#1Ramadhan 21 Rakaat

Seperti halnya ekspektasi dan prediksi, ternyata Hipotesis nol saya (Nur’aini tidak akan mendapati hari pertama Ramadhan di rumah), gagal ditolak. Ya, begitu banyak ketidakpastian yang membuat saya harus bertahan di sini hingga 1 Ramadhan datang. 

Lagi-lagi di luar prediksi, suasana Ramadhan kali ini sungguh berbeda jauh dengan rumah. Tidak ada “balimau” (i mean, balimau yang keliling rumah-rumah tetangga untuk bermaafan, bukan yang jalan-jalan menuju sumber air), tidak ada ‘marandang’, tidak ada pembagian imsyakiah dari Mesjid. Jangan tanyakan perihal pasa pabukoan ples beranekaragam jajanan. Saya belum menemukan spesifikasi yang menyenangkan dari semua ritual di sini. Ya, saya betul-betul seperti orang asing, sehingga 1 Ramadhan yang seharusnya berjalan khidmat, hanya berlalu begitu saja, dengan sajian lagi-lagi ayam goreng dari warteg sebelah. 😶😶

Malamnya, mesjid di sebelah kosan-pun menjadi pilihan. Tak dinyana, setelah kepo jemaah sebelah, ternyata taraweh dan witirnya ada 21 rakaat, masing-masing 2-2 rakaat. Ini mengingatkan saya kepada pengalaman KKN di Solok Selatan 7 tahun yang lalu, taraweh di surau terdekat juga 21 rakaat, yang membuat saya pribadi gerah dan nyaris shock hipovolemik adalah kenyataan tidak bisa menikmati bacaan sholat dan gerakannya yang superb duper cepat. Kamu ingat lagu “Head, shoulder, Knees, and Toes? Ya, saya pikir gerakannya secepat itu. Jangan lupakan ruangan yang pengap, sisa-sisa kepulan asap rokok bapak-bapak saat mendengar ceramah. Bau nikotin dimana-mana!

Syukurlah mesjid ini tidak seperti pengalaman Ramadhan saat saya KKN, meski masih tergolong cepat, dan jangan lupakan ‘kulhuwallahu’ahad’ di setiap rakaat kedua. Bagi jamaah yang senang taraweh cepat, akan sangat senang solat di sini. Bagi yang mendambakan sholat khusyu’sembari bacaan imam yang merdu, errrrrr mungkin harus mencari mesjid lain. 

Namun yang paling membuat kurang puas jiwa raga adalah, saya belum menemukan ustad dengan ceramah yang menyegarkan hingga malam ketiga. Bahkan justru yang maju ke depan hanya pengurus mesjid dalam rangka menyampaikan progres pembangunan (mungkin di mesjid-mesjid lain ada ustad yang menyampaikan ceramah Ramadhan). Saya pikir panitia nya kurang serius. Mudah-mudahan ini hanya suudzonitas belaka. 

Tetiba kangen dengan Mesjid Asy-Syifa RSI Yarsi Bukittinggi. Sepanjang menjalani Ramadhan, saya pikir ustad-ustad yang mengisi kajian Ramadhan di Asy syifa Yarsi adalah yang terbaik. Selalu ada kejutan di setiap malamnya. Sampai-sampai Ramadhan tahun lalu, saya menyempatkan diri menulis ringkasan ceramah Ramadhan di blog (cek postingan Juni 2016).

Apapun itu, Alhamdulillah, Allah masih memberikan kita kesempatan untuk berjumpa dengan bulan istimewa yang penuh magfiroh. Tradisi dan kebiasaannya boleh berbeda-beda, namun untuk sesuatu yang istimewa, kita harus memberikan ‘usaha yang tak kalah istimewanya’.

Depok, 28.05.17

H-2 menuju  rumah 😊😊😊😊


Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s