#NulisRandom2017 D-8 Judgment

#NulisRandom2017 D-8

8 Juni 2017

Pernah berjumpa atau bersahabat dengan seseorang yang semula berhijab kemudian melepaskan hijabnya dengan alasan yang kamu sendiri tidak terlalu mengerti kenapa? Kamu hanya bisa menduga-duga penyebabnya, namun tak kunjung mendapatkan jawaban.

Kurangnya pemahaman? Kamu bahkan mengenal persis betapa tingginya pengetahuan agama si teman.

Hidayahnya dicabut? Oh come on, kamu bahkan tidak bisa membedakan mana yang sudah dan mana yang belum menerima hidayah. Lagian, apa benar ada hidayah yang bisa menghilang begitu saja? Tapi bisa saja, jika Allah yang mengkehendaki.

Kekecewaan? Ngg… Ya, mungkin. Di sisi ini, kamu mengenal si teman sebagai sosok yang memiliki begitu banyak problematika kehidupan, orang yang diharapkannya menjadi sandaran malah berbalik arah. Menimbulkan kekecewaan.

Karna Judgmen orang lain? Oh ya… di samping banyaknya masalah, ia juga terlalu banyak terpapar dan mengkonsumsi hujatan demi apa yang dipikirkannya, dilakukannya, asal-usulnya. Sejujurnya terlalu banyak orang yang berekspektasi tinggi terhadapnya, namun mereka tidak menemukan apa yang mereka ekspektasikan, kemudian malah mengeluarkan pendapat negatif, mencela, dan kata-kata sadis lainnya. Kuberitahu alasan yang lebih detail: Ibunya dikenal sebagai seorang muslimah yang taat dengan jilbab rapi menutupi dada. Sementara ia terlalu nyaman dengan style busana jilbab yang sedikit modis, kekinian. Kemudian pada akhirnya banyak yang membanding-bandingkan ia dengan ibunya, dengan si A, si B, si C. Hm, kau tahu? Tidak ada yang suka dibanding-bandingkan. Ia marah, dan malah berbalik menyimpan rapi jilbab-jilbabnya di lemari. Dan mempersilahkan orang-orang mau berkata apa.

Kadang, yang membuat hancur dan rusaknya jiwa saudara kita adalah umat islam itu sendiri. Bisa dari perkataan, cara menanggapi, bagaimana berperilaku dan bersikap.

Mungkin, sekian lama kita hanya bertumpu pada betapa hebatnya ilmu kita, sehingga tidak sadar telah mengedepankan ego dalam bersikap terhadap orang lain.

Mungkin kita lupa dengan ajaran yang terkandung dalam surat Ali Imron (2): 159,”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”.

Sudahkah kita mengamalkan ayat tersebut? Jangankan kepada kaum non-islam, kepada saudara sendiri kadang kita suka berlaku kejam. Menghujam mereka dengan perkataan-perkataan menusuk. Mencela dengan bebas di dunia maya, seolah mereka adalah kaum paling hina yang harus dihinakan.

“Ajaklah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” (Q.S An-Nahl: 125)

Apakah alasan mereka telah berlaku dzolim kepada umat islam harus dibalas dengan bentuk yang serupa? Kita bisa berkaca dari aksi 411, 212, semuanya dilakukan dengan tertib dan baik. Dengan perkataan yang sewajarnya menuntut keadilan. Dan jangan lupakan kisah Rasulullah yang memberi makan kafir yang saban hari selalu menghina, meludahi, dan melempar kotoran ketika si kafir jatuh sakit. Sama sekali dengan perlakukan yang baik.

i

Screenshot_20170609_012649

she said, it’s beautiful to know some people whou would stay with her for who he is, not what she wears. See??????

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s