#NulisRandom2017 D-12 Dojo Kun

Apalagi yang lebih indah dari sebuah memorabilia selain satu dua cerita tentang kejadian masa lampau yang memorable untuk dikisahkan lagi pada satu atau dua hitungan tahun kemudian? 

Mendadak semalam tanpa preambule Mbak Rin berkirim pesan untuk dikirimkan foto-foto jejaman pelantikan sabuk karate. Sedikit terkejut karena saya sendiri mengingat tidak terlalu banyak dokumentasi kami pada penggalan episode latihan karate sejak 7 tahun yang lalu itu. Entah terselip di folder tahun berapa foto-foto tersebut. 

Akhirnya dari berpuluh folder dengan beribu file foto kenangan yang saya rangkum sejak 10 tahun yang lalu, terdapat satu folder dengan merk ‘Karate’. Meski tidak banyak, namun cukup worthy untuk membangkitkan kenangan latihan di lapangan badminton, persis di tengah-tengah deretan labor anatomi-fisiologi FK Unand itu (*yang sekarang bentuknya sudah tidak sama lagi). 

Membaca foto tersebut, sejumput kenangan kembali hadir. Saya sendiri mengingat latihan karate bukan hanya sekedar sebagai latihan fisik dan self defense. Namun juga latihan mental serta merupakan salah satu akses untuk melepaskan penat serta stres karena beban perkuliahan dan organisasi. Jika biasanya kami sedikit malu untuk berteriak di pinggir pantai untuk mengurangi beratnya beban kehidupan (padahal masih usia 20-an tapi udah sok-sok an punya banyak beban 😂), maka di latihan karate, kita puas-puasin berteriak ‘Kiaaaaai’ (peledakan energi dan semangat bersatu dalam suara), latihan gerakan, atau berkumite ‘melawan’ beberapa teman, meskipun esok paginya berakhir pegel, nyeri, linu, ada sedikit lebam, but it’s okay. Kita bergembira setiap kali senpai mengajarkan gerakan tambahan. Latihanpun sering diiringi canda tawa. Tidak terlalu serius , tapi kita tahu persis kapan harus fokus dan kapan bisa tertawa lepas. 

Dan pengasahan mental, saya ingat waktu pelantikan sabuk pertama (dari putih ke kuning), senpai menyebar sabuk dengan nama kami ke seantero lorong lab yang dibuat gelap (tahu sendiri seramnya lab anatomi gimana), atau ketika kita pelantikan di taplau (tapi lawuik) Padang ples adegan merayapnya, atau ketika senpai menguji ketahanan nafas (Kime) dengan memberikan oi zuki chudan (pukulan ke bagian abdomen).

Oh ya… Jangan lupakan Dojo-kun yang selalu kita baca sesaat sebelum mulai latihan. Jika Pramuka memiliki Dasa Dharma yang harus dihapalkan dan sesekali akan ditanya senior, maka di karate ada ‘Sumpah Karate’ yang wajib dilafalkan setiap latihan. 

  • Sanggup Memelihara Kepribadian

  • Sanggup Patuh Pada Kejujuran

  • Sanggup Mempertinggi Prestasi

  • Sanggup Menjaga Sopan Santun

  • Sanggup Menguasai Diri

Pembahasan tentang Dojo Kun bisa dibaca  lengkap di 

POSTINGAN INI

Saya ingat, senpai selalu menceramahi kami tentang semakin tinggi sabuk seorang karateka, maka semakin rendah hati ia seharusnya dan semakin pandailah ia menguasai diri. Bahkan sabuk hitam sekalipun, warnanya akan semakin memudar, kembali ke warna putih. Dengan filosofi ia harus semakin rendah hati.


Semakin tinggi yang diraih seseorang, maka semakin rendah hatinya.

Selain kegiatan latihannya, ingatan yang menyenangkan tentang latihan karate adalag bersepeda sambil membonceng Liza atau Feni dan obrolan singkat ketika menemani mbak Rin yang menunggu jemputan di depan gerbang FK, meski sudah pukul 10 malam.

Well, saya rindu latihan karate lagi, namun sejak selesai dengan segala amanah di Kota Padang tahun 2013, saya belum menemukan dojo yang senyaman dan se’aman’ DOMUSKE (Dojo Muslimah Kedokteran).

Kabar terbaru dari senpai, Domuske yang sempat vakum sudah aktif kembali dengan jadwal latihan di hari Rabu dan Minggu pukul 19.00, semoga masih terbuka untuk muslimah Kota Padang.

😊😊😊😊


Pada akhirnya, membahasakan rindu pada narasi kata selalu menjadi aktivitas menyenangkan sekaligus menciptakan episode baru untuk dikenang di suatu saat di masa depan.


Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s