Perspektif

Tentang perspektif. Ketika ada suatu informasi yang muncul di kanal social media, adalah tentang perspektif bagaimana kita memberikan tanggapan dan berkomentar. Ini menarik, banyak orang yang memutuskan untuk melihat hanya dari perspektif yang mereka inginkan. Mungkin soal kepercayaannya, keyakinannya, kebodohannya, ketidaksetujuan mereka. Boleh saja… Itu akan menambah khasanah bacaan kita tentang melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Namun yang menjadikannya kemudian polemik adalah bagaimana orang-orang menyampaikan perspektif mereka.

Ada yang menuliskannya dengan kalimat yang baik dan santun, ada pula yang berucap kasar dan menyakitkan hati yang membacanya. Begitu juga dengan saya. Saya berusaha menanggapi informasi apapun dengan bahasa yang baik dan terbilang netral, sebagaimana saya memberikan komentar terhadap isyu-isyu yang lain.

Termasuk tentang menanggali kabar kematian Jonghyun ShiNee ini. Sebagai orang yang pernah menikmati musik-musik mereka ketika kuliah dulu, serta sempat mengikuti perjalanan karir mereka, saya tetap mengandalkan pemikiran rasional saya dalam berkomentar. Tidak berlebihan meskipun saya ingin, tidak pula berpura-pura menghina hanya karena ingin terlihat elegan di depan kerabat sosial media.

Jika banyak yang berkomentar tentang ke-alay-an para fans garis keras K-Pop, saya ingin lebih concern dengan perilaku bunuh diri, mental illnes, sesuai dengan keilmuan dan pemahaman saya. Hanya saja, karena kasus ini terjadi pada idol K-Pop, menjadikannya lebih viral bahkan lebih reaktif dari kasus yang menimpa Chester Bennington beberapa saat silam.

Apa pasal? Karena Jonghyun ShiNee adalah member K-Pop! Aliran yang banyak digandrungi remaja remaji tanggung yang masih mencari jati diri! Alay! Lebai! Whatever you named it. Tetapi bukankah kasus serupa sudah banyak terjadi di mana-mana? Kenapa orang-orang yang berkomentar jahat itu bisa memberikan kalimat perspektif yang baik untuk kasus serupa pada orang biasa, namun tidak untuk Jonghyun hanya karena dia member Boyband? Apakah tidak sebaiknya komentar tidak penting seperti,” Manusia oplas saja ditangisin” diganti dengan kalimat bijak seperti yang ditulis bapak Made di bawah ini ☺.

Dibandingkan menghina dina (even poin hinaan tersebut benar) bukankah lebih baik jika kita bisa menonjolkan pelajaran apa yang bisa kita ambil, mencermati apa yang terjadi dan memperkokoh diri tentang konsep Keyakinan terhadap Pencipta. Bukankah dengan banyak2 merenungi tentang kematian akan menimbulkan sikap bijaksana? Kemudian dengan bahasa yang santun lagi lembut menasehati adik-adik fans untuk tidaj meratapi, melebih-lebihkan, cukup dijadikan pelajaran, ambil kesimpulannya saja? Saya yakin, orang-orang akan lebih respect kepada Anda 😊

*Pak Andi bukanlah seorang muslim, namun bahasanya menyejukan. Sementara teman-teman saya yang muslim, dengan segala kepintaran mereka, malah mengeluarkan kalimat-kalimat sampah yang menyakitkan mata dan hati.

*Dan gangguan kejiwaan bukan hal remeh untuk dipermain-mainkan, termasuk kematian seseorang, bukanlah joke yang bisa kamu tertawakan. Komentar jahat juga menjadi satu dari banyak pemicu gangguan depresi pada seseorang, jadi jangan kaget kalau social media adalah pembunuh berdarah dingin dan user dengan hate speech sebagai pelaku pembunuhannya.

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s