Munasharoh Palestina

Saya lupa kapan terakhir kali ikut Munasharoh Palestina. Mungkin sekitar tahun 2010an di Padang, longmarch dari Gor Agus Salim ke arah Plaza Andalas. Ketika itu saya, mba Rin, Muti, Feni, Anit, Desi, dan Nami masih berada di satu lingkaran liqo’ yang sama dengan Bu Evi sebagai Murobiyah kita. Akan ada banyak jarkom yang mentaklimatkan untuk mengikuti munasharoh, kumpul dimana, drescode nya apa. Ketika itu sih semangat sekali. Apalagi bertemu dengan teman2 sekampus dari fakultas berbeda, ada semacam ghiroh yang bertambah.
.
Selulusnya S.Kep, saya mulai menjauh dari kegiatan dakwah kampus, liqo sudah tidak seteratur dahulu, tidak sesemangat tahun-tahun awal kuliah, semakin ke sini semakin futur rasanya.
.
Saya menyukai aksi-aksi islam yang saya dengar dari socmed, atau jarkom2 cantik tentang ta’limat ke-PKS-an (Alhamdulillah saya masih sering mendapatkan jarkom meski sudah pindah kota). Tapi saya semacam malas untuk ikut, terlalu banyak excuses. Iya, saya memang tidak seghiroh atau semilitan ikhwah lainnya. Butuh seseorang dengan kemampuan persuasi khusus untuk membuat saya bisa mengalahkan syetan kemalasan. Aksi 411, 212, saya cuma jadi penonton. Di socmed pulak 🙂.
.
After a very long time, saya berkomunikasi lagi dg bu Evi (Bu Evi pindah ke Jakarta di tahun 2010), ya she is the special one! Dengan satu kali ajakan, dan satu kali excuse dari saya (🙏tapi Ni sudah kadung janjian besok ke acara nikahan teman di Bekasi Bu), dan kemudian dengan bijaksananya Bu Evi mempersuasi,”Kalo menurut ibu, nikahan masih bisa dan boleh datang telat deh”.So i said Yes.No more excuses.
.
And here they are! Saya merasa terlempar kembali ke masa2 menjadi ABG (Aktivis Baru Ghiroh) ketika lagu Shoutul Harokah mengalun.Ah, bahkan list lagu2 SH sudah tergantikan oleh deretan MP3 Kpop, Jpop, Barat, dan beragam instrumen.Jahiliyah sekali isi Handphone saya. Kata ustad Abdul Somad kalau isi HP nya sudah kebanyakan bikin dosa, sekalian aja HP-nya dibinasakan 😢😩.
.
Kadang, memang butuh pemaksaan dari diri sendiri untuk memutus naluri kemalasan. Sampai detik berjalan kaki dari kosan ke stasiun mungkin hati saya masih berkata,”Kenapa pula meng-iya-kan ajakan bu Evi”.Tetapi selalu ada bisikan seperti,”Kamu berkoar2 tentang Palestina di socmed, kenapa pula kamu tdk membuktikannya dengan aksi nyata?

BI RUH BI DAM NAFDIKA YAA AQSHO!

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Palestine Will Be Free. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s