#NulisRandom2017 D-22 ‘Masakan Ibu’

View on Path

Saya tidak habis pikir betapa besarnya power yang dimiliki oleh seorang perempuan yang kita panggil ibu.

Sebagai seorang perempuan, jujur saya tidak terlalu akrab dengan urusan dapur kecuali masak nasi dan mencuci piring. Jikapun ada beberapa pekerjaan domestik rumah tangga yang harus dikerjakan, saya lebih memih untuk beberes rumah. Namun, bukan berarti saya tidak bisa memasak, namun masak memasak bukanlah sebuah passion saat ini. 

Namun berbeda dengan ibu, saya tidak tahu apakah masak memasak ini merupakan hobi atau kewajiban yang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Adalah Ama dan Nenek, dua orang yang sangat bersemangat untuk mengadakan buka bersama keluarga besar dan sanak famili kami di hari terakhir Ramadhan (terutama Nenek), beliau sudah me-list daftar masakan yang akan dihidangkan, yang membuat saya, kakak, para ante yang lama si perantauan geleng-geleng kepala pesimis semuanya akan siap saji sebelum berbuka. Pasalnya, kita juga harus mempersiapkan makanan untuk Hari Raya seperti ketupat, gulainya, kue bolu besar, dan lauk pauk lainnya. Semuanya akan tumpang tindih. 

Namun, seperti seorang chef profesional, Ama dan Nenek justru sudah memulai pekerjaan masak memasak untuk agenda bukber satu hari sebelum hari H. Pagi-pagi sekali di saat anak-cucu masih tidur, keduanya sudah sibuk di dapur besar yang berlokasi di luar rumah, menyalakan tungku (Yes, dapur luar rumah punya tiga tungku), dan memulai persiapan. Sementara kami ikut nyusul bergabung di waktu matahari mulai meninggi. 

Ck. Ck. Ck. Ck ajaib. Semua sajian mulai dari takjil, gulai, pepes ikan, sarikayo, bakwan, dendeng, dan printilan kecil lainnya beres tepat waktu. Saya sendiri tepar dan malah ketiduran sebelum berbuka, dan Ama masih bisa mempersiapkan masakan untuk Hari Raya. 

Kabarnya, Ama dan Nenek sudah kenyang da. cukup puas jika masakan mereka bisa dinikmati oleh keluarga besar, Apalagi banyak yang memuji kelezatannya. Semua kelelahan seperti terbayarkan ketika semuanya tandas tak bersisa.

Mungkin itulah kenapa kita akan selalu merindukan masakan rumah, terutama masakan buatan tangan ibu, bukan karena kemewahannya, atau kelezatannya (*karna makanan super lezat masih banyak di luar sana), namun karena di setiap sentuhan tangan mereka terdapat kasih sayang dan keikhlasan untuk memberi makan anak-cucu. Dan segala sesuatu yang berasal dari hati, tentu akan sampai ke hati juga.

*Pssssst… Dari apa yang saya lihat, hampir di semua rumah teman yang saya datangi, dan ibu si teman menjamu makan, masakan mereka sungguh bisa saya nikmat dengan baik, meskipun sesungguhnya saya sendiri sudah makan di rumah. 😁😁😁


Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s