Be Good

Siang itu setelah membeli beberapa makanan kecil sebagai pengganti makan siang di kantin, sambil berjalan sembari menyempatkan diri membuka instagram dan membaca postingan yang masih hangat membahas tentang peristiwa 212.
“Lihat apa sih Ai, serius banget”, sapa mbak-mbak teman sekelas yang kebetulan sedang duduk di luar kelas.
“Ini loh mbak, pendapat para ulama Palestina tentang peristiwa 212 kemaren”.
Dan tidak bisa dihindari, percakapan demi percakapan tentang 212, Ahok, asing, aseng, Cina mulai mengudara. Kadang dibumbui gregetan, gemes, dan tidak habis pikir dengan semua hal yang berada di balik ini semua.

Kemudian perkuliahan itupun terjadi. Ketika bu Krisna Yetti membahas tentang filosofi. Membahas tentang filo yang artinya cinta, bahwa untuk bisa dicintai kamu harus bisa mencintai terlebih dahulu. Bahwa untuk dicintai kitalah yang harus memulainya terlebih dahulu sehingga tanpa diminta orang lain akan mengikutinya.

Mencintai dengan bijaksana…
Banyak orang yang tidak mencintai, dan juga tidak bijaksana. Ada orang yang bijaksana, namun mereka tidak memiliki rasa cinta. Yang paling banyak adalah orang yang mencintai, namun tidak bijaksana.

Ketika manusia sudah memiliki rasa cinta dan bijaksana, maka mereka tidak akan mengeluarkan kata-kata yang buruk. Tidak akan berperilaku buruk.
Kita boleh saja tidak menyukai seseorang, namun kita tidak boleh membencinya dan mengeluarkan kata-kata yang kasar.

Tidak sungkan-sungkan, beliau langsung memberikan contoh terup-to-date tentang orang-orang yang tidak menyukai Ahok, kemudian memaki-maki dengan kata kasar di social media.

“Mau sekeras apapun kita bersuara di social media, Dia bakal tidak mendengar juga. Ahok dimana, kita dimana… “.

Tidak suka terhadap sesuatu boleh saja, sampaikan ketidaksukaan itu dengan baik. Jadilah elegan dan hargai diri kita sendiri dengan menghindari kebencian dan perkataan buruk. Tempatkan diri kita menjadi tinggi dengan tidak mengkonsumsi informasi dan berita yang menyebar kebencian.

~

Sedikit banyak hal ini cukup membuat sebuah pemantapan pemahaman baru pada pola pemikiran saya.
Ya, bukannya tidak mengetahui hal tersebut, namun kadang kita sering kebablasan.
Mengeluarkan aspirasi namun kemudian menyerempet pada gaungan kata-kata yang tidak senonoh.

~

Kembali lagi bagaimana menjadi pribadi yang baik dan dicintai. Itu adalah tentanh bagaimana kita membentuknya terlebih dahulu, bukan hanya menunggu untuk dicintai saja dan sekonyong-konyong menerima.

Hal ini mengantarkan pemikiran saya pada kejadian pagi ini, ketika motor yang saya kendarai tiba-tiba mati di tengah jalan tanpa diketahui sebabnya, tidak mau distater ataupun diengkol. Saya terpaksa mendorong motor menuju parkiran fakultas terdekat. Aaah, ini adalah pengalaman pertama dan paling saya takutkan ketika mengendarai motor di kampus–>Motor rusak di tengah-tengah kampus, which is tidak ada bengkel, tidak ada orang-orang di pinggir jalan untuk dimintai bantuan, tidak ada rumah untuk dititipi motor sementara, jalanan hanya dilewati bus kampus dan beberapa kendaraan. Saya nyaris putus asa untuk meminta bantuan orang-orang. Lagian, di zaman sekarang, memangnya masih ada yang mau menawarkan bantuan?

Ternyata perkiraan saya salah. Di antara belasan kendaraan yang lewat, ada bapak-bapak yang bersedia berhenti dan membantu saya menstater ulang motor atau mengengkolnya. Gagal. Saya mengucapkan terimakasih dan membiarkan si bapak berlalu meski wajahnya merasa tidak enak.

Saya mendorong kembali motor menuju parkiran terdekat, lagi-lagi ada dua mahasiswa yang mendekat dan menanyakan apakah bensin habis, kemudian menawarkan untuk mendorong motor saya. Saya mengucapkan terimakasih dan menolak karena parkirannya sudah tidak terlalu jauh.

Fiuf, saya tinggalkan parkiran dan motor yang mogok (*kemungkinan besar karena kurang pemanasan akibat saya yang buru-buru ke kampus). Saya menjalani perkuliahan dengan sedikit kecemasan. Pasalnya, kuliah akan selesai pada sore hari, dan saya tidak yakin jika ada tukang bengkel yang bersedia diculik untuk memperbaiki motor di parkiran kampus yang jauh dari bengkel. Sedangkan untuk mendorong lagi, saya angkat tangan dan menjadikan itu sebgai seburuk-buruknya opsi.

Sepanjang hari terutama ketika solat, saya memohon agar Allah memberikan kesempatan kepada motor saya untuk hidup setidaknya sampai ke kosan sebelum secara serius saya periksakan ke bengkel.

Akhirnya sore itu, 45 menit sebelum kumandang Maghrib bergema, Allah kembali mempertemukan saya dengan orang baik lainnya yang bersedia mengantar saya ke parkiran fakultas tetangga tempat saya menitipkan motor dan menunggui kepastian keberhasilan si motor untuk hidup kembali. Alhasil, orang baik lainnya juga berdatangan membantu menghidupkan itu motor kembali. Hamdallah, berhasil hidup setelah berkali-kali distarter. Sekaligus menerima beberapa nasehat tentang kesehatan motor.

Masalah lainnya muncul: karena terburu-buru ke parkiran, saya melupakan dua buah text book yang saya taroh di bawah kursi. Pastilah buku-buku itu masih tergeletak di kelas. Saya menghubungi teman yang sekiranya masih di sana untuk menyelamatkan buku-buku saya, namun ternyata mereka tidak menemukan ada buku yang tertinggal di kelas.

Saya enggan meninggalkan motor yang baru berhasil hidup. Takut, kalau dimatikan sebentar, nanti tidak mau hidup lagi. 😣.

Masih berdiri sembari menunggu mesin motor panas, saya membuat pengumuman berita kehilangan di grup. Teman-teman tidak ada yang tahu sampai akhirnya salah seorang teman menjapri:”Ai, buku kamu udah diambilin sama teman sebelah, mau aku pegang dulu? Kebetulan aku masih ngeprint di sini”.

Berkali-kali lipat kesyukuran pada hari itu. Satu hari ini saya sudah banyak merepotkan orang dan sudah berkali-kali ditolong orang.

~

Apa yang dapat saya ambil hikmah dari kejadian sehari itu adalah: dari berlapis-lapis kebaikan yang Allah berikan kepada saya selaku manusia melalui manusia yang lain, alasan apakah untuk saya sebagai manusia untuk tidak berterimakasih kepada Allah dengan cara melakukan banyak kebaikan yang sama?

Ya, bersyukur dengan cara menggunakan nikmat Allah untuk hal baik, dan membalas dengan kebaikan yang sama pada orang lain.

“Jika kamu bersyukur, makan akan Aku tambahkan nikmatku,” demikian janji Allah. Jadi ketika kita bersyukur dengam cara berlaku baik, maka kebaikan-kebaikam lain akan mengikuti.

~

Kasus Ahok di atas hanyah salah satu contoh tentang bagaimana kita menerapkan ‘menjadi baik’. Namun, di kehidupan nyata, sungguh banyak celah-celah berbuat kebaikan yang sering kita lupakan. Celah agar dicintai oleh orang banyak danbagaimana kehadiran sosok kita nerupakan hal yang ditunggu-tunggu dan diharalkan oleh orang banyak.

Namun, ketika kita hanya mampu membenci, maka kebencian-kebencian yang sama akan mendekat dan menjadi bagian dari kehidupan yang tidak menyenangkan.

~

Do not hate, be good, do something good,
If you want to be the loved one, just spread the love first.

View on Path

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

5 Responses to Be Good

  1. Sandurezu サンデゥレズ says:

    Nice story kak.. Itu bukunya kok bisa sama abang2 jualan kerupuk? Ckck

    Like

    • Hahaha setelah kakak konfirmasi hari ini, ternyata bukan abang2 jualan seperti yang kita bayangkan. Ternyata itu salah seorang teman sekelas dari peminatan lain yang kebetulan masih di kelas, dan beliau biasanya jualanan keripik dari kampungnya di kelas 😀

      Bener2 seharian itu Aan …

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s