Opini~

“Saya akan tetap sekolah meskipun saya menikah dan saya akan tetap menikah meskipun saya sedang bersekolah”.

Itu adalah dua hal berbeda yang ingin saya lakukan di dalam kehidupan yang singkat di dunia ini, dan kedua-duanya disarankan Rasulullah.

Jadi tidak ada prioritas mana yang harus terlebih dahulu saya lakukan. Hanya saja saya belum seberuntung kamu, kamu, dan kamu karena belum menemukan orang tepat untuk diajak menikah. Dan saya merasa cukup beruntung bisa melanjutkan pendidikan pada jalur yang saya senangi.

Saya tidak akan menikah karena desakan orang-orang, juga bukan karena teman-teman saya sudah pada menikah semua. Saya akan menikah jika memang saya merasa Allah telah menakdirkan demikian pada waktu yang seharusnya. Yang saya yakini, semuanya memiliki giliran dan penanggalan yang tepat dari Allah. Jika tanggal kamu lebih cepat dari saya atau mereka, maka itulah yang terbaik bagimu. Jika penanggalan saya dan mereka lebih lama darimu, maka itulah yang terbaik bagi kami. Pernikahan bukan seperti lomba lari siapa yang cepat dia yang dapat piala, memilih orang yang baik itu diajak menikah juga tidak sesimple memilih barang di pasar yang ketika kamu merasa tidaak cocok bisa ditukar kembali. Itu perkara keputusan seumur hidup.

Jadi, no more judgment tentang kenapa seorang perempuan belum menikah, kemudian sibuk bekerja dan bersekolah itu karena mereka terobsesi dengan karir dan gelar, sehingga mereka lupa dengan kewajiban dan sunnah. Kamu, kamu, dan kamu tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dan berkecamuk dalam sinaps-sinaps otak mereka. Begitu juga saya. Saya tidak pernah lupa kalau saya harus menikah. Jadi tidak perlu diingatkan sedemikian rupa dengan beragam judgmental.

Tapi saya masih bisa mentolerir pertanyaan-pertanyaan semacam,”Kamu kapan….”, “Masa menghadiri kondangan terus….”, “Nyebar undangan kapan”. It’s kinda a joke for me. No need to be so serious. Karena sudah begitu hukum alamnya, mereka yang perhatian padamu akan melakukan aksi kepo mengepo dengan memberikan pertanyaan kapan dan kapan.

Namun, hati saya tidak bisa mentolerir dengan kesimpulan ngasal, seolah-olah mereka lebih tahu diri saya ketimbang saya sendiri.

Demikian.

*

Actually, saya selalu menghindari untuk membahas topik ini di blog/fb/ig/ atau akun socmed lainnya, karena serius itu terlalu MAINSTREAM, DEBATEABLE, and CIYEABLE banget. Saya tidak suka membahas atau menebar nebar kode tentang pernikahan di socmed. Hanya saja tergelitik dan mulai “KZL” πŸ˜‚ dengan aksi kepo yang berujung semacam:

“Jadi berapa lama kamu akan sekolah Ni?”
“Jika tidak ada aral melintang atau negara api menyerang, 3 tahun insyaAllah cukup”
“What?? 3 years?? How old are you?”
“Me? I was born on Sept 1989, count it by your self”
“Ok then, when will you get married?”
“When SK Allah has come to me, it will happen when my future husband comes”
“Oh dear.. You know how old you will be when you finish your school. You should marry first instead of going school. Man will be scared with the degree, you know… Do not to be so ambitious with your Carrier. Bla bla bla”

*

πŸ‘»
Kenapa manusia suka sekali berprasangka?

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s