#NulisRandom2017 D-14 Book Review: Titik Nol-Agustinus Wibowo

“Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berarti berhenti di situ. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada adalah lingkaran sempurna, tanpa sudut tanpa batas. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali.”

Judul        : Titik Nol
Penulis    : Agustinus Wibowo
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama
Jenis         : Novel
Genre      : Traveling
Terbit       : Februari 2013
Halaman : xii + 556
Ukuran    : 13,5 x 20 cm

Thanks to Aan dan Ami yang sudah merekomendasikan buku ini melalui postingan-postingan keren di blognya 😊

Sebagai  penggemar Travel Book, saya menemukan cita rasa berbeda dari bagaimana Agustinus Wibowo mengisahkan perjalanannya di dalam buku ‘Titik Nol’ ini. Apa yang selama ini dielu-elukan dalam cerita bernama ‘traveling’ justru dikemas dari sisi yang tidak biasanya. Bukan lagi tentang pesona suatu lokasi wisata, kemegahan dan kecanggihan fasilitas bangsa, atau keseruan menelusuri tempat-tempat baru. Namun sebuah perjalanan berliku, menantang jiwa petualangan, dengan segala keterbatasan dan hambatan, yang mengulik keeksotisan kehidupan penduduk di tempat persinggahan, menyaksikan langsung ritual setempat, lengkap dengan tragedi dan gaya hidupnya.

Semuanya bermula dari kepulangan Agustinus ke ‘rumah’, setelah melanglang buana nyaris 10 tahun lamanya, karena mendengar kabar Mamanya yang kritis dengan kanker ovarium yang sudah bermetastase ke organ tubuh yang lain. 

Kemudian hari-hari berkisahpun dimulai. Agustinus yang menjalankan perannya sebagai anak, membaktikan diri merawat hari demi hari Mamanya yang hanya mampu berbaring di bed pasien, mengisahkan lika-liku perjalanan, sebuah  ‘safarnama’, yang alurnya di dalam buku ini, juga mengikuti kisah-kisah lama yang terjadi di dalam kehidupan Mamanya. Perempuan keturunan Tionghoa yang hanya tahu tentang bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.

Petualangan Agustinus dimulai saat ia menembus Tibet secara ilegal dengan hanya bermodalkan wajahnya yang mirip penduduk setempat. Ia sukses berziarah mengelilingi Gunung suci Kailash. Memasuki pegunungan Himalaya, dia justru terkatung-katung di Nepal lantaran dompetnya dicuri, menjadi pengembara kere. Pindah ke India, Agustinus harus membuyarkan imajinasinya tentang negeri tarian ala film Bollywood. Satu tujuan mulia yang akhirnya terlaksana, dia menjadi relawan gempa di lembah Kashmir yang mempesona. Di Pakistan dan Afganistan, Agustinus menjadi saksi mata atas konflik agama dan perang berkecamuk yang tiada henti. Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si petualang pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Ia kembali ke titik nol awal perjalanannya. Tapi justru di sini, dari ibunya, dia menemukan semua makna perjalanan yang selama ini terabaikan.  (sumber).

Jika dilihat, justru negara-negara dan tempat yang dikunjungi, dan bagaimana Agustinus melakukan perjalannnya, sangat tidak disarankan dan bukan kebiasaan para turis yang hanya ingin menikmati kemewahan, jeprat-jepret keindahan. Ada kisah-kisah unik yang dibawa penulis dari setiap tempat yang disinggahinya. Pembuktian-pembuktian terhadap rumor suatu bangsa. Seperti India yang tidak seromantis di film-film nya, tetapi justru penuh konflik dan drama, tentang kaum Syi’ah yang mencambuki diri sendiri ketika perayaan Muharram, tentang Afghanistan yang tidak melulu tentang bom dan perang.

Bahasa yang digunakan Agustinus dalam mendeskripsikan kejadian demi kejadian sangat runut dan enak untuk dibaca. Alurnya juga jelas, meski diselang-selingi dengan cerita tentang keluarga, namun tetap mudah untuk dipahami. 

Meski terkadang bahasa yang digunakan cukup vulgar dan apa-adanya, justru banyak paragraf menarik dan ‘menyentil’ tentang konsep Travelling yang selama ini digaung-gaungkan. Mengajak pembaca untuk tidak melulu berkutat dan mendambakan perjalanan luar negeri yang penuh keindahan dan kemodern-an. Bahwa sesungguhnya perjalanan penuh risiko dan bahaya yang harus diantisipasi. 

Saya pribadi justru merasa lebih greget dengan kisah petualangan yang dilakukan Agustinus dibandingkan buku-buku travelling lainnya. Bagaimana Agustinus mengangkat isyu tentang umat antar beragama juga sangat elegan dan sama sekali tidak menimbulkan kebencian. Bahkan sebagai umat islam, saya cukup dikagetkan dengan beberapa fakta tentang islam di India, Pakistan, atau Afghanistan. Setidaknya, saya semakin merasa bersyukur terlahir sebagai umat islam di Indonesia.

Berikut beberapa paragraf yang saya favorite-kan dari novel ini 😊

”Safarnama itu bukan melulu tentang kisah-kisah eksotis. Perjalanan itu bukan hanya soal geografi dan konstelasi, perpindahan fisik, lokasi dan lokasi. Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berhenti di situ. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik Nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada hanyalah lingkaran sempurna, tanpa sudut tanpa bats. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali.”
“Sungguhkah dia bernama Mimpi? Dia yang terus menyuruhku pergi jauh-jauh, mengingatkan bahwa aku adalah pemberani yang mengejar cita-cita tinggi? Apakah ini sungguhan Mimpi? Bukankah ini hanyalah sebuah pelarian, yang didasari akan ketakutan terhadap realita?”

“Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang”.

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s