#NulisRandom2017 D-2 Filo dan Sofi

#NulisRandom2017 ‘D2’ 

2 Juni 2017, Ramadhan 7

Hampir satu tahun menjadi pengguna commuter line kawasan Jabodetabek, saya hampir tidak pernah merasa sepenasaran ini dengan masinis KRL. Saya cuma merasa tertarik dengan announcer (*entah apa istilahnya) di stasiun yang menurut saya suaranya sangat merdu sekali dan terdengar mirip dengan beberapa announcer di beberapa stasiun. Mungkin mereka memiliki syarat ‘suara yang merdu dan renyah’ untuk melakukan rekruitmen 😊. Sampai akhirnya sore itu, saya melihat pemandangan yang indah sekaligus menyentuh hati.

Jadi siang menjelang sore itu, saya naik kereta dari stasiun Karet (satu stasiun dari Tanah Abang), bersyukur karena gerbong khusus perempuan masih belum sepadat sore biasanya dengan pengunjung yang pulang dari aktivitas ‘menjarah’ tenabang. Tapi tetap, jangan berharap untuk mendapatkan tempat duduk, itu kenikmatan termewah yang sangat langka di kereta! Beruntung saya bisa berdiri menyender di tiang tempat duduk menghadap ke pintu kereta di ujung gerbong, yang ternyata tadaaa… persis di depan saya, pintu keluar ruangan masinis, yang ternyata setiap sampai stasiun, si masinis keluar, berdiri memperhatikan arus keluar masuk penumpang dari gerbong sambil mengumumkan “Hati-hati pintu akan dibuka, pintu akan ditutup”, atau pengumuman stasiun yang sedang dilewati, dan semacam pengumuman-pengumuman lain seperti ‘hati-hati barang bawaan jangan sampai tertinggal’.

Selama ini, jujur, saya kesal sekali dengan siapapun yang mengendalikan pintu masuk-keluar gerbong kereta, karena waktu antara pintu membuka dan menutup singkat dan pendek sekali. Bahkan pernah gamis saya terjepit di pintu kereta karena belum sempurna berdiri pintu sudah ditutup (jadinya harus tunggu stasiun berikutnya untuk menarik ntuh rok). Jangan lupakan kejadian-kejadian mengerikan lainnya tentang dorong-dorongan, desak-desakkan di pintu masuk, bahkan yang paling tsadessst itu ada yang kejepit pintu untuk kemudian pintunya membuka kembali. Pernah juga seorang ibu yang sudah melompat ke luar kereta, eh anaknya kececer di dalam gerbong karena pintu sudah tertutup duluan. Sontak anak menangis keras karena merasa ditinggal mamaknya, untung kejadian tersebut dekat dengan ruangan masinis, sehingga pintu kembali dibuka agar anak kecil tersebut bisa menyusul ibu-nya keluar gerbong. “Itu orang bisa sabar sedikit gak sih!” ujar saya kesal di dalam hati.

Namun, hari itu saya melihat sendiri sang masinis berdiri sambil memperhatikan arus keluar masuk penumpang dengan penuh keseriusan, dengan durasi yang lebih lama dari biasanya! Yeay! Detik-detik sebelum pintu akan ditutup, datang tergopoh-gopoh seorang kakek sambil menggendong seorang nenek (*sepertinya istri) di punggungnya, membantu sang nenek naik ke gerbong perempuan, dibantu petugas PKD stasiun dan sang masinis tentunya! Ah, itu so sweet sekali. Sayang saya selalu terpana untuk sekedar mengabadikan momen tersebut. Setelah urusan menaikkan sang nenek ke gerbong perempuan selesai, barulah sang masinis mengumumkan ‘pintu akan ditutup’.

Di stasiun berikutnya, kegiatan yang sama berulang. Masinis keluar berdiri memperhatikan dengan seksama arus keluar masuk penumpang, kemudian pintu ditutup. Tepat saat pintu sudah tertutup, berlari-lari seorang kakek berusaha mencapai pintu masuk gerbong perempuan. Yaaah, telat 1 detik kek! Saya pikir kereta akan langsung jalan, but surprise! Pintunya kembali terbuka, si kakek tersenyum, dipersilahkan oleh petugas PKD untuk masuk gerbong perempuan dan kemudian merangsek ke gerbong belakang. Ck…ck..ck… kali ini saya memberikan standing applause (*di dalam hati) kepada sang masinis. Sungguh sangat berhati-hati, dan berbaik hati tentunya.

Mulai saat ini, mungkin saya akan sedikit mengubah pandangan kepada si petugas ‘pengendali’ buka tutup pintu ini, sang pengendali ular besi yang ditangannya terdapat tanggung jawab terhadap ribuan nyawa penumpang. Saya tidak tahu persis bagaimana cara mereka bekerja, namun tentu butuh tingkat konsentrasi yang tinggi. Namun, di dalam setiap profesi, selain sikap profesional, saya pikir butuh kebijaksanaan dalam bekerja. Ya, bekerja tidak hanya menggunakan otak, namun juga hati yang penuh cinta dan kebijaksanaan.

Sumber gambar

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s