Pilihan Spesialis Keperawatan Universitas Indonesia

Spesialis Keperawatan

Seperti yang sudah pernah saya kisahkan di beberapa postingan sebelum ini, akhirnya saya memilih Universitas Indonesia sebagai pelabuhan untuk menuntut ilmu berikutnya dengan spesialisasi/pemintan Maternitas dan kesehatan perempuan. Sebelum beranjak ke perjalanan cerita tentang Pelatihan APN (Asuhan Persalinan Normal) yang akan saya post setelah tulisan ini, saya ingin mengorientasikan secara singkat apa itu Spesialis Keperawatan.

Mungkin ada yang bingung dan sebelumnya tidak tahu tentang adanya jenjang pendidikan S2 Spesialis Keperawatan. Yup, pertama kali menginjakan kaki di jenjang pendidikan S1 pun, saya juga tidak tahu bahwasanya profesi keperawatan sudah memiliki jenjang pendidikan Magister Keperawatan & Ners Spesialis, Doktor Keperawatan, bahkan Guru Besar. Dalam pemikiran awam saya, pendidikan profesi Ners sudah tergolong tinggi, secara kebanyakan perawat yang saya kenal berpendidikan setara SPK atau Akademi, dan jika ingin meningkatkan keilmuan S2 keperawatan hanya bisa di Luar Negeri, ckckck (*efek tidak memilih keperawatan sebagai pilihan pertama).

Jadi apa itu Magister Spesialis UI?

Program pendidikan Magister dan Spesialis Keperawatan merupakan program pendidikan satu kesatuan yang pada prosesnya mengikuti ketentuan penyelenggaraan pendidikan di Universitas Indonesia, yaitu program pendidikan Magister adalah pendidikan akademik yang diselenggarakan dalam 4 semester dan program pendidikan Spesialis-1 adalah pendidikan profesi jenjang kedua yang diselenggarakan dalam waktu 2 semester. Program pendidikan Spesialis Keperawatan dilaksanakan setelah mahasiswa menyelesaikan program pendidikan Magister Keperawatan dimana mahasiswa melakukan registrasi administrasi dan akademik sesuai ketentuan registrasi Universitas Indonesia. Lulusan Program Studi Magister akan memperoleh gelar akademik Magister Keperawatan (M.Kep) dan gelar profesi Ners Spesialis (Sp.) sesuai peminatannya (Sumber).

Yaah, Program Magister Spesialis memiliki masa studi yang lebih lama dibanding Magister biasa. Dua tahun di Magister, dan 1 tahun full residensi untuk mengambil spesialisasi. Wisudanya sama seperti SKep dan Ners, terpisah menjadi dua kali.

Pendidikan jenjang Spesialis Keperawatan, terdiri dari:

  1.  Spesialis Keperawatan Medikal Bedah, lulusannya (Sp.KMB)
  2.  Spesialis Keperawatan Maternitas, Lulusannya (Sp.Kep.Mat)
  3.  Spesialis Keperawatan Komunitas, Lulusannya (Sp.Kep.Kom)
  4.  Spesialis Keperawatan Anak, Lulusannya (Sp.Kep.Anak)
  5.  Spesialis Keperawatan Jiwa, Lulusannya (Sp.Kep.Jiwa)

Dan setelah mengalami kegalauan tingkat tinggi, akhirnya saya menetapkan hati untuk mengambil spesialis Maternitas. Apakah saya mencintai Maternitas? Entahlah. Bahkan saya tidak mendapatkan nilai yang cukup cemerlang untuk mata kuliah maternitas ketika S1. Saya juga penah nyaris gagal di ujian praktik Maternitas. 😦

Namun sejak di awal karir (*uhuk) sebagai pengajar, saya sudah ditempatkan di Departemen Maternitas & Anak gegara skripsi yang saya tulis di area Maternitas khkkhkh. Namun dalam perjalanannya, saya justru lebih banyak membimbing mahasiswa di area Keperawatan Medikal Bedah ketimbang Maternitas. Itulah salah satu sumber kegalauan, perlahan saya justru sangat menyukai KMB dan merasa sayang sekali jika tidak memperdalamnya.

Teori peluang juga ikut saya pertimbangkan di sini. Secara kuantitas, spesialis keperawatan medikal bedah sudah sangat banyak lulusannya di Sumatera Barat. Di Bukittinggi sendiri, sepanjang pengetahuan saya belum ada dosen dengan kualifikasi Spesialis Maternitas. Satu-satunya Sp.Mat yang saya kenal di Sumbar adalah dosen saya sendiri di Unand. 😀 Dengan pemikiran tersebut, saya mendapatkan banyak dukungan untuk memantapkan pilihan di area Maternitas. Saya sendiri cukup menyadari bahwa mengambil pilihan yang tidak terlalu disukai itu rentan dan riskan sekali.

Namun, saya sudah menetapkan hati untuk berupaya untuk menemukan sisi-sisi menarik dari area Maternitas (Tak kenal maka tak sayang tho??) Yang kemudian saya temukan ketika menatap jadwal kuliah peminatan Maternitas di mading FIK UI, di mana salah satu mata kuliahnya bernama: Kesehatan Perempuan. Hanya dengan membaca  nama mata kuliahnya saja saya langsung tertarik. Benar saja, belajar kesehatan perempuan benar-benar memberikan saya harapan untuk bisa eksis dan mencintai ilmu Keperawatan Maternitas 🙂 .

Apa saja persyaratan dan persiapan untuk bisa mendaftar Spesialis Keperawatan di Universitas Indonesia?

Sampai saat ini, UI masih menjadi satu-satunya Universitas di Indonesia yang membuka program studi magister spesialis. Sedangkan untuk Magister Keperawatan sendiri sudah banyak ditemukan di kampus-kampus negeri terkemuka dan swasta. Konon, kampus-kampus besar lainnya di Indonesia juga tengah mempersiapkan SDM dan fasilitas untuk bisa membuka Spesialisasi, karena menurut arahan, Magister Keperawatan sudah harus satu paket dengan Spesialis, sama seperti pendidikan Sarjana Keperawatan yang satu set dengan pendidikan profesi Ners (riweuh memang).

Saya sendiri tidak terlalu paham dengan kondisi ini, yang saya ketahui di Luar Negeri sana tidak ada pendidikan untuk gelar spesialis di Keperawatan (CMIIW), maksudnya, ketika mengambil jenjang pendidikan lanjutan di luar negeri, perawat akan langsung mendapatkan kurikulum sesuai peminatannya dan itu sudah dipaketkan dengan aplikasi di RS, namun hal tersebut hanya berlaku bagi RN (Register Nurse), yaitu perawat-perawat yang sudah memiliki sertifikasi kompetensi sesuai negara asal (semacam ujian kompetensi di Indonesia namun lebih kompleks), yang notabene juga praktisi di pelayanan. Jadi, jika ada perawat Indonesia yang ingin melanjutkan perkuliahan di luar negeri dengan spesialisasi tertentu, haruslah sudah mendapatkan RN terlebih dahulu, yang untuk mendapatkan sertifikasi RN kabarnya naudzubillah susahnya hehehe (toh di Indonesia juga susah banget untuk bisa lulus Ujian Kompetensi). Di luar negeri sendiri juga ada Magister keperawatan dengan peminatan medikal bedah, anak, komunitas, keperawatan gawat darurat, dll. Namun mereka tidak menyebutnya dengan spesialis. Bagi yang tidak mengambil magister dengan spesifikasi khusus, tidak diperluan sertifikasi RN tersebut (Keperawatan Dasar atau Keperawatan Dewasa). #CMIIW

Kembali ke prasyarat, berikut saya ingin memaparkan beberapa syarat (yang diambil dari web resmi SIMAK UI) dan penjabarannya berdasarkan pengalaman saya tahun lalu mengikuti SIMAK UI.

Persyaratan Akademik:

  1. Memiliki ijazah SMA IPA/A1/A2

Sayang sekali yang lulusan SPK/SMK tidak bisa memenuhi persyaratan ini. Saya tidak tahu persis dimana urgensinya, mungkin karena SPK/SMK tidak terlalu spesifik mempelajari ilmu alam dasar (Matematika, Fisika, biologi, Kimia umum), meskipun pengenalan dasar-dasar keperawatan/kejuruannya sangat mumpuni.

  1. Memiliki ijazah pendidikan Ners dari perguruan tinggi yang terakreditasi. Calon mahasiswa ini dapat memilih peminatan/spesialis: Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Keperawatan Komunitas, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Jiwa, dan Keperawatan Anak.

Yup, ijazahnya harus keluaran dari kampus (baik negeri atau swasta) yang sudah terakreditasi. Jika mengikuti ‘kekinian’, “terakreditas” sudah tidak diakui lagi saat ini, namun harus jelas apa akreditasinya dan “Terakreditasi B” adalah standar minimal untuk mengatakan suatu kampus itu mumpuni dalam menghasilkan kualitas lulusan yang baik.

  1. Memiliki pengalaman kerja di klinik minimal satu (1) tahun dalam bidang keperawatan sesuai area peminatan/spesialisasinya dibuktikan dengan surat keterangan dari institusi klinik/kerja dimana calon tersebut bekerja (diserahkan pada saat ujian peminatan);

Nah, persyaratan inilah yang paling banyak membuat galau gaduh gundah gulana para fresh graduate yang ingin melanjutkan pendidikan magister di UI. Yup, FIK UI memang sangat concern sekali dengan syarat yang satu ini. Hal ini akan ditanyakan pada saat tes wawancara peminatan nanti. Bukannya apa-apa, menjadi spesialis berarti kita sudah memiliki kecakapan umum dari suatu kompetensi yang dibuktikan dengan pengalaman kerja ataupun magang di tempat tertentu, jadi dalam proses pendidikan tinggal diasah secara mendalam dan mempertajam skill-nya.

Namun, yang bisa menjadi catatan di sini adalah, pengalaman bekerja bisa saja di pelayanan/klinik/Rumah Sakit (*bagi yang mengambil peminatan Keperawatan Medikal Bedah, Anak, Maternitas, Jiwa), Puskesmas (Peminatan Komunitas), Praktek bidan (Maternitas), atau pengalaman membimbing mahasiswa di jurusan sesuai dengan peminatan. Misalnya saya, berencana mengambil peminatan Maternitas, selain surat keterangan magang di RS, saya juga bisa melampirkan keterangan membimbing mahasiswa preklinik di Blok Sistem Reproduksi selama sekian semester. Hal ini juga akan sangat membantu.

Tips saya, sebaiknya teman-teman memilih peminatan yang sesuai dengan ‘passion’ dan keahlian sendiri. Karena konon kabarnya mengambil spesialis di UI bukan perkara sepele yang bisa dilaksanakan dengan hati setengah-setengah. Banyak juga yang merasa ‘salah mengambil jurusan’ di pertengahan jalan atau melaksanakan dengan penuh keterpaksaan. Karena akan sangat sayang sekali jika kemudian banyak yang mundur di tengah jalan, karena ada ratusan orang yang menantikan kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan spesialis di UI. Kuota penerimaan sendiri terbatas di setiap peminatannya. Kuota paling besar adalah peminatan Medikal Bedah (bisa 60an), peminatan lain dibatasi hanya 15 per kelas.

Saya sendiri, meski bimbang dengan pilihan Maternitas di awal, namun semakin ke sini saya seperti menemukan hal menarik dari pilihan tersebut dan saya akan berupaya memperjuangkan dan memperdalam ketertarikan saya dalam bidang keperawatan maternitas.

Bagaimana jika belum memiliki pengalaman klinik? Menurut saya, sebaiknya teman-teman magang dulu, setidaknya 6 bulan, nanti ditambahkan dengan pengalaman praktik selama profesi Ners. Karena pengalaman klinik akan sangat membantu sekali dalam penilaian kelulusan dan selama proses pendidikan. Jika nekat tanpa pengalaman klinik? Kalau TPA dan Bahasa inggrisnya bagus dan bisa mendapatkan posisi tinggi, mungkin ada ‘peluang’ untuk lulus, dan kemungkinan kemudian disuruh magang sambil kuliah. Heheheh. Saya ingat ketika tes wawancara peminatan maternitas, saya jujur mengatakan belum banyak membantu persalinan. Dan kemudian dosen yang mewawancarai menyarankan setelah pulang dari tes UI, saya disuruh untuk melanjutkan magang di RS untuk mengambil pasien partus T_T (*dan saya tidak melakukannya, karna bahkan saya tidak punya waktu cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal di kampus 😦 ).

  1. Bagi calon dengan biaya pendidikan mandiri, menyerahkan surat pernyataan bermaterai akan mengikuti paket pendidikan magister dan spesialis sesuai peminatannya (diserahkan pada saat ujian peminatan);

Yup, pastikan kamu sudah memiliki sumber dana yang jelas. Apakah itu beasiswa dari institusi/yayasan, beasiswa LPDP, beasiswa unggulan Kemendikbud, beasiswa daerah/kemenkes/SDM (bagi yang PNS, beasiswa orang tua atau beasuami 😀 Ada banyak beasiswa yang bisa kamu dapatkan jika aktif mencari informasi.

Karena apa? Oh God, biaya kuliah spesialis itu muahaaaal beut sodara-sodara 😥 . Jadi untuk mengantisipasi ‘yang berguguran di tengah jalan’ karena persoalan pendanaan, makanya UI secara gamblang meminta kesanggupan dari peserta yang berencana mengikuti pendidikan dengan biaya mandiri. Bagi yang mendapatkan beasiswa, jangan lupa melampirkan keterangan beasiswa atau sumber pendanaan lainnya.

  1. Bagi calon mahasiswa tugas/ijin belajar, menyerahkan surat pernyataan dari institusi bermaterai bahwa menugaskan calon mahasiswa untuk mengikuti paket pendidikan magister dan spesialis sesuai peminatannya (diserahkan pada saat ujian peminatan) ;

Yoi, sangat banyak dosen-dosen muda yang mengambil jenjang pendidikan Magister Spesialis di UI, dan akan sangat membantu jika kita memiliki keterangan dan rekomendasi dari Institusi Pendidikan tempat kita mengabdi atau Rumah Sakit tempat bekerja bahwasanya Institusi memang membutuhkan tenaga pengajar/perawat dengan kualifikasi spesialisasi keperawatan tertentu sekaligus memberikanmandat ‘tugas belajar’ yang berarti calon maba dibebastugaskan dari pekerjaannya(*penting ini). Jika hanya mendapatkan ‘izin belajar’ artinya calon maba masih tetap harus bekerja setelah kuliah. Meski kuliah di Magister Keperawatan UI tidak full 1 minggu, namun kuliah sambil bekerja itu sangat tidak mengenakan Jendraaaaal.

  1. Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75 (dari skala 4.00) (transkrip asli diupload)

Tidak banyak keterangan, namun IPK di sini menunjukkan seberapa dalam kamu menguasasi ilmu keperawatan di jenjang S1. Ingat yang di upload transkip asli, bukan yang legalisiran. Upload dalam bentuk pdf bersama persyaratan umum lainnya (yang bisa di baca di web SIMAK UI).

  1. Memenuhi kriteria minimum score TPA dan Bahasa Inggris sesuai ketentuan Universitas;

Naaah, ini dia tantangan terbesarnya. TPA (Tes Potensial Akademik) dan Bahasa Inggris pada hari ‘H’ ujian, sangat menentukan kelulusan seseorang untuk bisa melanjutkan pendidikan Magister di Universitas Indonesia. #FYI gagal TPA, berarti gagal SIMAK. Dan tidak ada sistem ‘minta tolong orang dalam’ di sini, semuanya dilakukan by computer.

Menurut analisa yang saya dan beberapa sharing dari teman-teman yang sudah lulus, kunci kelulusan calon maba itu ada di TPA. Kenapa? Karena menurut kabarnya, TPA menunjukkan kemampuan akademis seseorang dalam menyerap keilmuan. Karena selain perkara hitung berhitung, tes potensial akademik juga menunjukan kecerdasan, tingkat pemahaman, dan logika seseorang. Jangan lupa kalau TPA juga ada sistem minusnya. Soal TPA tidak harus dikerjakan semuanya, cukup kerjakan soal-soal yang benar-benar kamu kuasai dan memiliki peluang benar. Jangan panik, karena membaca narasi soal logika dengan kepanikan akan membuat kamu semakin panik. Hehehhe.

#FYI , saya banyak mendengar kabar para perawat profesional yang sudah bertahun-tahun (*bahkan berbelas atau puluhan tahun) mengabdi di Pelayanan, banyak yang gagal di SIMAK UI, atau yang lulus setelah berkali-kali mencoba SIMAK. Padahal kalau ditilik, ilmu serta pengalaman mereka jauh lebih dari cukup untuk bisa melanjutkan jenjang spesialis. Apa pasal? Sepertinya ada yang ‘missing’ di TPA. Secara sudah lama tidak menyentuh Matematika dan ilmu dasar lainnya. Perkara TOEFL/Bahasa Inggris, UI terutama Fakultas Ilmu Keperawatan cukup berbaik hati untuk menangguhkan pencapaian nilai Bahasa Inggris, dalam artian, jika TPA sip, wawancara sip, TOEFL/Bahasa Inggris kacau, masih ada kesempatan bagi mahasiswa sampai sebelum ujian proposal untuk mengejar ketertinggalan poin TOEFL.

Tips dari saya:

Gagal di TPA bukan berarti kamu tidak mampu. TPA itu bisa dipelajari dan dikuasasi, intinya: banyak-banyak latihan dan belajar. Atur jadwal rutin untuk belajar TPA jauh hari sebelum tes SIMAK. Ada banyak contoh soal TPA di internet. Kamu juga bisa membeli buku kumpulan tes TPA di toko buku atau fotocopy punya teman. Saya sendiri berdasarkan saran dari seorang teman, membeli buka TPA keluaran Otto Bapenas, karena cenderung mirip dengan tipe soal SIMAK UI.

Meskipun bahasa Inggris memiliki kelonggaran, namun tidak bisa diabaikan juga. Please banyak latihan soal-soal Bahasa Inggris SIMAK, yang bisa diakses dari web SIMAK UI. #FYI menurut saya soal bahasa Inggris SIMAK UI berbeda dari TOEFL, lebih susaaaaaah tes bahasa Inggris SIMAK, karena saya sudah terbiasa dengan pola soal TOEFL. Saya tidak bisa mengatakan tes Bahasa Inggris SIMAK UI itu TOEFL, karena tidak ada listening-nya dan polanya cukup berbeda. Bagi yang gagal di Bahasa Inggris atau belum bisa menyerahkan sertifikat TOEFL ITP dengan score 450, maka status kelulusannya adalah: Lulus Bersyarat. Serius, itu akan diumumkan ketika hari pertama orientasi Maba di FIK UI. DITEMPEL DI MADING JUGA 😀

Jadi, lebih baik berdarah-darah ketika latihan ketimbang mati di pertempuran (dan boleh jadi, UI akan menghapuskan sistem susulan nilai TOEFL tersebut).

Why? Demi janggut merlin!!! Bahasa Inggris sangat dibutuhan ketika aktivitas perkuliahan. Konon kabarnya, hampir 75% (*atau lebih) text book dan artikel yang digunakan sebagai sumber bacaan dalam bahasa Inggris. Meski tidak membuat tugas dengan bahasa inggris, kabarnya kamu kudu profesional dalam mentranslet artikel dan tidak bisa hanya mengandalkan google translet saja. Fiuf.

  1. Memenuhi kriteria ujian peminatan minimal 70.

Seperti yang saya jabarkan di atas. Komposisi kelulusan SIMAK di FIK UI merupakan gabungan nilai ujian tulis (TPA dan Bahasa Inggris) dan Ujian peminatan (ada tes tulis peminatan dan wawancara di hari kedua). Tidak semua jurusan Magister yang memberlakukan sistem ini. Teman saya yang ikut SIMAK di Magister Farmasi dan Kesehatan Masyarakat hanya ujian tulis. Spesialis kedokteran, Keperawatan (*dan saya lupa kalau gak salah Psikologi), memiliki tes di hari kedua untuk peminatan (*makanya biaya SIMAK FIK dan FK lebih mahal dari jurusan lain, ck ck ck).

Tips lain:

  • Lengkapi arsip kamu dengan surat rekomendasi dari alumni lulusan spesialis sesuai dengan peminatan yang berisi tentang rekomendasi berdasarkan pendapat objektif pemberi rekomendasi bahwasanya yang diberi rekomendasi memiliki kemampuan/kompetensi yang layak untuk bisa melanjutkan pendidikan di jenjang magister spesialis.

Saya pribadi membawa 3 surat rekomendasi: dari Penguji Skripsi yang juga merupakan Spesialis Keperawatan Maternitas lulusan UI, dari dosen keperawatan Unand yang sudah doktor, dan dari Bos di kampus.

  • Form rekomendasi tidak memiliki format tertentu, bisa di-download di google dengan keyword “surat rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan”, atau mengadopsi form rekomendasi LPDP. Sebaiknya surat rekomendasi ditulis tangan oleh si pemberi rekomendasi, di stempel basah sesuai institusi dan dimasukan ke dalam amplop. INGET JANGAN LUPA MASUKIN AMPLOP MESKIPUN KAMU SUDAH TAHU ISINYA APA!! Hehehehe.
  • Jika kamu sudah memiliki skor TOEFL 450 atau lebih, sebaiknya juga di-scan dan dilampirkan di borang persyaratan yang akan di upload. Itu akan sangat membantu meski tidak diminta.
  • Jangan lupa membawa berkas asli semua dokumen yang sudah diupload (termasuk TOEFL ITP) ketika ujian peminatan/wawancara. Untuk ijazah dan transkip cukup yang legalisiran saja. Nanti akan diminta oleh pewawancara.
  • Jangan lupa belajar juga untuk ujian peminatan. IYA PEMINATAN JUGA ADA UJIAN TULISNYA. Jika kamu sedikit beruntung, pewawancara tidak akan menguji kemampuan kamu terhadap kasus tertentu, tapi konon kabarnya teman-teman yang mengambil Keperawatan Medikal Bedah sampai ditanya spesifik tentang kasus tertentu. Tuh kan!
  • Jangan lupa memenuhi semua kebutuhan dasar manusia sebelum ujian. Termasuk makan pagi dan siapkan bekal untuk makan siang pada jeda antara ujian TPA dengan Ujian bahasa inggris karena waktu yang disediakan untuk istirahat pendek dan tidak banyak kantin yang buka, yang ada hanya penjual keliling. #FYI ujian TPA sangat menguras otak dan tenaga. Saya sendiri kehilangan nafsu makan, namun alhamdulillah sempat sarapan.
  • Jangan lupa cek lokasi ujian. UI itu luaaaaas mabrooo. Kenali akses ke sana via gerbang resmi UI, abaikan shortcut karena biasanya akan ditutup ketika hari H (seperti jalan tikus di vokasi dari Kukusan). Datang lebih awal untuk mengantisipasi kemacetan, serius gerbang itu macet banget karena pada umumnya calon maba diantar dengan kendaraan.
  • Tidak usah membeli papan ujian. Karena ketika ujian dilarang membawa papan ujian (*karena kursi sudah menyediakan meja yang layak), cukup membawa pensil penghapus, dan pena (*karena pengawas akan mengeliminasi semuanya termasuk Handphone dan jam tangan).
  • .. Jangan main-main ketika ujian, berlaku normal-lah dan sesuai aturan karena pengawas ujian SIMAK galak-galak. Hehhehe.

Well, demikian tulisan ini saya buat, semoga sedikit banyaknya membantu teman-teman yang berminat untuk melanjutkan pendidikan di Program Magister Spesialis di Universitas Indonesia.

Simak juga: FAQ Seputar SIMAK MAGISTER UI

index

fik

Sumber Gambar: Google

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

11 Responses to Pilihan Spesialis Keperawatan Universitas Indonesia

  1. bisa jadi salah satu referensi untuk melanjutkan pendidikan saya… salam kenal mbak aini

  2. Aan Sandurezu (サンデゥレズ) says:

    Baru tahu kalau perawat juga ada spesialisasinya.. Semoga dimudahkan studinya ya kak

  3. Adelina Sembiring says:

    Salam kenal mba aini.. perkenalkan nama sy adeL..
    ijin bertanya, sy liat di magister simak UI ada gel ke 2 pendaftaran yaitu tgl 10 April – 8 Mei 2017.. berhubung krn persiapan sy belum maksimal, jadi sy mau ikut seleksi di gel ke 2.. tapi sy sudah buat accound di gel 1 dan belum melakukan transaksi pembayaran,, pertanyaan sy:
    1. apakah itu bermasalah?
    2. apakah peluang masuk lebih besar gel 1 atau gel 2 ?
    3. sy liat di simak UI tdk dicantumkan uang pembangunan, kira-kira brp ya mba? trus uang kuliah yg sy liat di situ 7,5jt/semestrer untuk magister keperawatan.. benarkah?? tx,s before

    • Salam kenal mba Adel. 🙂
      Jika mbak belum melakukan transaksi pembayaran, maka nomer ujian mbak belum resmi terdaftar pada SIMAK Gelombang 1, jadi sepertinya tidak apa-apa. *FYI, saya bikin akun bahkan 1 tahun sebelum SIMAK :), namun pastikan lagi nantinya pada gelombang kedua semua pesyaratan sudah diupload secara benar.
      Biasanya peserta ujian lebih banyak di gelombang 1 mba, namun peluang tebesar belum tentu di gel 2 atau 3, sebaiknya mbak concern di TPA dan Bahasa Inggris, karena meskipun peluang nya besar, namun jika score TPA tidak mencapai batas minimun juga tidak akan lulus mbak. FYI, di angkatan saya kami cuma 13 orang, itu saringan dari 3 gelombang. Padahal quota 1 kelas itu bisa mencapai 18 orang. Cuma yang lainnya memang tidak mencapai score yang ditargetkan Universitas.
      Uang Pembangunan memang belum dicantumkan mbak, akan diberitahun pada akun masing2 setelah lulus nanti. Saya sendiri angkatan 2016 pembayaran sem 1 itu 22,5 (sudah dengan SPP sem 1: 9.5 jt). Dan FYI lagi, biayanya akan meningkat setiap tahun kira kira 500ribuan. Senior di atas saya SPP dan pembangunannya lebih murah. Semoga saja tidak ada kenaikan lagi ya mbak 🙂

      • Adelina Sembiring says:

        Trimakasih sebelumnya mba aini…
        ijin bertanya kembali, tolong jelaskan mengenai bentuk soal S2 Simak UI, seperti apakah bentuk soalnya??? apakah yang diujikan hanya TPA dan B.Ingris atau bagaimana? contoh misalnya soal “TKD” apakah masuk juga soal wawasan kebangsaan atau kah yg di ujikan hanya Mate-matika, bhs.indonesia dan bhs ingris..

      • contoh soal SIMAK UI bisa mbak download di website SIMAK atau search di google engine banyak kok, termasuk contoh soal bahasa inggris. 🙂

  4. Pingback: FAQ Seputar SIMAK Magister FIK | Zona CahayaMata

  5. Muthmainnah Rasyid says:

    Assalamualaikum mbak ai 🙂
    salam kanal dari saya Inna

    Oh iya mbak saya sangat tertarik ni dengan tulisan mbak yg ini,
    banyak pertanyaan yang pengen saya tanyai nih mbak,
    apa saya boleh minta kontak pribadi mbak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s