih mengasuh adiknya! Sambil sesekali membantu ibu menjemur pakaian. Selesai makan malam, ibu menemani ayah yang duduk santai sambil minum-minum, si ibu menemani sambil menjahit pakaian anak.

Kemudian ibu tersentak ketika melihat tayangan TV yang menampilkan sosok perempuan yang dengan bayi di gendongan punggung belakangnya sedang mencangkul ditemani anak perempuan, di sebelah si perempuan tampak laki-laki sedang membajak sawah menggunakan mobil traktor. Di sana si ibu mulai merenung, is it right to women to do all of the hard things? Sementara kaum lelaki seperti mendapatkan fasilitas pelayanan dari wanita? Sampai malamnya, ibu bermimpi. Di dalam mimpinya: suami membantunya mengerjakan tugas rumah tangga, membantu ngemong bayi ketika nangis, anak-anak yang sedang sekolah mendapatkan porsi kerjaan rumah yang seimbang, sama-sama membantu pekerjaan ibu dan memiliki waktu yang cukup untuk belajar. Pekerjaan rumah dilakukan bergotong royong sambil bercanda. Sehingga si ibu memiliki waktu untuk lebih santai, berdandan, dengan anak-anak yang sesekali mencium pipinya, suami yang merangkulnya, terlihat bahagia dan harmonis, semuanya tampak nyata sampai akhirnya Ibu terbangun karena weker alamiah hariannya “tangisan bayi” mulai berdering. Ia termenung, Is it possible? Apakah yang terekam dari mimpi si ibu barusan adalah sesuatu yang mungkin bisa terjadi???

Saya menghela nafas dalam mengingat tayangan kartun jadul tersebut. Adalah sebuah kenyataan bahwa perempuan masa kini adalah a wonder multitasking woman!!! Mereka mengerjakan beragam macam pekerjaan mulai dari rumah sampai kantor kemudian kembali ke rumah, tidak berhenti-henti. Meski tidak semua perempuan seperti itu, namun tuntutan zaman saat ini seperti mengharuskan wanita yang semula hanya bergelut di sekitaran dapur dan sumur untuk kemudian mencari nafkah untuk keluarga. Betapa kasihannya kehidupan perempuan yang memiliki siklus mengerikan seperti itu.

Bayangkan jika istrinya sakit?? Sedang tidak sehat?? Apakah peran-peran seperti itu akan terpenuhi dalam rumah tangga?? Siapa yang akan menggantikan pekerjaan ibu yang banyak di rumah??? Hahaha, saya tidak sedang mendeskriditkan peran laki-laki atau suami di sini.

Tentu saja akan terjadi chaos atau kekacauan di keluarga itu. Ada temuan yang menyebutkan bahwa ketika seorang laki-laki yang sudahs berpuluh tahun hidup bersama istrinya, kemudian istrinya meninggal, ternyata kondisi psikis lelaki tersebut akan lebih mudah down dan tentu akan mempengaruhi kesehatannya. Bukan hanya karena sekedar sedari awal tidak ada kerja sama pembagian tugas antara suami dan istri, namun karena sudah terbentuk semacam “ketergantungan” terhadap peran perempuan. Itulah kenapa ada istilah: Di balik lelaki yang hebat, sesungguhnya ada wanita yang luar biasa yang mendukungnya. Wanita itu adalah ibu, atau istrinya.

Saya hanya ingin menginformasikan bahwa: Kaum perempuan itu memang Hebat, sangat hebat malah. Jenis gender yang bisa melakukan beberapa aktivitas dalam satu kesempatan waktu itu hanya perempuan. Itu sudah kodratnya. Namun, sebagai makhluk hidup perempuan tentu memiliki keterbatasan kemampuan juga.

Ya salah sendiri, kenapa perempuan mau??? Kenapa sekarang begitu gencar digalakkannya issu feminism, perbedaan gender?? Kan perempuan sendiri yang memilih untuk bekerja, yang memilih untuk memiliki penghasilan, tidak mau jika hanya di rumah saja.

Iya, asumsi itu betul, bekerja pada perempuan memang bukan hanya perkara uang semata, tetapi juga sebagai lahan untuk mengaktualisasikan diri. Namun, kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta penting, bahwa hukum dasar yang membuat ibu bekerja kebanyakan adalah karena faktor ekonomi keluarga yang tidak mencukupi.

Di sini saya ingin mengembalikan kepada para Bapak, tentang isu gender. Anggapan bahwa segala hal yang bersifat urusan dan peran domestik (memasak, menyapu, mencuci, memandikan anak, mengepel, mengurusi kebutuhan dapur, dan lain sebagainya) apakah mutlak harus dilakukan oleh ibu? Jika ibu bisa mengambil sebagian peran mencari nafkah yang merupakan kewajiban Bapak, kenapa Bapak tidak bisa mengambil sebagian kewajiban rumah tangga ibu? Pekerjaan rumah tangga itu bukan mutlak kodrat wanita, itu hanya kebiasaan yang membudaya, yang mengakar dan turun temurun diwariskan kepada anak cucu. Seperti sudah ditanamkan sejak dini, bahwa pekerjaan rumah tangga itu adalah kewajiban perempuan. Sehingganya, hal ini berefek kepada pola asuh berbeda yang diperlakukan orang tua terhadap anak perempuan dengan anak laki-laki. Anak perempuan sejak mereka kecil sudah dididik agar bisa beberes rumah, menyapu, mencuci, sementara anak laki-laki terkesan lebih dimanjakan. Dan ini terbawa sampai mereka dewasa.

Dan fakta bahwa perempuan adalah makhluk *bukan halus yang lemah (*dan saya sama sekali tidak menampiknya) seharusnya memunculkan inisiatif dari para pengambil kebijakan (*yang bukan berkebetulan kebanyakan adalah para lelaki) untuk mengakomodasi, memfasilitasi, membantu, termasuk dalam hal public services, agar kasus desak-desakan seperti yang saya ilustrasikan di awal paragraf tidak terjadi lagi (*tolong gerbong kereta khusus perempuannya ditambaaah kakaaa).

Fiuf, ulasan di atas lebih kepada opini saya ya teman-teman hehehhe, tapi tenang, meski tidak melampirkan daftar pustaka nya di sini, insyaaAllah itu hasil analisa dari perkuliahan dengan para pakar yang bisa dipercaya.

Ke depannya, saya juga mau membahas tentang “Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga” dalam pandangan islam serta kajian tentang parenting masa kini. iYaaaaaaaaaaa, saya belum berumah tangga dan belum punya anak, itu fakta bukan mitos (Ainun bisa apa kalau di perkuliahan melulu dicokoli tentang perkara peran keluarga), karena saya merasa tidak enak kalau harus menyimpan pengetahuan itu sendirian, saya akan tetap berusaha untuk berbagi di sini kan iko loooo…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Epilog: Ternyata, dengan sekian macam ragam beban yang dipikul perempuan, masiiiih ada kaum lelaki yang bersorak-sorai tentang hak-nya sebagai manusia yang memilih berganti gender menjadi perempuan. Dear mbak/mas waria, perempuan tulen saja masih banyak hak-hak nya yang belum terpenuhi, apalagi yang tidak tulen. (*efek saat turun kereta, harus satu angkot dengan mbak/mas yang galau identitas).

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s