FAQ Seputar SIMAK Magister FIK

FAQ seputar mengikuti seleksi wawancara Magister keperawatan-Spesialis Universitas Indonesia (UI)

Halo Readers! Maafkan sudah vakum nyaris sebulan dari blog ini.🙄🤒

Topik kali ini, saya ingin menyambung postingan terdahulu, masih terkait tentang seleksi magister keperawatan di UI. Jadi sebelum lanjut membaca tulisan ini, sebaiknya teman-teman mampir dulu ke postingan sebelumnya ya. 😁, tulisan ini diinspirasi oleh beberapa teman dan adik kelas yang kemaren bertanya.

Okeh, Let’s check this out…

1. Saya sudah membuat akun, namun masih ragu ingin ikut seleksi atau tidak… Apakah nama saya sudah tercatat di sistem?

Membuat akun pada portal “Penerimaan UI” dan “Mendaftar SIMAK” adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa saja membuat akun, namun belum melakukan registrasi pendaftaran secara komplit. Pertama kali saya membuat akun di http://penerimaan.ui.ac.id/ itu tahun 2015, namun akhirnya saya memutuskan untuk pending mendaftar ke UI karena satu dan lain hal, dan benar-benar melakukan resgitrasi full (yang ditandai dengan mentransfer sejumlah uang pendaftaran ke Rekening UI) itu di SIMAK I tahun 2016. Nomor registrasi SIMAK dengan nomor ujian pun berbeda. Nomor ujian didapatkan setelah melakukan pembayaran setelah selanjutnya mencetak kartu ujian.

TIPS nya: Jika kamu ingin mendapatkan lokasi dan nomor ujian berdekatan dengan sahabat seperjuangan seleksi UI, maka lakukan pembayaran (bisa dilakukan di ATM) pada waktu yang bersamaan atau pada jarak waktu yang berdekatan. Karena sistem akan otomatis mengurutkan nomor ujian berdasarkan pembayaran (bukan pada saat selesai mengisi borang atau pertama kali membuat akun SIMAK). 😊

Jadi kalau masih ada yang merasa ragu untuk mengikuti seleksi, sebaiknya ditunda dulu pembayarannya. Namun jikalau sudah membayar, dan tetiba rasa-rasanya tidak ingin kuliah di UI, maka relakan uang pendaftaran yang kira-kira bernilai 1jt rupiah itu hangus untuk disumbangkan ke UI. Jangan gegabah tetap memaksakan diri untuk ikut, namun akhirnya tidak akan mendaftar ulang, karena jika kamu lulus seleksi, berarti kamu sudah memakan jatah 1 orang yang benar-benar ingin mendapatkan bangku di UI 😅

2. Bagaimana bentuk seleksi wawancara di FIK UI?
Ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan setelah saya memposting tulisan pertama tentang seleksi masuk magister UI. Dan maafkan, ternyata memang tidak banyak pembahasan tentang detail topik untuk wawancara di postingan pertama.
Berikut beberapa alur yang harus diperhatikan sebelum mengikuti seleksi wawancara pada hari kedua:

  • Survei lokasi: Lokasi wawancara biasanya di gedung pendidikan dan laboratorium pasca sarjana FIK UI di Depok (yessss Depok yesss, bukan Salemba). H-1 biasanya nama kita sudah ditempel sebagai nama peserta seleksi di mading gedung Pasca sekaligus ruangan seleksi dan nama pewawancara. Ada juga lokasi wawancaranya di gedung RIK (Rumpun Ilmu Kesehatan). Itu adalah dua tempat berbeda. Bagi yang tidak tahu, gedung perkantoran dosen dan gedung perkuliahan serta praktikum mahasiswa S1 itu berada di gedung RIK, menyatu bersama prodi-prodi kesehatan lainnya. Jadi tidak ada perbedaan fasilitas gedung antara anak FK, FIK, FKG, FKM, Psikologi, dll. Dekanat nya pun berdampingan.
  • Jadi ada kalanya lokasi wawancara dipindah ke RIK. Tips saya, segera kenalan dengan teman yang sama pewawancara, biar bisa kompakan menunggu pewawancaranya.
  • Datanglah tepat waktu
  • Sebelum wawancara, calon maba akan dikumpulkan di satu ruangan khusus, dikasih wejangan oleh panitia seleksi, terus mengisi Form (*yang agak cukup panjang). Isinya? Lebih ke Curriculum Vitae sih menurut saya, kemudian ada beberapa pertanyaan yang sifatnya subjektif yang harus diisi (saya lupa apa saja), namun di sana juga ada pertanyaan tentang “PEMERIKSAAN FISIK DAN PENEGAKAN DIAGNOSA KEPERAWATAN”. Khkhkkhhk, jangan shock dulu (*jujur saya cukup kaget ketika itu, namun saya cepat menguasai diri dan menjawab dengan tenang. Karena peminatan saya adalah Maternitas, dan PF Maternitas adalah salah satu item yang paling saya kuasai di praktikum Mater, hal ini cukup menguntungkan. Jadi belajar lagi PF diagnosa eaaaaaa…. ^_^  . Waktu pengisian cukup singkat, jadi gak usah jawab panjang-panjang. Dan perhatikan setiap detail jawabanmu, karena jawaban itu akan menjadi topik pertanyaan baru bagi pewawancara nantinya. 🙂

Okeh, pertanyaan umum yang biasa ditanyakan.

Pertama: Kenapa tertarik memilih peminatan tersebut?

Sebelum mengikuti wawancara, ada baiknya memang kita mengenali terlebih dahulu peminatan yang akan kita ambil: Apa saja ruang lingkupnya, seluk-beluknya, urgensinya, dan yang paling PENTING adalah: Kenapa kita memilih peminatan tersebut. Ini adalah bentuk pertanyaan paling umum dan sering ditanyakan oleh pewawancara (*yang biasanya adalah dosen spesialis dan expert di bidang peminatan tersebut).

Jika ada yang bertanya:”Kak Aini kemarin jawab apa?”

Yaaa, saya jawab berdasarkan jawaban real (*dan sedikit mendramatisir): Bahwasanya, semenjak kuliah S1 Keperawatan, saya sudah mendalami maternitas yang dibuktikan dengan skripsi saya yang berada pada wilayah maternitas yaitu tentang “Hubungan siklus menstruasi dengan tingkat stres pada mahasiswi di asrama putri Universitas Andalas”. Saya tidak me-mention nilai saya yang gak bagus-bagus amat di Mater, hahahha, namun jika teman-teman punya nilai cemerlang di peminatannya, silahkan sampaikan saja. Itu bisa menjadi nilai plus. Saya juga tidak fokus pada statement “Saya menyukai Maternitas”, karena jujur saya sendiri ketika itu masih berusaha berdamai dengan diri sendiri untuk ikut seleksi di UI, dan masih pasca menenangkan diri setelah kegalauan antara memilih Maternitas atau Medikal Bedah.

Ketertarikan kepada maternitas kemudian berlanjut ketika bekerja, saya ditempatkan di Departemen Maternitas & Anak (saya tidak menyisipkan kisah saya yang juga harus menggarap departemen lain dan sebenarnya lebih sibuk di KMB dan menjadi sekretaris prodi ketimbang Mater karena itu akan menimbulkan pertanyaan baru kkhkhkhk). Saya menambahkan jawaban: “Spesialis Maternitas di Sumatra Barat masih sangat sedikit sekali, bahkan di Kota Bukittinggi belum ada. Satu-satu nya Sp.Mat yang saya ketahui adalah dosen saya di Unand (*kemudian saya menyebutkan nama dosen untuk mengorientasikan kepada pewawancara, dan ternyata beliau kenal), untuk itulah saya ingin menjadi spesialis keperawatan maternitas berikutnya di Sumbar” *prok..prok..prok…

Next pertanyaan paling mendasar: ANATOMI FISIOLOGI, dan PATOFISIOLOGI PENYAKIT

Eghm, ini memang hal paling mengerikan setelah saya melakukan kepo-ing kepada senior-senior tentang topik wawancara sebelum SIMAK. Dan jujur saya paling tidak siap untuk perkara Anfis Patofis. Hahahha, tiga tahun mengajar ternyata tidak cukup untuk membuat saya percaya diri. Alhamdulillah-nya, saya tidak begitu detail ditanya tentang perkara materi keilmuan.

Namun beda kasus dengan teman-teman yang mengambil Peminatan KMB, ada yang ditanya tentang patofisiologi penyakit. Jadi, sebaiknya teman-teman setidaknya menguasai patofisiologi beberapa kasus yang sering terjadi di wilayah peminatannya, seperti kalau di KMB itu ada: DM, CKD, DHF, CHF, Stroke, dll (Kalau tidak salah itu top kasus yang sering terjadi di RS). Kalau peminatan anak mungkin: Kejang demam pada anak, hmmm apalagi ya… (*saya lupa, mungkin teman-teman yang sudah lama di lahan paham). Kalau di Jiwa, mungkin hapalin diagnosa dan SP-SP nya kali ya… Jika beruntung, kamu akan bertemu dengan dosen yang tidak tertarik untuk bertanya tentang Patofis.😆
Dan jangan lupa, untuk setidaknya up-date keilmuan. Sehingga jika terjadi diskusi, setidaknya kamu gak cengo-cengo amat di depan pewawancara.

DAN, ketika menjawab pertanyaan dari pewawancara, menurut saya berlakulah PERCAYA DIRI, what i mean is: meskipun kamu sedikit meragui pengetahuanmu benar atau salah, namun sampaikanlah ‘sepengetahuan’ kamu tersebut, dengan lancar (Hal ini tidak berlaku di ujian responsi ketika di kelas yak! Jangan jawab asal-asalan khkhkhk). Tapi jangan sekali-sekali pakai “Menurut saya” jika harus menjelaskan teori tertentu, kecuali jika pendapat kamu memang ditanyakan.

Next: Topik untuk Tesis

Nah, ini mau tidak mau memang sebaiknya kamu persiapkan. Idealnya, sebelum memutuskan untuk mengikuti seleksi, kita sudah memiliki satu topik tertentu untuk digarap sebagai penelitian. Saran saya, jangan hanya mengangkat “topik”. Namun, ketika menjawab pertanyaan pewawancara, sampaikanlah “Fenomena” yang ingin kita teliti.
Sejak memutuskan ikut SIMAK UI dengan peminatan Maternitas, saya mulai concern memikirkan fenomena apa yang sekiranya layak untuk diangkatkan sebagai topik penelitian. Tapi yaaa, fenomena itu memang tidak semudah kelihatannya guys! Hahaha, tetap saja saya galau memutuskan fenomena seperti apa yang ingin saya isyukan.

Terus, kak Aini jawab apa?
Kebetulan sebelum berangkat ke Depok, saya membaca berita tentang kasus anak SMA yang meninggal dengan Ca.Serviks di salah satu RS di Bukittinggi. Ini menarik, karena prevalensi di Indonesia, Ca. Serviks biasanya ditemukan pada kisaran umur 35-4a tahun ke atas #CMIIW. Meskipun masih samar apa yang ingin saya lihat, namun fenomena ini saya sampaikan kepada pewawancara. Saat itu isyu vaksinasi HPV pada siswi SD belum se-booming sekarang (*dan sampai sekarang, jika ada tugas makalah/paper, saya masih mengangkat topik sekitaran ca.Serviks dan Vaksinasi HPV).

Intinya, tidak peduli kamu mendalami fenomena tersebut atau tidak atau benar-benar berniat menjadikannya sebagai topik penelitian, NAMUN setidaknya kamu menunjukkan bahwasanya kamu memiliki jiwa “curiosity” yang tinggi sebagai modal awal menjadi peneliti.

Pertanyaan selanjutnya lebih random dan tergantung pewawancara masing-masing. Saya juga ketika itu ditanya: TOEFL nya berapa, kemudian diberi wejangan tentang di FIK Magister harus mengantongi TOEFL setidaknya 450.

Selain itu juga diberi nasehat bahwasanya kalau Magister Keperawatan harus diikuti dengan proses pengambilan spesialis. Masukan tentang pelatihan-pelatihan yang harus diikuti, dll.
Pertanyaan menarik, kalau sudah selesai Spesialis, kemudian kamu diminta mengajar di Prodi Kebidanan, kamu mau? Hahahaha, saya sempat galau ketika menjawab pertanyaan ini.

Selanjutnya pertanyaan akan lebih menjurus kepada apa yang kamu tulis di Form isian pertama sebelum memasuki ruangan pewawancara.

3. Seberapa besar peluang lulus seleksi?

I told you guys, SIMAK UI untuk Magister memiliki passing grade tertentu yang harus dilewati. Meskipun kuotanya besar, peserta yang mendaftar tidak sebanyak kuota, namun jika kamu tidak lulus seleksi tulis tingkat Universitas, kemungkinan lulus tingkat fakultas juga tidak ada. Kelas peminatan akan dibuka jika yang lolos seleksi lebih dari 13(?) orang. Saya lupa. Namun jika pada periode SIMAK tersebut yang lolos Cuma 3 atau 5 orang, kemungkinan besar yang lolos harus pending dulu perkuliahannya sampai periode SIMAK berikutnya. Sehingga kelas hanya dibuka 1 kali setahun. Peminatan yang paling banyak diminati biasanya KMB, sehingga ada kelas baru yang dibuka ketika semester genap.

Di kelas saya, Maternitas. Kami terdiri dari 13 orang (padahal kuota 1 kelas bisa 20 orang), dan masing-masing ada yang seleksi SIMAK II dan III di tahun 2015, sehingga harus menunggu 6-8 bulan untuk bisa kuliah. Ya begitulah. 🙂 Peminatan lain yang sepi mahasiswa: Jiwa (Cuma 11 orang), Peminatan Anak (juga belasan), Peminatan Komunitas, dan yang agak banyak itu Manajemen dan KMB (puluhan).
Jadi tidak ada cerita: Lulus seleksi karena kuota banyak yang mendaftar sedikit. Jika tidak lulus SIMAK periode I, ikutlah periode II, periode III. Jangan menyerah. Karena banyak juga yang harus ikut berkali-kali sebelum akhirnya lolos.

4. Bisakah tunda bayar?

Jika kamu sudah lolos seleksi, namun terkendala masalah finansial pembayaran uang pendaftaran pertama, bisa melakukan tunda bayar. Silahkan melakukan pengurusan ke bagian kemahasiswaan di RIK lantai I. Di sana ada form yang harus diisi dan mungkin semacam perjanjian tentang pembayaran berikutnya.
Biasanya yang melakukan tunda bayar ini adalah teman-teman yang mendapatkan beasiswa dari SDM Kemenke atau LPDP: karena LPDP akan melakukan pembayaran langsung ke UI. Jadi maba cukup membawa surat pengantar dari LPDP-nya (*saya gak tahu pasti karena saya bukan awardee LPDP, tapi begitu menurut cerita teman2 LPDP).

5. Tunda kuliah?

Sepertinya. Bisa.

Kasus ini biasanya juga terjadi pada calon penerima beasiswa LPDP yang masih mengikuti seleksi. Karena persyaratan beasiswa LPDP adalah: Perkuliahan dimulai minimal 6 bulan pasca penutupan seleksi LPDP. Jadi jika kamu sudah lulus seleksi SIMAK UI, namun kamu masih dalam tahap seleksi LPDP, kemudian memutuskan menunda perkuliahan ke periode berikutnya sesuai alur LPDP, bisa saja. Silahkan urus ke RIK bagian kemahasiswaan FIK lantai 1. Di RIK lantai 1 itu kamu juga bisa meminta LoA (Letter of Acceptance) atau surat keterangan yang menyatakan bahwasanya kamu sudah lulus seleksi sebagai mahasiswa Pasca Sarjana FIK UI.
Namun yang harus diperhatikan: Jika kamu memutuskan tunda kuliah, kemungkinan besar kamu tidak bisa menunda hanya 1 semester, namun harus 2 semester (1 tahun), karena kelas Magister FIK hanya dibuka 1 kali setahun (*kecuali peminatan KMB, tahun 2014 pernah dibuka kelas genap, tahun 2015-2016 tidak ada lagi kelas genap). Ini merupakan hal penting yang juga harus dipertimbangkan. Jadi, berpikir ulanglah, atur strategi jika dirimu ingin berkuliah dengan kesempatan beasiswa, perhatikan baik-baik waktunya.
Curcol: Saya gagal seleksi wawancara LPDP tahun 2016 karena saya diminta extend (menunda perkuliahan), dan saya tidak bisa melakukannya karena saya sudah bayar uang pendaftaran. Hari ini seleksi berkas dan wawancara LPDP, besoknya saya sudah mulai orientasi kampus. Hahahha😅😅😅. Itu adalah kebodohan terbesar yang saya lakukan tahun lalu. Tapi tidak apa-apa, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga yang mungkin di postingan berikutnya bisa saya ceritakan lebih detail. 😂

6. Adakah beasiswa On Going?

Ada.

Bagi teman-teman yang ‘agak mirip dengan saya’ (*read: gagal LPDP), tenang…😂 Masih ada beasiswa lain yang bisa kamu ikuti. Beasiswa di atas bumi persada Indonesia ini bukan cuma LPDP doang, khkhkkkh. Jangan meminta beasiswa kepada LPDP, mintalah beasiswa kepada sang Pemberi biaya full seumur hidup, Allah SWT. InsyaaAllah ada banyak jalan untuk memenuhi kebutuhan selama perkuliahan 😇

Post pengumuman kelulusan SIMAK UI, segeralah mendaftar beasiswa unggulan kemendikbud *bukan Beasiswa Unggulan DIKTI ya…. ( yang sekarang sudah diganti namanya jadi BUDI, yang hanya diperuntukkan untuk dosen yang telah memiliki NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional), YANG PERKARA BESARNYA ADALAH: Persyaratan untuk mendapatkan NIDN itu adalah DOSEN SUDAH HARUS S2, jadi saya adalah dosen yang belum bisa mengikuti BUDI DIKTI karena belum memiliki NIDN. Fiuf, saya sudah beberapa kali melayangkan pertanyaan kepada petinggi: Apa faedah BUDI mensyaratkan NIDN, padahal dosen yang belum S2 (sehingga tidak memiliki NIDN) itu masih banyak. Ah, sudahlah. Saya protes di sini juga tidak ada yang dengar. 🙄🙄🙁🤐

Balik lagi ke BU Kemendikbud, di sana ada option: beasiswa bagi masyarakat berprestasi. Tidak ada syarat harus 6 bulan sebelum kuliah seperti LPDP, dan kabar baiknya: Beasiswa ini bisa diikuti mahasiswa pasca yang sudah menjalani perkuliahan (maksimal semester III) alias on going. Namun syarat utamanya adalah kamu sudah harus lulus seleksi di Universitasi yang sudah ada di list Kemendikbud, ditandai dengan LoA. Silahkan cari informasi sebanyak mungkin tentang beasiswa ini di: http://beasiswaunggulan.kemdikbud.go.id/ . Ada beberapa periode juga seleksinya.

Beasiswa lain: Beasiswa Tanoto Foundation dari Japan. http://www.tanotofoundation.org/ .

Semakin banyak kamu “aware” dan “kepoing”, semakin luas informasi yang bisa kamu dapatkan tentang beasiswa on going pasca sarjana serta bagaimana cara untuk “fund rising” bertahan hidup selama kuliah. 🙂

Okeh, segitu dulu, ini sudah memasuki halaman ke 5, cukup panjang. Jika ada pertanyaan lanjutkan, feel free untuk ditulis di komen atau email saya di: cahaya.mata2709@gmail.com . Namun, maaf jika ‘agak’ low response, maklum admin agak sok sok sibuk *plak.

Good luck teman-teman, yakin usaha sampai ya! Sampai ketemu di FIK UI Depok! 😊😊😊

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

5 Responses to FAQ Seputar SIMAK Magister FIK

  1. wah saya baru tau mbak 🙂

  2. Pingback: Pilihan Spesialis Keperawatan Universitas Indonesia | Zona CahayaMata

  3. Pingback: BU Kemendikbud  | Zona CahayaMata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s