#NulisRandom2017 D-1 Glorious Task

#NulisRandom2017 ‘D1’ Glorious Task

1 Juni 2017, Ramadhan 6

Tentang memberi…

Malam itu, kami menikmati es krim seharga empat ribu perak, es krim kedua yang kami makan setelah dua kali berpindah tempat. Duduk melantai di pelataran stasiun kereta Poncok Cina, sambil melanjutkan obrolan ngalur ngidul menyambung topik yang tak berkesudahan dari dua tempat tongkrongan sebelumnya. Entah apa saja yang kami bicarakan, yang jelas tak sambung menyambung hingga niat awal mengantarkan teman ke stasiun berubah menjadi agenda menyambung kisah.

Sampai seorang ibu berperawakan setengah baya, dengan tas selempang di pundaknya, bersama dua orang bocah, seorang perempuan dan seorang lelaki kurus, yang berlari riang gembira di teras stasiun. Si ibu ikut duduk melantai bersama kami sambil berkata pelan,”Mbak, saya boleh minta bantuan?”.

Kami berdua, sambil menghabiskan gigitan terakhir es krim batangan produksi Glico wings Jepang yang murah meriah, melirik sedikit tidak tertarik dengan ibu-ibu di sebelah. Ah, modus macam apalagi ini. Saya teringat kejadian tahun lalu, masih dengan teman yang sama, di postingan INI. Saya pikir ini jenis pola yang mirip. Namun kami enggan beranjak maupun menolak seperti yang sudah-sudah karena posisi sudah terlanjur enak, dan jangan lupakan sesi ‘sharing-sharing curhat’ yang masih terpending gegara kedatangan si ibu.

Sembari mendengar kisah yang mengalir begitu saja dari si ibu yang tidak bisa dihentikan, ya… kita coba dengarkan, siapa tahu lebih menarik dari kisah ibu-ibu dengan anak lelaki yang bercerita tentang kehabisan ongkos dan baterai handphone yang habis. Kisah bermula tentang lelaki cilik menjelang 5 tahun, anaknya yang sekarang sedang berlarian dengan kakaknya di pelataran stasiun, yang mengidap kelainan katup jantung bawaan. Sudah beberapa kali dioperasi, masih dalam masa rawat jalan, membutuhkan biaya untuk membeli susu guna memperbaiki status nutrisinya, untuk mempercepat proses pemulihan. Hebatnya, si ibu lengkap membawa “status anak” yang notabene harusnya berada di medical recordpasien di ruang rawat inap, berikut bukti rujukan dari dokter anak, dan hasil labor, dan entah apa lagi. Sebagai juru rawat yang bekerja di rumah sakit, sahabat saya tentu tidak asing dengan semua bukti fisik tersebut, lengkap membacakan jenis diagnosis serta status kesehatan saat ini. Saya sendiri lebih ke ‘percaya aja’, setelah mengecek sendiri tampilan fisik bocah kurus dengan jejas keloid post operasi di dadanya, dan bibir yang samar membiru dengan pernafasan yang terlihat menggunakan otot dada.

Curhatan ibu berlanjut ke sistem Jaminan Kesehatan yang ‘katanya’ memberikan jaminan terhadap kesehatan warga, namun pada kenyataannya masih banyak jenis obat-obatan tertentu yang tidak ditanggung B*JS, yang harus dibeli oleh keluarga pasien, dan biasanya jenis obat tersebut adalah obat yang mahal. Kami kemudian langsung mengklarifikasi bahwasanya untuk penyakit berat seperti yang diderita oleh anak ibu seharusnya dicover secara full oleh BP*S, dokternya pun pasti dengan penuh kebijsanaan akan memilih obat-obatan yang hanya ditanggung jaminan kesehatan. Cuma tetap saja si ibu melanjutkan keluh kesahnya kenapa ketika anaknya dirawat jalan tidak ada lagi tanggungan untuk proses pemulihan, seperti untuk kebutuhan susu, nutrisi anak pada pasien pra sejahtera, mana susu yang disarankan dokter tidak main-main harganya, susu mahal ceunah! Untuk yang satu ini kami sangat sepakat. Karena memang belum ada kebijakan BPJS (*maaf saya malas nyensor) hanya konsen pada proses kuratif (pengobatan), sedangkan pada masa rehabilitatif yang notabene tidak hanya sekedar membutuhkan obat-obatan, dan yang paling penting tahap Preventif (pencegahan) tidak mendapatkan perhatian. Saya pikir jaminan kesehatan harus menjangkau aspek-aspek tersebut, sehingga pembiayaan yang mahal dan berfokus pada proses kuratif bisa ditekan, karena kita sudah melakukan pencegahan dan perawatan yang paripurna sebelumnya.

Setelah akhirnya memberikan uang, yang membuat kami berdua kemudian “concern” ingin menceramahi si ibu adalah apa yang “dilakukan” ibu ini.

“Jadi, ibu jalan dari stasiun ke stasiun untuk minta sumbangan seperti ini? Memangnya bisa dapat berapa bu? Ibu gak kasihan apa dengan anaknya? Anak seperti ini tidak boleh kelelahan lho bu. Harusnya banyak istirahat d rumah. Apalagi ini sudah malam, coba lihat bibir anaknya, sudah membiru begitu”.

“Ya mau gimana lagi mbak, saya tinggal di rumah dia gak mau, penginnya ikut terus kemana saya pergi”.

“Ibu udah coba minta bantuan badan amil zakat? Ibu punya kartu Jakarta sehat? Kartu Jakarta sejahtera(?) ?” Kalap kami menanyakan bermacam-macam.

Dan kemudian si ibu memulai lagi curhatannya tentang KJS yang sama sekali tidak ‘berfaedah’, bahkan suaminya yang fraktur batal operasi karena tidak ditanggung katanya. Kami cuma bisa melongo, oh dear God

Tidak memperpanjang omelan, kami hanya bisa terdiam seiring si ibu yang kemudian meneriaki anak-anaknya yang menjatuhkan popcorn yang diberikan seorang pengunjung stasiun ke lantai. Kemudian mereka beranjak, meninggalkan kami berdua yang termangu. Berusaha mencerna penggalan kisah nyata yang baru saja kami dengarkan.

Semacam, selama ini kita terlalu asyik berfokus pada persoalan remeh temeh kehidupan pribadi, kegalauan-kegalauan receh, sementara begitu banyak orang yang mempunyai masalah besar dan berat yang tantangannya berkisar antara hidup dan mati.

Terlebih sebagai seorang tenaga kesehatan, rasanya belum seupiiiiiiiil-pun kontribusi kami dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Sehingga obrolan gaje menjelang pukul 9 kami lanjutkan dengan permasalahan-permasalahan pelik di dunia kesehatan, pergosipan-pergosipan belakang layar tentang busuknya sistem kesehatan Indonesia. Naudzubillahimindzalik.

Kelak, jika terlanjur rapuh karena peliknya permasalah dunia, saya akan selalu mengingat cerita ini, dan tentang betapa besarnya tanggung jawab yang harus saya sebagai seorang perawat kelak harus pikul. Jika kamu serapuh itu, bagaimana nanti mau menangani masalah kesehatan bangsa?

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s