Waham

Saya ingin sekali menuliskan opini ini sebagai seorang yang awam terhadap dunia kesehatan. Ingin tidak memiliki keberpihakan kepada siapapun. Termasuk saya siap untuk merendahkan loyalitas terhadap profesi sendiri.

Namun, ketika saya melakukan hal tersebut, mau saya berdiri sebagai rakyat biasa, sebagai umat muslim yang masih perlu belajar banyak, atau sebagai mahasiswa yang sedikit banyak pernah mencicipi budaya organisasi dan kepemimpinan, ada satu keping dari bagian nurani yang menolak dan tidak menyetujui tindakan Gubernur Prov. Jambi Zumi Zola yang *bahkan saya tidak sanggup melihat tayangan videonya*.

Yang saya yakini, setiap niat baik harus dilakukan dengan langkah-langkah yang baik pula.

Saya tidak ingin memaki atau menyalah-nyalahkan. Namun, yang kemudian bermunculan di otak saya ketika aksi tersebut direkam dengan gemilang oleh para media adalah: Sebarannya akan meng-Indonesia, jejas dan persepsi buruk tentang tenaga kesehatan RS yang jahat akan bertambah dalam di pikiran masyarakat, serta porak-porandanya harga diri pelayan kesehatan di mata pasiennya.

Tentu ini bukan sebatas persoalan perawat yang tidur ketika dinas malam, atau dokter jaga yang absen di shift-nya. Bukan sekedar itu. Jika benar Gubernur sudah menyelidiki jauh sebelum sidak, akan lebih baik segera memediasi ke “Kapalo Arak” langsung. Jika gagal, ya silahkan adakan forum terbuka dengan tenaga kesehatan, beberkan bukti-bukti keluhan masyarakat, hasil analisis kinerja / profesional mereka yang buruk, dan seterusnya dan seterusnya. Identifikasi alasan-alasan kenapa perawat dan dokternya seperti itu. Mungkin akan beragam alasan yang muncul, dan mungkin saja dari alasan-alasan itu bisa dicarikan solusinya, sehingga efek positif nya akan berimbas pada peningkatan pelayanan kesehatan.

Pengkajian, analisis, tegakan permasalahan, kemudian rencanakan implementasi yang sesuai dengan kriteria hasil yang kita harapkan. Selanjutnya jangan lupa untuk melakukan evaluasi dan pendokumentasian kembali. Saya pikir langkah-langkah begini akan terlihat lebih elegan, jauh dari kesan pencitraan, minim suudzonisasi, dan pastinya adil bagi seluruh rakyat (pasien-nakes) Jambi.

Apa mau dikata, niat baik Zumi Zola namun dengan implementasi yang gegabah, melesat cepat kabarnya seantero Indonesia melalui media yang sungguh pandai membuat serta menambahkan efek dramatis. Di satu sisi rakyat Jambi bahagia, di satu sisi nakes RS Jambi merana, di pihak lain banyak yang baper dan mengalami gangguan mood, dan herannya ada juga pihak yang berbahagia melihat perang dingin antara masyarakat yang pro dengan nakes yang kontra terhadap aksi Bapak Gubernur. Namun saya tidak yakin, apakah rakyat Jambi masih bisa berbahagia jika suatu saat ketika mereka sakit harus berhadapan dengan tenaga kesehatan RS yang nestapa.

Perbaiki kualitas pelayanan secara TUNTAS.

Mungkin ini tuntutan masyarakat kepada para tenaga kesehatan. Namun apa daya, kualitas pelayanan itu tidak semata hanya campur tangan nakes itu sendiri. Hal tersebut konon kabarnya melibatkan banyak pihak, dan seringnya yang membuat amburadul itu justru para pimpinan dan pemegang kebijakan. Sialnya nasib nakes adalah, kemarahan rakyat atas kualitas pelayanan yang rendah selalu ditimpakan kepada mereka yang notabene merupakan frontliner dari pelayanan kesehatan.

Begitu banyak metode penyelesaian konflik yang ada di teori kepemimpinan. Bahkan sefrontal-frontalnya opsi adalah: menghadirkan kedua belah pihak untuk beragumen dan menyanggah didampingi pemimpin sebagai fasilitator. Bahkan Rasulullah pun sudah secara komplit memberikan ketauladanan dalam hal berkepemimpinan. Pemimpinan yang baik adalah mereka yang mengayomi. Sesalah-salahnya yang dipimpin, lebih salah yang memimpin. Bahkan jika yang dipimpinnya melakukan kesalahan, pemimpinlah yang harus pasang badan terlebih dahulu.

Entahlah, namun begitulah yang banyak saya dengar dan pelajari.

#savePasien
#saveTenagaKesehatanKarenaJikaTidakAdaNakesPasienTidakAkanBisaDiSAVEkan – at Cianjur

View on Path

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Waham

  1. Ami says:

    Yang sedihnya karena cara pelaksanaannya itu ya kak. Kenapa menegur kesalahan di hadapan khalayak ramai, sampai disiarkan media pula? Itu kan pembunuhan karakter. Memangnya senang ya kalau nakes Jambi, yang notabenenya rakyatnya sendiri (bawahan pula karena mereka bekerja di RSUD) kehilangan harga diri karena dimaki-maki? Bukankah harusnya setiap laporan ditindaklanjuti dengan bijak dan setiap rencana harus dieksekusi dengan elegan?

    Yang sedihnya lagi, sebagian masyarakat yang belum memahami di balik layar pelayanan kesehatan malah senang dengan tindakan ini, entah mereka pernah mengalami pengalaman yg kurang menyenangkan atau tidak. Mereka bilang sudah takdirnya jadi nakes, jangan ngeles. Duh, sedih. 😦

    • Benar sekali Amiii. Sepertinya efek lanjut dari aksi tersebut luput dari perhatian Pak ZZ. Syukurlah sudah ada mediasi antara organisasi profesi dengan beliau setelahnya. Semoga hal hal seperti ini tidak berulang kembali.

      Jujur, sedih sekali jika keberadaan para pelayan kesehatan dianggap musuh dan dibenci. Meski memang ada oknum oknum yang berbuat, namun bukan berarti pelegalan justifikasi untuk keseluruhan profesi. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s