Filter

Saya cukup kaget ketika membaca status teman-teman saya di Facebook yang ‘protes’ dan ‘potek’ atas ulah-ulah oknum penyebar kebencian, senang menyiram-nyiram minyak tanah terhadap suatu kejadian, menggunakan kata-kata kasar untuk menanggapi isu-isu sensitif.

Saya bertanya-tanya, apa sebegitu parahnya status-status para oknum ini??

Sampai akhirnya saya sadar bahwa, saya masih bisa kalem begini karena tidak membaca postingan-postingan seperti itu.

Saya tidak membaca karena memang hal-hal seperti itu tidak muncul di timeline saya.

Lagi-lagi saya harus mensyukuri kondisi tineline saya yang adem begini. Selektif dalam berteman di social media terutama facebook telah saya terapkan sejak beberapa tahun lalu. Ketika itu saya nyaris meng-unfriend 30% lebih total teman. Teman yang semula jumlahnya hampir 5000an orang saya cut menjadi hanya 3500an. Untuk meng-approve friendrequest yang masuk pun, jika tidak kenal-kenal amat, atau mutual friendnya gak sampai ratusan, saya enggan menerima. Makanya friend request menumpuk sampai teman baru saya di kampus protes,”Ai, kamu kok tidak bisa di add di facebook ya??? Itu friend request udah over load kali…”

“Ya udah mbak jadi follower saya ajaaa. Tombol follow kan ga ada batasannya. khkkkh” #digampar #soksokan

Saya lebih senang mengirim friend request kepada orang-orang yang saya inginkan untuk berteman, ketimbang menerima pertemanan dari orang yang saya tidak memiliki ide atau clue ‘siapa dia’ terhadapnya.

Selektif dalam berteman…

Bukan… Bukan karena kamu ingin sok sok eksklusif. Namun karena kita harus menempatkan tinggi diri kita sendiri, dari status-status buruk, dari postingan-postingan nakal, sebagai bentuk penghargaan, penjagaan, terhadap your own self.

Dan efeknya?? Timeline saya lebih berbahagia. Jikapun ada opini-opini nge-jleb (biasanya dari teman-teman aktivis), itu masih dalam batas kewajaran menurut saya. Mereka masih menggunakan ‘bahasa-bahasa’ dan ‘perkataan-perkataan’ yang bisa saya cerna dengan baik. Saya juga belajar untuk lebih open mind-ing dalam menerima opini mereka selagi masih menggunakan bahasa yang baik. Sekalipun opini tersebut berbeda dengan prinsip yang saya anut, namun saya menyadari bahwa saya tidak memiliki kekuatan yang bisa merubah jalan fikiran seseorang secara instan. Apalagi kalau cuma ketemu di timeline. Belajar melihat dari sisi yang berbeda justru lebih menyenangkan. Salah satu cara untuk mentolerir perbedaan pebdapat adalah: mencoba untuk menempatkan diri pada posisi orang tersebut. Belajar menjadi emphatic person. If you still don’t get it, just left them! Ini negara demokrasi, semua penduduk berhak menyampaikan pendapat *dalam batas kewajaran*. Jika kamu mau bikin status tandingan dan berdebat, silahkan… 😊 dan saya lebih memilih menjadi silent reader.

What’s wrong with the haters??
Haters just gonna hate! Jika kita tidak bisa mengendalikan akun mereka, maka kendalikanlah akun sendiri untuk tidak bertemu dengan mereka.

Dear haters, menyukai sesuatu itu boleh. Tidak ada larangan terhadapnya. Namun yang tidak diperbolehkan oleh norma-norma yang diterapkan oleh masyarakat kita adalah: “Mengeluarkan kata-kata intimidasi, kasar, judgmental, membenci, dst”.

Jika ingin menyampaikan ketidaksukaan, boleeeeeh. Namun sampaikan dengan bahasa yang santun. Simpan your harsh words for your own mind. Kami tidak butuh ikut-ikutan mengotori pandangan mata dan otak kami dengan hal-hal seperti itu.

Jujur, karena hal-hal seperti itu jika terbaca akan mengganggu “mood” banget, akan mengacaukan sistem hormonal juga, sooo… Make the barrier for your own sake! Pintarlah dalam menggunakan socmed. Bacalah opini masyarakat, namun jangan pernah tergiur membaca berita tidak jelas, postingan ngaur bin alai, jika tanpa sengaja terbaca, *mohon maaf* gunakan OTAK kita untuk mencerna or Just left them behind! Trust me, itu lebih membuat bahagia timeline-mu sendiri… 😁

🐣Karena jika bukan kita yang menghargai diri kita sendiri, siapa lagi???

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s