Trip Bertiga, Hanya Wacana?

Trip Bertiga: Hanya Wacana?

Saya nyaris membatalkan niat untuk menulis tentang trip bertiga bulan lalu di blog. Alasan utamanya sih malas, bukan karena tidak ada waktu😪. Sehingga nyaris 1 bulan lebih berlalu dari agenda trip bertiga yang menyenangkan itu, namun tak jua ada itikad baik dari diri pribadi untuk nongkrong depan halaman mc.Word, demi menulis ini. Hanya sibuk posting sana sini dengan keterangan singkat di socmed. Namun, tetiba saya merasa sayang jika perjalanan petama kami bertiga ini hanya berakhir dengan postingan foto narsis di Instagram. At least, saya tidak ingin tetiba melupa dengan detail perjalanan. Meskipun saya bukan travel blogger, saya sudah biasa memposting lifelog saya di blog, sejak 2007 lalu bahkan.

Oke, singkat cerita, kami membatalkan agenda mengunjungi Feni di Hatyai karena satu dan lain hal (Gomenasai Feni-chan, mungkin lain kali kita ke sana😫🙏) dan memilih untuk melakukan trip singkat di Pulau Jawa saja dulu (*sebagai penghibur hati batal ke Hat Yai). Agendanya pun angin-anginan. Kadang semangat, kadang gak, antara jadi dan gak jadi gitu deh. Bahkan si Nami sudah sempat pulang kampung ke Padang, dan kita berdua akhirnya udah ngetrip berdua dengan motor di Bukittinggi-Payakumbuh-50 kota.

Sampai suatu hari di bulan Juli, saya menemukan postingan tentang PT KAI yang lagi mengadakan promo tiket kelas eksekutif di agenda KATF (Kereta api Travel Fair) di facebook. Semacam trigger, kami langsung semangat lagi nyusun agenda liburan. Dalam waktu singkat, setelah diskusi sana sini, drama nge-lobi jadwal libur dinas dan cuti Nami-Mbak Rin, kita memutuskan untuk ke Jogja dan Semarang, 7 hari PP dari tanggal 7-14 Agustus 2017. Karena saya masih di kampung, Nami dan Mbak sudah siap-siap ngantri tiket ke JCC yang masyaaAllah ramenya, tapi alhamdulillah ternyata tiket bisa di-booking via Traveloka, mereka batal ke JCC. Nami, di tengah kesibukan dinas pagi di ICU, dan mbak di tengah kerempongan aktivitas di Ruang Anak, dan saya yang sibuk gegulingan nyari signal di rumah, berhasil bahu membahu untuk booking tiket kereta eksekutif yang cepat banget sold outnya, seharga 120 ribu rupiah ke Jogja, dan tiket Semarang-Jkt yang cuma 100 ribu sajo. Kita merasa menang banyak untuk tiketing kereta, meski cuma dapat jadwal keberangkatan pagi. Yeay!

Penginapan

Beres dengan urusan per-tiket-an, yang ditalangi dulu oleh Nami, selanjutnya adalah tugas saya untuk nyari penginapan dan bikin rundown acara. Berbicara tentang penginapan, sebaiknya sih tidak hanya menyerahkan segala urusan ke Traveloka saja (et causa kadang justru Traveloka tidak mengakomodasi informasi dari penginapan yang murah pakai banget). Ada baiknya teman-teman juga mencoba second opinion ke google, atau cara paling aman tanya ke teman yang sudah sering ke sana atau berdomisili di sana. Awalnya kita sudah googling dan bolak balik ke Traveloka, namun pilihan paling murah di google berupa kamar dorm sepertinya tidak begitu nyaman dan agak jauh dari pusat keramaian, cari di Traveloka rada mahal gitu (*perhitungan banget pokoknya😌). Akhirnya kita nanya Liza, sebagai manusia yang pernah menjadi warga Jogja selama 2 tahun lebih, dan Liza nyaranin untuk kita nginap di wisma Bukit Barisan di Jalan Kaliurang dekat UGM, dengan harga yang lumayan murah meriah. 150 ribu untuk kamar dengan twin bed, nambah 25 ribu jika ingin ekstra bed, kamar mandi di dalam, shower dengan air panas, AC, TV ya seperti kelas hotel bintang 3 lainnya, meski tidak begitu mewah. Karena kita patungan bertiga, untuk penginapan kita sudah terhitung murah. Total ada 4 malam kita di Jogja. Dan ga harus bayar DP dulu, hanya ngebooking doang via Telepon, tidak sama dengan Traveloka yang booking=bayar. Salah satu keuntungan nginap di lokasi ini adalah, lebih dekat dan lebih banyak pilihan untuk kulineran. Sepanjang Jakal (Jalan Kaliurang), ramai warung-warung makanan, mulai dari sekelas cafe sampai emperan-emperan dan angkringan pinggir jalan. Tinggal jalan kaki dan pilih. Plus kita bisa ngelipir keliling FK UGM malam hari hari lanjut wisata rumah sakit, studi banding ke RS Sardjito. Kalau mau ke Tugu Jogja atau Malioboro, tinggal pesan go-car.

Next, lanjut searching penginapan di Semarang. Karena kita tidak punya banyak kenalan yang bisa dikepo di sana, maka Traveloka adalah pilihan terbaik. Agak kurang beruntung karena kami sudah memasuki zona weekend di sana. Penginapan yang murmer dan cakep sudah banyak yang full booked. Akhirnya kita pilih yang standar dan ready stock, semacam home stay (*tapi gak tinggal di rumah orang juga sih) seharga 210 ribu per malam dengan 1 bed standar untuk dua orang dan 1 single bed. Pas! Gak terlalu mahal, dan ternyata setelah lihat aslinya, Wow… sama sekali tidak mengecewakan, cantik dan nyaman. Bahkan kita jadinya lebih betah di kamar ketimbang panas-panasan jalan di Semarang.

Rundown Acara

Jujur saya sendiri tidak mau kegiatan traveling yang seharusnya maksimal justru jadinya kacau dan kebanyakan bingungnya karena tidak ada planning yang matang. Berbekal kuliah Manajemen Stres yang mengajarkan untuk membuat Vacation Planning’, saya dan teman langsung riset mendalam (*gaya), via internet, via socmed –> paling gampangnya searching hashtag lokasi di instagram, dan pastinya via teman. Setelah membuat list per hari lokasi yang ingin kami kunjungi, selanjutnya saya menyerahkan draftnya via WA ke Liza untuk dikoreksi. Ya semacam konsul proposal penelitian gitulah. Secara kita cuma tahu kulit luar-nya, dan yang detail tahu jarak tempuh, kondisi geografis dari lokasi yang sudah kita combine di tiap harinya yaaa Liza. Liza banyak ngasih saran di sana sini, lokasi ini baiknya pagi hari, dilanjutkan dengan lokasi ini, trus makannya ke sini ya, jangan lupa pulangnya mampir ke sini. Lokasi ini gak bisa dikunjungi sebaiknya ke sini. Lengkap dengan transportasi dan info tiket masuk, khkhkkhkh. Ya udahlah ya, kita pasrah mah sama pakarnya😌. Oh ya, demi menghindari kesumpekan Jogja sebagai destinasi wisata Nasional, kita memutuskan nge-trip di weekday, Senin-Kamis. Tapi yaaa sama aja kayaknya. Jogja tetap penuh, Malioboro tetap aja padat merayap, gak ada sepi-sepinya! (*Mungkin hanya tidak se-chaos Weekend).

Baiknya lagi, Liza juga bersedia nyariin kita mobil plus sopir, tentu berbekal titipan pesan dari kita,”Dengan tarif yang paling murah ya za!”😙. Walhasil kita dapat mobil Avanza yang yaaaaah gitu deh khkkhkh, kalau sopirya ngebut dikit lonjakannya terasa dahsyat, gagang pintu depan aja butuh teknik khusus untuk ngebukanya, hahahhaha. Alhamdulillah AC nya masih OK OC lah ya😅. Ada harga tentu ada kualitas, tidak banyak yang bisa diharapkan dari sewa mobil yang cuma 150 ribu/24 jam itu, bahkan Sopirnya udah kasih warning sejak awal tentang kondisi mobil dan masih kasih tawaran kalau mau ganti mobil sebelum kita isi bensin. Kita mah kalau udah murmer aja, lanjut ceuna!😎

Beres dengan list di Jogja, lanjut nge-list di Semarang. Tidak seperti di Jogja yang maksimal pakai banget sampai ke luar Kota Jogja segala, untuk di Semarang kita cuma pengin main di dalam Kota. Paling mengunjungi beberapa situs wisata dalam kota yang bisa ditempuh dengan busway atau go-car, sekalian mungkin mau wisata kuliner saja di sana.

Beres persiapan on the spot, lanjut ke persiapan pribadi, mulai dari perdebatan tidak penting mau pakai ransel, tas jinjing atau koper sampai mau bawa baju berapa potong? Heu… Ogah ribet, kita cuma pakai ransel dan tas jinjing, yang kemudian disesali karena gak bisa meng-cover seabrek barang pasca ngetrip. Khkhkkkhh.😂 Ya kalau akhirnya bakal nginap di penginapan yang bagus, jangan sungkan-sungkan untuk bawa koper ukuran medium dan gak usah sok-sok nge-bekpeker-an juga sih ya.

Saya pribadi, selain perkara kebutuhan primer, persiapan uang dan dokumentasi merupakan hal penting yang harus dipenuhi. Yes, bener… Saya akhirnya menghempaskan celengan Doraemon yang sudah setahun terakhir setia tersenyum di atas meja belajar untuk trip kali ini (*memang niat awal bikin celengan untuk itu), lumayan dapat banyak. Dan tentu di antara bertiga, saya yang paling concern untuk urusan camera, chargeran, dan power bank. Jangan sampai project trip bertiga terganggu karena tragedi baterai kamera habis (*akhirnya emang kejadian, khkhkhkh).

Sebelum berangkat, saya pesan ke teman-teman,”Vroh, pokoknya, nanti selama 7 hari, socmed-annya dikurang-kurangi ya. Kita fokus menikmati trip ini. Posting-postingnya pasca liburan aja”. Yang lain sih pada angguk-angguk geleng-geleng antara percaya ga percaya saya bisa nahan diri untuk tidak socmed-an. Dan ternyata bener, komitmen hanya tinggal wacana. Sesekali saya perlu juga mengabari ke dunia maya kalau saya pernah check in di suatu lokasi via Path *plak! #selfKeplak.

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to Trip Bertiga, Hanya Wacana?

  1. Pingback: Trip Bertiga Part 2: Bertemu Kak Kabir, Wisata Malam ke Sardjito? | Zona CahayaMata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s