Book Review: Tentang Kamu

“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita”.

“Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi”.

“Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan”.

20170105_203617

Details:

Judul: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Cetakan ke: II, Oktober 2016
Tebal: vi+524 halaman

Berulang kali melewati toko buku dengan banner yang bertuliskan: Pre order buku “Tentang Kamu” Tere Liye dengan harga miring, beberapa bulan yang lalu, merupakan godaan yang cukup berat. Saya berusaha untuk mendisiplinkan diri sendiri dalam perkara membeli buku karena sekalinya tak terkendali, akan membawa dampak yang cukup significant dalam masalah keuangan. Terlebih ada beberapa text book yang harus saya beli ketika itu. Saya memutuskan untuk menunda membeli, karena masih ada buku Matahari yang juga ingin saya baca segera. Namun akhirnya, saya lebih memilih Tentang Kamu untuk dijadikan sebagai reward kepada diri sendiri karena telah menyelesaikan badai UAS dengan agak cukup baik, ketimbang Matahari karena menurut teman-teman yang sudah membaca sangat bagus dan penuh kejutan. Saya menikmati novel ini di tengah-tengah masa liburan di rumah Tante di Tanjung Pinang. Cukup panjang waktu yang saya butuhkan untuk menghabiskannya, lima hari mabroooo.

Judul ‘Tentang Kamu’ menurut saya merupakan judul yang cukup menjual. Sekilas akan menciptakan persepsi bahwa genre buku adalah fiksi romansa. Apalagi jika membaca quote-quote di belakangnya yang cukup “baper-able”. Ah, lagi-lagi kisah percintaan, kalau bukan Tere Liye yang tulis, mungkin saya akan langsung malas beli. Namun saya yakin, Tere Liye bukan tipe penulis yang nyaman dengan topik yang sama, quote tersebut anggap saja sebagai pemicu yang menimbulkan daya jual, mengingat kaum yang terkena sindroma baperan cukup meningkat jumlahnya. Saya yakin ada kisah menarik di dalam sana. Ternyata benar, kisah ‘Tentang Kamu’ tidak didominasi oleh drama percintaan seperti yang dibayangkan. Jika dihitung, mungkin hanya sekitar 10-15% dari keseluruhan kisah.

Adalah Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara muda kritis yang bekerja di sebuah firma hukum terkenal di London, Thompson & Co di kawasan Belgrave Square yang terkenal dengan kejujuran, dedikasi yang tinggi dalam penegakan hukum waris. Zaman diamanahi tugas untuk mencari ahli waris dari seorang perempuan tua sederhana yang meninggal di salah satu Panti Jompo yang berjarak hanya 900 meter dari Menara Eiffel, Paris. Wanita tua yang diketahui bernama Sri Ningsih, pemegang pasport Inggris, namun berasal dari Indonesia ini, ternyata mewariskan harta kekayaan dalam bentuk 1% saham dari perusahaan besar Internasional dengan nilai tak kurang dari 1 milyar poundsterling. Tidak ada keterangan detail tentang wanita tersebut, termasuk latar belakang keluarga dan sejarah hidupnya. Bagaimana mungkin perempuan sederhana dari Indonesia yang menghabiskan sisa hidupnya di sebuah Panti Jompo bisa memiliki harta yang cukup untuk membuatnya dinobatkan sebagai salah seorang terkaya Indonesia? Bagaimana Sri Ningsih bisa memiliki harta dalam bentuk kepemilikan saham yang notabene merupakan cara yang brilian untuk menyimpan dengan baik kekayaan? Kenapa Sri lebih memilih untuk hidup dengan sederhana? Bagaimana Sri bisa mengetahui dan memilih Thompson & Co sebagai Firma hukum yang diberikan mandat untuk mengurusi warisannya tersebut?. Pastilah Sri Ningsih bukan orang sembarangan dengan semua pencapaian tersebut.

Berbekal sebuah buku harian Sri Ningsih yang diberikan oleh petugas Panti, Zaman memulai perjalanan untuk menelusuri sejarah kehidupan Sri Ningsih untuk menemukan clue siapa pewaris dan dimana letak surat warisan Sri Ningsih, yang dimulai dari sebuah pulau kecil di wilayah Sumbawa yang bernama Pulau Bungin. Kisah demi kisah ditelusuri, seluruh tahapan kehidupan Sri yang dimulai sejak tahun 1940-an sampai tahun 2016, yang berpindah dari satu pulau ke pulau lain, bahkan perpindahannya ke negara yang lebih besar. Nah, di sinilah letak menariknya! Perjalanan kehidupan Sri yang antimainstream dan penuh kejutan akan membuat pembaca yang semula mungkin penasaran, menjadi lebih penasaran lagi. Alur kehidupan Sri tidak mudah ditebak, selalu ada kejutan di setiap fasenya.

***

Akhirnya saya menemukan ide kenapa cover buku ‘Tentang Kamu’ ini berupa sepatu kulit tua yang terlihat telah dipakai selama bertahun-tahun. Hal ini sungguh mencitrakan tentang perjalanan Sri yang panjang dan penuh lika-liku, juga karena tragedi demi tragedi dalam hidup Sri diawali dengan perkara ‘membeli sepatu pantofel’. Tentang Kamu di sini, bisa didefenisikan tentang si ‘Kamu’ belahan hati Sri Ningsih, namun bagi saya Tentang Kamu adalah tentang SRI NINGSIH. Hahhaha…

Jika ingin menyimpulkan, saya lebih melihat buku ini sebagai buku dengan berbagai genre. Di dalamnya kamu bisa menemukan adanya semacam petualangan, Mistery, sedikit tipe Science Fiction, drama, Romance, history, dan kriminal, tentu ada humor renyah di dalamnya 🙂 . Perjalanan Zaman lebih seperti seorang detektif yang menemukan penggalan demi penggalan puzzle kehidupan Sri sehingga menciptakan suatu kesatuan yang utuh yang jika disimak dengan baik, sungguh banyak nilai-nilai kehidupan di dalamnya.

***

Sekilas tentang Sri Ningsih, saya langsung teringat dengan tokoh “Laisa” kakak sulung di novel ‘Bidadari-bidadari Surga’, perawakan, karakternya cukup mirip, pun lika liku kisah hidupnya. Sehingga mau tidak mau, otak saya langsung mendesign ulang karakter Sri Ningsih sebagai Laisa.

Tentang pemilihan nama-nama tokoh, selama ini saya selalu terkagum-kagum dengan pilihan nama tokoh utama dalam novel Tere Liye yang cukup unik dan sangat menarik. Mulai dari Delisa, Laisa, Dalimunte, Lail, Esok, dan nama-nama unik lainnya, namun kali ini pemilihan nama tokoh sangat sederhana: Sri Ningsih, Zaman Zulkarnaen, Nugroho, Rahayu, Ningrum, Murni, Nussi Maratha (nama Sumbawa), dan agheeem, Nur’aini. Ini bukan masalah besar, namun sejujurnya selain alur cerita, saya selalu menunggu nama-nama unik dari setiap karakter yang akan muncul di novel Tere Liye. Saya sempat mendengar jika Tere Liye juga selalu melakukan riset dalam pemilihan nama tokoh.

Tentang prolog dan isi, tidak diragukan lagi, Tere Liye telah menyajikannya secara epik dan baik. Namun menurut saya ending nya cukup terburu-buru. Terutama di dua bab terakhir ketika Zaman mengungkap kedok salah satu tokoh jahat. Itu seperti Detectif Conan banget memang, hanya saja tidak diungkapkan detail bagaimana Zaman mengetahuinya, semacam Zaman itu lawyer yang amat sangat cerdas dan serba tahu. Saya yakin, bang Tere bukannya kehabisan ide, namun lebih karena mau menyingkat novel ini saja, 524 halaman itu tebaaaaal masbro! Hahahha. Saya pernah dengar Tere Liye mengatakan bahwa novel-novel yang ditulisnya aslinya jauh lebih panjang dan butuh perjuangan untuk membuatnya menjadi lebih pendek, sehingga nanti bisa menekan biaya produksi dan harga buku menjadi lebih murah (*ini demi pembaca juga sih guys). Tapi sejujurnya bang Tere, semakin mendekati bab akhir, saya justru semakin sedih karena halamannya semakin menipis dan rasanya tidak ingin segera mengakhiri perjalanan Zaman. Hahhahha 😀 . Hal tersebut juga saya rasakan ketika membaca novel Hujan, Pulang, Rindu sih… (*reader banyak maunya).

Last but n0t the least, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca mengisi waktu luang teman-teman semuanya. Bagus! Mengejutkan! Bernilai! 😀

***

Demikian review novel yang cukup subjektif kali ini, maaf saya sudah lama tidak melakukan novel review lagi sejak negara api menyerang ini, khkhkkhh.

 

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Book Review: Tentang Kamu

  1. Aan Sandurezu (サンデゥレズ) says:

    Akhirnya dipublish juga ya kak.. Ternyata ekspektasi awal kita mirip2 lah ya.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s