TAPI…

Suatu saat Aisyah bertanya kepada Rasulullah,”Pernahkah kau alami hari yang lebih berat daripada di Uhud?”.

Maka Rasulullah bercerita,”Aku mendatangi para pemimpin Thaif untuk mengajak mereka kepada Allah. Salah seorang di antara mereka berkata,”Tirai Ka’bah tersobek jika sampai Allah mengutus seorang Rasul…”. Lalu setelah tiga hari menyusur tiap sudut Thaif, mengetuk berbagai pintu, dan menawarkan Islam pada siapa pun yang kutemui, merekapun beramai-ramai mendustakan, mengusir, dan menyakitiku.

Aku pun pergi dengan kegundahan dalam hati, hingga tiba di Qam Ats-Tsa’alib. Ketika kuangkat kepalaku, maka tampaklah Jibril memanggilku dengan suara yang memenuhi ufuk. “Sesungguhnya Rabbmu telah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat kaummu terhadapmu. Maka Dia mengutus Malaikat penjaga gunung ini (Akhsyabain) untuk kauperintahkan sesukamu.’

Lalu malaikat penjaga gunung menimpali,’Ya Rasulullah, ya Nabiyallah, ya Habiballah, perintahkanlah, maka aku akan membalikkan gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan menghancurkan mereka yang telah ingkar, mendustakan, menista, mengusir, dan menyakitimu’.

“Tidak’, jawabku,’sungguh, aku ingin agar diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab azab. Bahkan, aku ingin agar sulbi-sulbi mereka, dari rahim-rahim mereka, kelak Allah akan keluarkan anak keturunan yang mengEsakan-Nya dan tak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

~

Yang berat bagi Rasulullah adalah; kala wewenang membinasakan orang-orang yang menganiaya dirinya digenggamkan penuh-penuh, peluang pelampiasan dibentangkan baginya, terujilah jiwanya, cintanya, dan tampaklah kemuliaannya. Dia sebenarnya diizinkan, dihalalkan, diridhai untuk berkata ‘Ya’, lalu gemuruh runtuh gunung Akhsyabain yang menimpa musuh “menghibur” hatinya. Tapi keputusan Rasulullah adalah TIDAK.

(dikutip dari Lapis-lapis Keberkahan, Salim A. Fillah).

~~~

Maka, bisa saja… Peserta aksi yang jumlahnya mencapai angka 7 untuk skala jutaan ini melakukan perbuatan ‘membalas’, ‘menumbangkan’,’memaksa’, dan hal-hal berbau anarkis lainnya demi mencapai tujuan dan menghapuskan rasa sakit hati umat islam terhadap lidah tak bertulang Ahok.

Tapi mereka TIDAK.
Aksi ini hanya berupa: duduk manis, berdzikir, berdoa, sholat Jumat, mendengarkan khutbah.
Selesai.

Bahkan tak sungkan-sungkan peserta aksi membersihkan kembali tempat, meski Allah kemudian berbaik hati mengguyurkan hujan sehingga semuanya kembali tampak indah.

Maka, inilah dakwah yang sesungguhnya, dakwah melalui ketauladanan. Syiar tentang betapa indahnya islam.
Karena panutan kami, Rasulullah Muhammad SAW, diutus sebagai pembawa kasih bukan penyebab adzab; Allah bahkan menyatakan dirinyalah rahmat semesta alam.

Adakah nilai hidup seindah yang diajarkan islam??

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s