BU Kemendikbud 

Seperti yang pernah saya sampaikan di postingan YANG INI, bahwa beasiswa untuk bisa sekolah Magister dan Doktoral itu bukan cuma LPDP doang 😁 *plak! Jadi jangan putus asa jika kamu pernah gagal di LPDP. Trust me, sebagian besar orang yang gagal LPDP bukan karena tidak hebat atau tidak pintar. Mungkin kurang beruntung aja 😁 *read: keberuntungan dan rejeki nya mungkin di tempat lain.

Kalau kata Murobbi saya, jangan minta beasiswa ke LPDP, tapi mintalah beasiswa kepada sang Maha Pemiliki kekayaan yang lebih melimpah daripada si pemilik LPDP.  Masih banyak jenis beasiswa lain yang worth to try.

Jadi kali ini, atas request teteman juga *sok* saya mau membahas beasiswa Pemerintah lainnya yaitu Beasiswa Unggulan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (BU Kemendikbud). Bukan… Bukan karena saya hebat dan bla bla, ini lebih ingin sharing dan mudah-mudahan membantu teman-teman yang mau coba. Kalau ada yang sukses karena baca tips dari blog Aini, InsyaAllah saya kecipratan berkahnya juga kan yak.

Oh ya… #FYI saya pernah 1x gagal LPDP di sesi wawancara karena sudah lulus duluan di Universitas tujuan kurang dari masa 6 bulan seperti yang disyaratkan (plus saya sudah bayar uang masuk), mengikuti saran untuk tunda kuliah setahun saya merasa kelamaan. Saya juga pernah 2x gagal AAS karena konten borang kurang adekuat, 1x gagal TEH-AC yang saya tidak tahu kenapa, dan 2xgagal BU Kemendikbud karena belum rejeki 😂😂. Iyaaaa… Kehidupan saya sudah penuh jatuh bangun dengan kegagalan. Namun, Alhamdulillah sampai detik ini saya masih bisa bersekolah gratis tanpa meminta serupiah pun dari orang tua seperti tekad sejak awal. Dan semester depan saya mau coba LPDP lagi untuk beasiswa tesis, dan tahun-tahun ke depannya juga perjuangan ini tidak akan berhenti. Doain yak!  😁

Balik ke BU Kemendikbud,


Banyak yang salah kaprah bahwa BU Kemendikbud ini adalah nama lain dari BU Dikti yang terakhir pernah ada di tahun 2013. Mungkin benar, namun setahu saya (setelah hasil kepo mengkepo), BU Kemendikbud berbeda target dari BU Dikti. BU Dikti sendiri sudah berubah nama menjadi BUDI, dan hanya diperuntukkan bagi dosen-dosen yang sudah memiliki NIDN (Nomer Induk Dosen Nasional). Yang merasa dirinya ‘calon dosen’ tidak bisa lagi apply, dan sudah diarahkan untuk mengikuti seleksi LPDP. Sejak tahun kemaren pun LPDP juga tidak bisa diikuti oleh dosen, dosen memang lebih diarahkan ke BUDI. 

BU Kemendikbud sendiri ditujukan bagi guru, masyarakat berprestasi, seniman, olahragawan, untuk meningkatkan potensi mereka melalui bantuan beasiswa dan biaya lainnya. Sama halnya dengan LPDP, BU Kemendikbud juga tidak ditujukan bagi dosen (beasiswa untuk dosen bisa diikuti melalui BUDI Dikti). Bedanya dengan LPDP, BU sendiri bisa diikuti oleh mahasiswa yang sudah memulai pendidikannya (beasiswa On Going), ada beasiswa untuk S1 juga, persyaratannya tidak seriweuh LPDP, seleksinya tidak seketat LPDP (menurut saya dan opini teman-teman yang sudah lulus), dan tidak ada batasan boleh berapa kali apply kalau pernah gagal. 

Untuk syarat rincinya, teman-teman bisa membuka web BU KEMENDIKBUD , dan flyers lengkap keterangannya ada pada bagian bawah:

Untuk web pembuatan Account dan Pendaftaran <— Klik 

Jadi, kalau kita mahasiswa biasa yang bukan atlet bisa masuk ke kategori “Masyarakat Berprestasi”. Di sini, saya mengkategorikan diri saya sebagai ‘bukan dosen’,  karena belum memiliki NIDN, sehingga saya mengambil kategori ‘Masyarakat Berprestasi’. Ingat, prestasi itu bisa macem-macem. Tidak melulu piala, medali yak😁

Beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Syarat BU dari tahun ke tahun sepertinya lebih berat dan seperti nyama-nyamain LPDP. Tahun lalu tidak ada syarat Essay, tapi tahun ini ada. Saran saya, perkuat konten essay teman-teman. Fokus kepada topik yang diminta. Tonjolkan kelebihan-kelebihan yang teman-teman miliki dalam bahasa yang sederhana dan elegan (*bahasanya yaa jangan terkesan pamer dan nyombong juga lah ya).
  • Lengkapi berkas seperti yang diminta. LoA, sebaiknya yang dikeluarkan resmi dari Universitas. Bukan cuma bermodal pengumuman di web. Bagi teman-teman yang lulus SIMAK UI, bisa meminta ke dekanat surat keterangan lulus yang ada kop resmi UI nya. 
  • Bagi yang on going berarti surat keterangan aktif kuliah, plus IPK yang sudah dilegalisir. Juga untuk surat Rekomendasi sebaiknya minta langsung kepada dosen atau pejabat kampus.  *Anak FIK UI bisa langsung urus ke RIK lantai 1.
  • Sertifikat prestasi, usahakan ada ya… Teman saya yang gak upload sertifikat prestasi ada yang lolos di administrasi sih, tapi kemudian gagal di wawancara. Apakah harus prestasi skala Nasional dan International? Tidak harus. Bahkan saya pribadi semacam juara lomba tingkat Fakultas aja saya masukin, jadi moderator di seminar Nasional saya masukin juga (*jika menurut orang-orang itu bukan prestasi, bagi saya itu sebuah prestasi 😁), termasuk beberapa penghargaan yang ada sertifikat nya turut saya list di web (bukan semacam perlombaan, hanya penghargaan biasa). Sertifikat prestasi di scan dan upload. 
  • Persiapkan semua scanning berkas asli sejak jauh-jauh hari. Kenapa? Setelah sempat gagal BU di dua batch tahun lalu, saya sempat berkonsultasi dengan teman yang lulus. Kemudian dia memberikan saran yang cukup mengejutkan. Konon kabarnya, BU lebih mendahulukan pendaftar dengan berkas komplit, dan berada di nomer urut pendaftar pertama. Jadi semakin cepat kamu bikin akun dan submit bahan, maka lebih baik. Saya tidak tahu apakah hal ini masih berlaku tahun ini atau bagaimana. Yang jelas, pada trial ketiga, saya mencoba mendaftar di awal-awal waktu pendaftaran, bahkan saya dapat no. Reg ke ’39’, upload semua bahan di hari yang sama, kemudian submit as soon as tombol submit muncul (dua minggu waktu pendaftaran dibuka, tombol submit belum muncul). Dan Alhamdulillah saya berhasil lolos seleksi administrasi dan berkas. 

Jadi intinya, persiapkan bahan dan persyaratan di awal-awal waktu sebelum pendaftaran dibuka, meski rentang waktu pengisian cukup lama. 

  • Jangan mengabaikan syarat “TOEFL ITP 500”, kabarnya sih dulu gak dilihat-lihat amat jenis sertifikatnya, tapi tahun ini terlihat sangat ketat. Sertifikat asli ITP harus dilampirkan. 
  • Ingat, semua berkas asli akan diperlihatkan saat wawancara 😊 jadi berusahalah hati-hati dan jujur.
  • Setelah lulus seleksi administrasi, akan ada seleksi wawancara. Kata teman saya yang lulus tahun 2014-2015 , dipanggil wawancara berarti kamu sudah lulus resmi. Wawancara jadi terkesan formalitas. Karena ketika wawancara langsung diminta Nomer Rekening dan menandatangani kontrak beasiswa. Taaaaaapi tahun ini sudah berubah. Lulus administrasi bukan berarti lulus 100%, buktinya teman saya ada yang gugur di wawancara. 
  • Kabar baiknya adalah, wawancara BU tidak semenyeramkan wawancara LPDP. Jujur, seumur-umur ikut wawancara (mulai dari seleksi Osis jaman SMA sampai terakhir wawancara SIMAK UI), saya tidak pernah nangis selesainya wawancara. Tapi ketika wawancara LPDP, saya keluar ruangan dengan langkah tegap namun setelahnya tak kuasa menahan air mata 😁. Benar-benar menguras emosi. Karena saya menyadari betapa keliru dan bod*h nya jawaban yang saya berikan kepada 3 orang pewawancara tersebut. Ya, semua teori yang sudah saya pelajari tentang wawancara  sama sekali tidak saya aplikasikan di sana. 😟. Jadi pewawancara BU hanya 1 orang, jika beruntung kamu akan mendapatkan pewawancara yang justru cuma mengkonfirmasi berkas-berkas dan menanyakan kondisi perkuliahan. Jika ‘agak kurang beruntung’, maka kalian bisa bertemu dengan pewawancara yang ngajak interaksi menggunakan bahasa Inggris full 😂
  • Oia, BU sama dengan LPDP hanya membiayai dua tahun. Jadi Perawat yang mau ambil spesialis selama 1 tahun lagi, mungkin harus cari sumber dana lain. Pendanaannya berupa uang kuliah, biaya hidup, uang buku. Meski tidak sebesar LPDP, saya pikir ini cukup bisa diandalkan untuk bertahan hidup 😁. 

Sementara sekian dulu, feel free jika ada teman-teman yang mau bertanya. 😁

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s