#NulisRandom2017 D-6 Responsibility

#NulisRandom2017 D-6

“Ih, bapak suaminya kan? Bapak gimana sih? Ayok buruan ditandatangani… Masa keputusan begini harus tunggu Mamah-nya datang dulu”

Suara bidan yang sedang melakukan informed consent untuk tindakan operasi sesar kembali meninggi. Saya sudah menyimak percakapan mereka sejak tadi sembari memantau denyut jantung janin pasien ibu inpartu lainnya, bukannya berniat kepo atau nguping, namun ruangan VK (Verlos Kamer) a.k.a kamar bersalin yang didesign seperti ruangan ICU ini sangat memungkinkan untuk mendengarkan percakapan manusia dalam desibel suara normal.

“Iya, tunggu Mamah-nya istri saya datang dulu”, kembali “sang bapak”, seorang lelaki dewasa pemula berperawakan mungil -yang saya berani jamin tinggi badannya tidak lebih dari adik saya yang masih kelas 2 SMA, begitu juga dengan ‘face’nya.

“Pak, istri bapak itu kondisinya sudah menurun. Kita sudah bantu dengan obat tapi tidak ada kemajuan dalam persalinannya, ini letak bayinya sunsang lho! Kalau bapak masih belum bisa memutuskan untuk dioperasi, kami tidak bisa bertanggungjawab jika terjadi apa-apa kepada istri bapak”, Bu Bidan sudah mencapai titik kulminasi emosionalnya dalam berkomunikasi dengan keluarga pasien.

Saya tertegun, berasa sedang menonton sinetron dalam versi ‘live action’ di dunia nyata. Tampak si Bapak masih meragu. Saya tidak perhatikan lagi, mulai fokus dengan pasien saya sendiri. Yang jelas, beberapa jam kemudian “Mamah”-nya istri si Bapak datang, terbata-bata membaca lembar persetujuan sambil membubuhkan tanda tangan di sana.

Ini sungguh fenomena yang cukup membuat saya merenung, sambil tersenyum miris. Saya ikut memantau ibu muda 19 tahun inpartu, istri si Bapak tersebut sejak pagi. Kondisinya sungguh membuat kasihan. Bagaimana tidak, sejak dini hari sudah menahan mulas karena kontraksi. Masuk VK dari IGD pukul 8.30, letak janin diketahui sunsang dengan bokong bayi di bawah, tampak mekonium (BAB pertama bayi) sudah berceceran di sekitaran paha ibu. Beberapa jam di VK, ibu menggigil kedinginan, kami curigai kejang, ibu segera dipasangi infus, cek suhu ternyata memang panas, semua petugas mulai cemas ketika ibu muda tersebut mulai mengalami penurunan kesadaran. Sementara ‘si bapak’ sudah bikin gemas sejak dimintai tolong membawakan air teh hangat tapi lamanya minta ampun. Minta dibawakan perlengkapan bayi segera, katanya ketinggalan di mobil yang mengantar tadi. Bikin gregetan! Dan sekarang, istrinya akan diberikan tindakan SC, eh malah tidak bisa memberikan keputusan dan menandatangani informed consent. Memilih menyerahkan keputusan kepada orang tuanya, yang -demi janggut merlin- sedang tidak berada di RS, jadi harus menunggu lagi. Saya tidak tahu ada masalah apa di keluarga mereka, namun dari gesture dan tingkah laku pria muda itu, saya menangkap adanya kegamangan, ketakutan dan ketidaksiapan untuk mengambil risiko.

Oh dear, ketika kamu memutuskan menikahi seorang anak perempuan, berarti kamu sudah siap untuk mengambil alih tanggung jawab atas kehidupan si gadis dari kedua orang tuanya, dunia akhirat! Termasuk dalam menentukan tindakan untuk mempertahankan keselamatan istri. Hakikat menikah bukan hanya sekedar “Horrray saya nikah muda, kereeen, honey moon, punya anak, yeay! One step ahead dari para jombloers”. Tchk! Bukannya meremehkan, tapi sungguh menikah tidak seremeh temeh itu! (*saya bilang begini bukan berarti saya tidak mendukung nikah muda yess, do not bully meeh!). Begitu juga dengan perempuan, menjadi ibu adalah fitrah wanita yang harus disyukuri, dan kehamilan serta persalinan mungkin sebuah proses yang memberikan perubahan secara fisiologis dan psikologis yang harus dijalani dengan penuh kesabaran. Jujur, saya sering menjumpai ibu-ibu muda yang teriak-teriak (*di luar batas normal sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya) ketika menjalani proses persalinan. Sampai akhirnya trauma dan depresi tidak mau hamil lagi. Oh ya, saya belum pernah melahirkan btw, tapi belum pernah hamil bukan berarti saya tidak bisa menyampaikan informasi begini yak! 🙂

Family support’ sangat berperan dalam membantu kesuksesan proses persalinan ibu hamil. Bukan hanya dari segi fasilitas maupun akomodasi, namun juga dukungan psikologis, serta dalam pengambilan keputusan. Dan orang yang paling berperan penting dalam memberikan dukungan adalah suami, kemudian diikuti keluarga yang lain. Proses hamil, bersalin, merupakan kejadian luar biasa yang akan mengubah struktur dari sebuah keluarga. Yang sebelumnya hanya berstatus sebagai istri, maka akan berubah menjadi ibu, ada yang kemudian menjadi kakek, nenek, om, tante, dan BAPAK. Termasuk perubahan sosial keluarga. Untuk itu, semuanya memiliki peran dalam memberikan dukungan terhadap ibu yang berjuang melewati proses persalinan, mulai dari masa kehamilan sampai pada masa perawatan bayi baru lahir dan seterusnya (saya ngetik ini berasa lagi bikin bahan ajar).

Oke, karena ini dalam rangka #NulisRandom , saya tidak akan terlalu banyak memaparkan teoritis. Di kesempatan lain mungkin kita bisa membahas lagi. Feel free to discuss.

Semoga bermanfaat.

20161112_113557

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s