#NulisRandom2017 D-19 Memori Ramadhan

Malam ini adalah malam terakhir Ramadhan. Syifa tampak bersemangat, meski sudah berniat untuk tidak hadir ke Mesjid sebelumnya. Apa pasal? Karena pengurus mesjid akan memberikan ‘Hadiah’, semacam THR bagi anak-anak yang selama Ramadhan tampil sebagai MC/Protokol, kultum, Hafiz Qur’an di Mesjid kampung kami. Jumlahnya lumayan, semula Syifa berpikir ‘Pasti hadiahnya buku lagi… heu buku terus’, dan Uni menggoda Syifa,”Paling pitih lanjo moibu 😂😂”. Tapi Alhamdulillah uang THR yang diselipkan di amplop tersebut lumayan untuk beli paket data 2Gb Telkomsel 😁😁😁. Bukan tanpa maksud pengurus Mesjid memberikan ‘Tih Lanjo’ tersebut, kata beliau untuk memacu kembali semangat anak-anak untuk mau tampil di depan forum. 

Melihat anak-anak SD yang tampil sebagai Protokol di Mesjid, mengantarkan memori pada kenangan berbelas-belas tahun yang lalu. Menjadi Protokol yang membuka agenda Cemarah dan Tarawih adalah suatu kebanggaan sekaligus beban. Ya, saya selalu resah gelisah dan deg-deg an kalau sudah disuruh menjadi protokol atau membawakan kultum di depan jamaah. Sehingga tak jarang, saking gugupnya, kecepatan berbicara akan meningkat dua kali lipat dari biasanya. Selesai tampil, rasanya luaaaaar biasa lega. Seperti telah menyelesaikan amanah penting. Dan tak dinyana… pengalaman-pengalaman seperti itulah yang memupuk kepercayaan diri saya bertahun-tahun kemudian untuk tampil sebagai MC formal di dalam suatu acara.

Malam ini, terakhir Tarawih berjamaah di mesjid. Besok malam tidak ada yang bisa menjamin apakah mesjid akan seramai seperti 28 malam sebelumnya. Ada kesedihan terselip seiring dengan akan berakhirnya Ramadhan. Ya selalu seperti itu. Sedih dengan sedikit kekecewaan serta banyak penyesalan. Tentang puasa yang belum sepenuhnya diiringi dengan melatih kesabaran, tentang solat sunnah yang belum dimaksimalkan, tentang tilawah yang tidak konsisten setiap harinya, tentang do’a dan permohonan ampun yang belum sampai menerbitkan air mata ke-khusyu’-an, dan tentang diri yang belum memberikan yang terbaik untuk di-sedekah-kan. 

Kemudian, yang bisa kita lakukan adalah berharap untuk dipertemukan kembali dengan bulan mulia, sembari berharap kebiasaan-kebiasaan ibadah dan amalan yaumi yang sudah kita latih dalam satu bulan terakhir, tetap dilaksanakan dalam 11 bulan berikutnya. 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s