Tentang Perempuan #2

View on Path

Saya pikir ketika seorang teman perempuan curhat kepadamu, ia sebenarnya tidak membutuhkan nasehat-nasehat darimu. Ia hanya butuh untuk didengarkan.
.
Karena sepanjang apapun paragraf nasehat yang kamu berikan, ia tetap akan denial dan berfokus kepada perasaannya sendiri “Aku tuh gak mau bikin orang gak bahagia, tapi aku juga gak mau sama dia”.
.
Selebar apapun penjelasan situasi yang coba kamu simpulkan, ia tetap akan mengatakan “Tidak seperti itu… Aku tuh tidak begitu orangnya. Iya, aku tahu ini semua salahku, tapi dia juga gak seharusnya begitu”.
.
Meski kamu sebenarnya sadar akan kondisi tersebut, namun sebagai sesama perempuan kamu hanya bisa geleng-geleng kepala. “Ah perempuan ini, kenapa masalah cuma begini dibuat rumit? Hingga membuat gangguan somatis yang memberikan efek buruk pada aktivitas hariannya”. .
Sementara itu, di pagi hari ini, kamu baru saja shock dan berseru marah di hati ketika menemukan seorang bocah kelas 6 SD yang orang tua nya minta visum keperawanan atas indikasi pelecehan seksual yang dilakukan gurunya terhadap bocah tersebut beberapa hari yang lalu.Perawannya masih utuh, tapi sepertinya ia telah disodomi.Orang tuanya masih saja tetap bersyukur, “Alhamdulillah, yang penting anak saya masih perawan dan tidak hamil”.
.
Sementara itu, di pagi kemaren kamu bertemu dengan seorang perempuan muda, yang mengaku keguguran beberapa minggu yang lalu. Itu kehamilan pertama setelah beberapa bulan menikah, namun darah masih saja tetap keluar banyak. Di hari yang sama, dokter memvonis ada mioma (tumor) di rahimnya. Ia menolak dilakukan operasi karena tidak ada biaya. Namun ia masih berterimakasih karena anjuran petugas kesehatan untuk mengurus BPJS dan operasi bisa dilakukan setelahnya.
.
Dear perempuan, serumit apapun masalah perasaan yang saat ini kamu hadapi, percayalah, ada jutaan perempuan lain di luar sana yang memiliki masalah yang jauh lebih berat. Mereka yang tidak peduli mengenai hatinya yang hancur, tidak lagi memikirkan persoalan receh tentang perasaan. Yang mereka pikirkan justru tentang hidup mati! Keberlangsungan hidup. Namun mereka selalu mengupayakan diri untuk mengambil bagian terkecil untuk bersyukur, berterimakasih.

also a #NTMS

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Tentang Perempuan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s