#NulisRandom2017 D-7 (It’s the Climb)

#NulisRandom2017 D-7
Setelah menceritakan impian-impian hebatnya, dengan mata yang berkilat oleh pancaran semangat, Ibu hanya memandang gusar anak perempuan yang kali ini berbaring tiduran, tepat di sebelahnya.
“Kenapa buk?”, tanya anak perempuannya.
“Ibu takut Ra, cita-citamu terlalu tinggi”.
“Kenapa ibu takut?”
“Ibu takut membayangkan jika suatu saat di masa depan, jika kamu tidak bisa meraihnya, kemudian stres, depresi, tidak bisa mengendalikan diri. Tetiba gila…”
Anak perempuan bernama Muara itu tertawa sambil membekap mulutnya dengan sebelah tangan.
“Aku sudah siap jika suatu saat impianku tidak tercapai buk, selalu ada plan B, plan C hingga Z untuk menggantikannya, mereka tak akan kalah hebat, jika niatku lurus dan benar. Lagian Ra sudah terbiasa gagal buk. Sudah pernah kecewa berkali-kali. Siap bermimpi, berarti harus siap terjatuh. Tapi mencari cara untuk bangun lagi adalah yang terpenting, bukankah begitu buk?”, senyumnya masih mengulum, seperti tak ada yang akan bisa memupus rencana besar di kepalanya.

“Tapi kamu perempuan nak. Suatu saat harus berkeluarga, mendidik anak-anakmu. Kamu tidak bisa melakukan semuanya bersamaan. Harus ada yang dikorbankan”, suara ibu kali ini serius. Perempuan sederhana, yang hanya berani bercita-cita menjadi seorang guru sekolah dasar agar bisa tetap mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga itu menatap gusar anak perempuannya.

“Aku merasa… aku mampu dan bisa buk. Banyak contoh perempuan hebat di luar sana yang berhasil melakukannya dengan baik. Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku hanya… tidak bisa menyerah”. Muara yang sebelumnya menatap langit-langit kamar memiringkan posisi tidurnya, menghadap dan menatap kedua bola mata wanita yang telah melahirkannya tersebut. Tersenyum hangat, berusaha meyakinkan.

“Aku butuh restu ibuk… Aku tidak akan bisa berjalan dan berjuang jika ibuk sendiri tidak rela”, kali ini suaranya memelas, persis seperti balita yang tidak diberi permen kesukaannya.

Ibu mendesah pelan, untuk kemudian menarik nafas dalam. Ia berpikir ulang, tentang rela merelakan. Ya, ia menyadari jika pikirannya terlalu kuno, konservatif, terbelakang, sedangkan Muara telah jauh melesat, ia berada pada dimensi waktu yang berbeda.

Ibu juga diajarkan untuk berjuang, namun ia tahu kapan saatnya menyerah, sedangkan putrinya yang sudah dewasa ini hanya tahu tentang berjuang, terjatuh untuk kemudian bangkit lagi. Tidak ada kata menyerah.

Ibu hanya tahu tentang bertransaksi dengan perjuangan dunia untuk mencapai zona nyaman dan kemudian bertahan. Mengendalikan pusara keadaan agar tetap stabil dan menyenangkan. Sementara putrinya seperti terobsesi dengan sesuatu yang bernama pencapaian. Meskipun niatnya baik, namun selalu ada kengerian melepas putrinya menghadang dunia baru yang penuh tantangan.

Ia ingin putrinya tinggal di sisinya, namun memadamkan semangatnya sama saja dengan menyuruhnya untuk menyerah dan menerima kegagalan. Dan ia tahu persis itu adalah perbuatan yang sangat jahat.

Lagi-lagi ibu menarik nafas dalam, berharap oksigen memenuhi rongga parunya untuk kemudian mentransfer energi melalui tiap sel tubuh, agar ia bisa memiliki kekuatan untuk merelakan, merestui. Seperti apa yang putrinya inginkan.

“Nak, hidup ini seperti perjalanan mendaki gunung. Keberhasilan bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga bagaimana menikmati pemandangan bukit dan lembah, mendengar suara burung dan menyaksikan gumpalan awan yang beriringan. Namun yang terpenting, setelah mencapai puncak, turunlah kembali dengan selamat”, ibu memulai nasehatnya. Muara memperbaiki posisi tidurnya meringkuk menghadap ibu, sehingga ia bisa mencium wangi ibunya yang khas, persis seperti janin di dalam rahim.

“Banyak pendaki hebat yang namanya dicatat sejarah, bukan hanya karena ia berhasil mencapai puncak tertinggi, namun karena ia juga berhasil turun dengan selamat. Nyatanya, justru banyak pendaki yang menemui ajal ketika dalam perjalanan turun. Bagi pendaki, setiap meter adalah memupuk kebanggaan, tujuan jelas: Titik tertinggi, namun ketika turun, ia harus me-reset hatinya, dikembalikan ke titik nol, perjalanan turun adalah proses melucuti ego. Jauh lebih mudah memupuk kekayaan sepanjang hidup, daripada melepaskan semua itu. Bukan, bukan berarti setelah berada di puncak nanti kamu harus segera terjun bebas ke bawah nak, tidak… Namun hatimu harus segera dikembalikan pada titik nol. Lepaskan semua ambisi…”.

Muara tercenung. Ambisi… Ia sama sekali tidak menganggap semua impiannya adalah ambisi. Namun bagaimana semangatnya mewujudkan cita-cita mungkin tampak seperti orang yang sangat berambisi di mata orang lain. Atau… memang selama ini begitu, namun ia tidak menyadarinya? Muara menyadari, Ibu hanya mengkhawatirkan dirinya, dan itu adalah fitrah seorang ibu yang tidak bisa ia cegah. Untuk apa semua pencapaian jika selama menjalani proses ada hati yang ia buat resah dan gelisah.

Kali ini Muara mengangguk paham. Menyuguhkan senyuman manisnya kepada ibu, berharap ia bisa mentransfer kenyamanan dan mensugesti “It’s okay buk, everything is gonna be alright. Selama ibu mengirimkan doa kepada yang Maha Kuasa, bukan hanya agar Ra menjadi sukses, namun juga agar Ra diberikan kemampuan untuk mendaki puncak dan kemudian turun dengan selamat. Untuk membuat ibuk bahagia, menciptakan keluarga baru yang bahagia”.

Kali ini, kedua anak beranak itu tertawa, demi kesepakatan dan transfer pemahaman yang mereka lakukan. Hal langka yang sering tidak dilakukan banyak orang dan membiarkan diri mereka terpuruk dalam prasangka dan kekhawatiran.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hello readers! Kalimat nasehat ibu saya angkat dari paragraf yang ada di buku “Titik Nol” karya Agustinus Wibowo, meski baru menyelesaikan separuh buku, namun sudah sangat menginspirasi sejauh ini.

Oh ya, by the way saya tidak ahli bikin cerpen. Karena saya tidak terlalu ahli menciptakan terminasi yang tidak anti klimaks. Penggalan kisah fiktif di atas mungkin saja terjadi di kehidupan nyata, semoga bisa menjadi bahan bacaan bagi teman-teman semua.

20160522_181315.jpg

Foto diambil dari lantai dua belakang RSI Ibnu Sina Yarsi Bukittinggi

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s