Random Story

Akhirnya sampai juga perjalanan Magister saya kepada mata kuliah yang bernama Aplikasi Keperawatan. Seiring telah selesainya semua agenda kuliah tatap muka di kelas.

Aplikasi itu seperti prekliniknya mahasiswa S1. Bedanya praktik yang dilakukan lebih mendalam, pengkajian dan intervensinya menggunakan nursing middle range theory . Jadi dilakukan lebih detail sesuai kebutuhan pasien

Ada beberapa perbedaan signifikan yang saya rasakan antara praktik sebagai mahasiswa S1 atau Ners, dengan sebagai mahasiswa Magister.

Pertama, mentalnya udah beda. Yang pasti pengalaman akan membentuk kepercayaan diri seseorang dalam bersikap dan bertindak. Setelah setahun berkecimpung dalam praktik Ners, 3 bulan magang di RS, dan hampir 2.5 tahun mendampingi mahasiswa ke RS, saya merasa lebih siap untuk menghdapi tantangan ke depannya di klinik dan lapangan. Paling yang bikin deg-deg an adalah performa skills dalam membantu persalinan normal atau dalam melakukan resusitasi neonatus. Setelah beberapa kali mencoba, saya yakin akan bisa melakukannya dengan lebih baik dan PeDe.

Kedua, sikap petugas RS. Di sini saya benar-benar merasakan perbedaan sikap yang signifikan😅. Kalau dahulu preklinik atau Ners saya dipanggil “Adek perawaaaaaaat” dengan suara lantang dari Nurse Station, kali ini saya dipanggil “Ibu…”. Terlihat lebih ada segan dari para petugas, baik ketika menyapa, memanggil, atau meminta bantuan.

Saya bahkan tidak pernah diteriaki lagi untuk dimintai tolong. Saya bebas keluar masuk kamar pasien, berlama-lama untuk bincang-bincang dengan pasien tanpa harus mengerjakan ‘permintaan’ orang ruangan yang kadang tidak ada hubungannya dengan kompetensi dan target capaian kami (*dan ini sering saya lakukan ketika preklinik atau profesi dulu 😊).

Ketiga, performa. Saya merasa skill berkomunikasi saya dengan pasien lebih mumpuni, dalam artian ketika pengkajian terhadap pasien, saya tidak lagi seperti petugas sensus yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan pendek (*karena grogi), ibaratnya, saya bisa lebih ‘masuk’ ketika bercerita dengan pasien, sehingga bisa menggali poin-poin penting pengkajian. Pasien juga lebih enak memaparkan apa keluhan, kebutuhan mereka.

Eits, #FYI Nursing Science sedikit berbeda dari ilmu petugas kesehatan lain. kita menggunakan pendekatan yang komprehensif, termasuk di dalamnya bio-psiko-sosial-spiritual, kajian-kajian tentang support system, proses pengambilan keputusan, problematika dengan orang-orang terdekat. Ya… mungkin kita dikira kepo, tetapi setiap data yang kita dapatkan dari hasil pengkajian tersebut akan mengerucutkan masalah pasien. Dari analisa data tersebut, akan ada intervensi keperawatan yang mungkin untuk dilakukan selama masa perawatan, baik secara medikasi atau pendidikan kesehatan.

Contoh simpelnya, ada seorang ibu, baru melahirkan anak pertama, kelihatannya sih dia baik-baik saja. Mampu menggendong bayinya dengan baik, ASI nya cukup, tidur bayinya nyenyak. Tetapi setelah dikaji lebih lanjut, ternyata si ibu merasa belum siap untuk merawat bayinya ketika nanti sudah di rumah. Si ibu yang baru berusia 20 tahun tersebut tidak tahu cara memandikan bayi, menyendawakan bayi, ketika ditanya “Kenapa tidak minta diajarkan sama bidan di sini bu?”, ia menjawab malu, sungkan, nanti sama ibu nya saja belajar di rumah. Cuma ia merasa galau, karena ibunya tinggal jauh dari kontrakannya, sementara suaminya harus bekerja sepanjang hari di Pabrik.

Nah, dari kasus sesimpel ini, dan mungkin dari pandangan petugas kesehatan lain tidak akan membahayakan kesehatan si ibu, akan memiliki perspektif berbeda dari penglihatan perawat maternitas. Kita akan langsung melihat masalah kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak terpapar dengan informasi, risiko depresi postpartum, kurangnya support system, dst, dst.

Terus, apakah perawat akan turun tangan 100% dalam mengatasi masalah ini? Tentu tidak, namun perawat memiliki intervensi untuk mencegah terjadinya hal-hal berisiko tersebut. Bagaimana caranya? Hehehe, untuk itulah saya, teman-teman saya bersekolah tinggi. Belajar banyak hal karena jelas, sangat banyak sekali kejomplangan ilmu dengan pengaplikasian teori di lapangan oleh mereka yang menyandangkan titel ‘profesional’ pada namanya.

*Panjang betul pemaparan nya Ni 😪

Keempat, saya belajar banyak tentang bagaimana menjadi lebih bijaksana.

Barusan saya ditegur oleh dua orang bidan yang tidak sengaja melihat saya sedang menyuapkan makanan kepada seorang ibu post Sectio Caesar siang kemaren, yang melahirkan bayi kembar, satu bayinya masih dirawat di Perinatologi karena berat badan lahir rendah.

“Ibuk, pasiennya ga usah disuapin. Biar dia makan sendiri. SC nya udah dari kemaren kan ya. Udah boleh gerak itu”.

Mungkin bagi petugas kesehatan saya terlalu berlebihan, atau tidak seharusnya mahasiswa magister seperti saya melakukan kegiatan yang dilakukan mahasiswa praktik D3.

Iya betul, pasien sebenarnya sudah boleh bergerak, kateter dan infusnya sudah dilepas. Namun dengan bobot badan yang besar, luka SC yang masih basah, si ibu belum mampu untuk mobilisasi secara optimal. Sampai-sampai untuk memiringkan badan ngasih ASI bayinya tidak bisa. Saya sendiri kesusahan ketika menarik tangan beliau untuk duduk. Si ibu terlihat kelelahan, keringat terlihat di dahinya, bibir kering dan pucat, belum makan sejak operasi kemaren siang. Saya tawari untuk makan, ibunya berkata “Saya tunggu saudara saya datang aja dulu bu. Nanti dia akan menyuapi”.

Baik, tapi setahu saya jam bezuk baru pukul 11.00 WIB, sementara petugas gizi akan segera mengambil nampan makanannya. I just can’t deal with that. Meski tujuan kita adalah memandirikan pasien, lihatlah kondisi pasien secara bijaksana. Akhirnya saya menyuapi ibu tersebut (*yang bahkan untuk menggeser tubuh duduk senderan aja ga bisa). Si ibu makan dengan lahapnya. Tidak terbayang kelelahan fisik yang dilalui beliau sejak kemaren.

Saya pikir peraturan jam bezuk itu tidak seharusnya diberlakukan untuk ibu baru melahirkan. Peristiwa melahirkan adalah suatu pengalaman emosional bagi ibu dan keluarga. Kalau petugas tidak akan mampu mengakomodir semua kebutuhan ibu postpartum, maka biarkan keluarganya hadir mendampingi. Kita sebagai perawat juga enak ngasih edukasinya kepada ibu jika sekaligus keluarganya ada di sana, termasuk meluruskan mitos dan kebudayaan tidak relevan yang masih dianut. Seperti ibu yang tidak boleh menggunting kuku sampai 40 hari. Lah trus kalau nyusui dan bayinya kecakar kuku ibu piye? Dan banyak lagi sederet mitos-mitos lainnya yang bikin saya gemesh pengen ngomelin keluarga.

Dan dari apa yang saya lihat sejak seminggu yang lalu, interaksi yang terjadi antara petugas kesehatan (dokter bidan *saya belum ketemu perawatnya), hanya sebatas hubungan apa ya istilahnya… saya gak nemu istilah yang tepat. Tapi saya tidak suka sekali melihat dokter yang visit, dibelakangnya diikuti bidan yang membawakan status pasien, bidan menjelaskan kondisi pasien, dokternya lalu periksa bayi dengan stetoskop, ‘bagus’, katanya. Dan kemudian si dokter dan bidan berlalu begitu saja. Saya yang ketika itu di sana sejak sebelum si dokter datang, sedang membantu ibu untuk memberikan ASI, yang sebenarnya “TELAT” pakai banget diberikan, cuma bisa geleng-gekeng kepala. Itu robot atau dokter? Dia gak nanya ibu ASI-nya lancar apa gak, gitu? Gak nanya apa perasaan si ibu? Keluhannya? Kalau cuma mau ngecek Tanda-tanda Vital doang, mesin juga bisa. Yang mesin gak bisa lakukan itu mentransfer caring, bounding, trust dengan pasien.

Yang paling gak enak dilihat, di ruang IGD dokter jaganya teriak”Tekanan darahnya berapa?” dari meja tempat dia menulis, kemudian menganamnesis singkat pasien yang terbaring di bed IGD, hanya dengan melontarkan pertanyaan dari jarak jauh begitu. “Ibu menstruasi terakhirnya kapaan?” Ya kali, pasien lagi merintih menahan kontraksi bisa jawab sambil teriak juga. Samperin pasiennya kenapa? Pegang pasiennya. Lihat secara langsung. Entah beliau sudah punya skill ilmu terawang. Akibatnya, sempat sekali dokter jaga kecolongan tidak tahu pasien preeklampsi dengan riwayat SC (gegara ngeskip pemeriksaan abdomen langsung, jadi ga liat ada luka SC nya), malah kasih instruksi untuk induksi persalinan normal (*harusnya langsung SC saja). Pembukaan ga maju-maju, ibunya udah kadung kesakitan, akhirnya SC, jadi ibu nya rugi dua kali sakit. Nyesek…

*Tidak semua dokter/bidan/perawat begitu yes. 😅😅😅

Iyes… Saya bukan petugas medis di klinik. Tapi yang saya pahami, semakin berilmu seseorang, maka semakin bijaksanalah dia seharusnya dalam bersikap.

Berilmu, menuntut ilmu, sekolah setinggi-tinggi nya bukan untuk membuat kita menjadi sombong dan angkuh, namun untuk membuat kita menjadi lebih bijaksana dalam bersikap.

***

Dan uhm ya… Kesamaan dari praktik semasa S1 dengan sekarang adalah sama-sama harus mengerjakan seabrek laporan. Ditulis tangan pula 😅😅😅

Bisa ga sih, ke Rumah Sakitnya ga pake bikin laporan? 🙄😌

*Kalau gitu gak usah aja dinas, tiduran aja kamu di rumah, Ni!

😊

*catatan hari kedua dinas di Ruang Rawat Postpartum

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s