Book Review: Sirkus Pohon Andrea Hirata

Menjelang pergantian tahun ini, saya ingin sekali menyajikan postingan yang sedikit bermanfaat untuk teman-teman pembaca. Saya merasa sepanjang tahun 2017, tidak banyak postingan berfaedah yang saya tulis. Terlihat lebih banyak tulisan curhat di mana-mana, saya juga jarang menyediakan waktu khusus seperti biasanya untuk membuat postingan (hanya mencuri-curi waktu dengan menulis di Handphone). Meski begitu, percayalah saya masih tetap bersemangat untuk meramaikan jagad per-blog-an di mana sudah banyak blogger yang gulung tikar, serta netijen jaman now yang lebih senang membuat boomerang di instagram atau meninggalkan komen nyinyir di akun gosip.

Review buku kali ini dari salah satu penulis favorit saya: Bapak Ikal alias Andrea Hirata, yang berjudul ‘Sirkus Pohon’. Saya membeli buku ini di event International Book Fair Jakarta bulan September lalu, dengan potongan harga tentunya. Iyaaa, saya baru sempat membacanya kemarin, dalam waktu sehari semalam hanya diselingi dengan jeda sholat, makan, mandi, dan beberapa kebutuhan dasar menusia lainnya. Khatam sebelum tengah malam, sama seperti buku terakhir beliau yang saya baca “Ayah”, (reviewnya bisa dibaca di SINI) yang selesai dalam dua hari. Itulah kenapa kalau membaca Novel, saya harus benar-benar mencari waktu yang senggang, karena saya bisa saja kalap dan melupakan aktivitas lain ketika sudah memegang novel tersebut (*beda banget dengan pegang textbook, setiap 15 menit langsung jeda).

Sebelum masuk ke bedah buku, berikut beberapa informasi terkait buku Sirkus Pohon.

Judul : Sirkus Pohon
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN : 978-602-291-409-9
Jumlah Halaman : 383
Kategori : Novel


Sama seperti membaca novel-novel karya Andrea Hirata sebelumnya, bagi saya, novel ini kembali membuktikan bahwa Andrea Hirata adalah penulis berkarakter sekaligus jenius!

Membaca novel Andrea Hirata selalu sukses membuat saya de javu, karena seting waktu dan latar penceritaannya berhasil mengantarkan memori-memori saya tentang zaman dahulu ketika kita masih kanak-kanak, ketika cerpen-cerpen yang saya baca kebanyakan berlatar perkampungan, pedesaan, dengan konflik seperti kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan yang dialami rakyat kecil, petani yang dilanda paceklik, ketika tidak ada benda-benda canggih bernama komputer, handphone, internet, masa dimana anak-anak hanya tahu tentang sekolah, bermain, dan kemelaratan orang tuanya. Iya, itu tipe-tipe cerpen dan novel yang saya baca ketika SD dan SMP. Dan Andrea Hirata di tahun 2017 ini, sukses membawa khayalan pembaca terlempar kembali pada masa penuh kesederhanaan tersebut.

Pemilihan diksi dan bahasa, Melayu tulen! Saya suka sekali dengan beragam pantun serta berbait-bait sajak yang muncul di beberapa Bab, bahkan ketika membaca percakapan antar tokoh, sudah seperti membaca pantun bersambut! Yang paling membuat saya senang, meski ada 87 bab (iya! Bab nya banyak sekali), namun jumlah halaman per bab nya sedikit saja, hanya 2-5 halaman. Bahkan ada beberapa bab yang sama sekali tidak menceritakan kemajuan konflik, hanya sekedar penjelasan latar tempat dan kondisi, seperti bagaimana dikisahkan dua kutilang sedang memadu kasih di atas pohon delima, saling sahut menyahut, namun tanpa membuat pembacanya BOSAN.

Kearifan lokal Belitong masih begitu ditonjolkan, meski nama daerah dan tempatnya tidak sama seperti novel-novel sebelumnya. Ketika membaca setiap halamannya, yakinlah kamu akan merasa dirimu bertransformasi menjadi orang Melayu lama yang akan terbiasa dengan kata-kata ,”Amboiii”, “boi”, serta istilah-istilah zaman dahulu yang jarang kita dengar sekarang. Seolah-olah kita sedang berada di tengah penduduk lokal, duduk di tengah warung Kupi Kuli di Pasar Dalam, Tanjung Lantai. Akrab dengan nama-nama kampung seperti Suruhudin, Debuludin, Taripol, Soridin Kebul, Jamot, dan lainnya, menikmati pasar malam dengan sajian roda-roda mautnya, anak-anak yang kegirangan melihat komidi putar, ketika badut adalah manusia ajaib sekaligus aneh yang penuh daya tarik bagi anak-anak. Andrea Hirata benar-benar sukses membuat Melayu Indonesia naik kelas!

Dari segi cerita, sama seperti membaca Novel Ayah, pada bab-bab awal, kita seperti membaca dua plot yang berbeda dan bingung untuk menghubungkannya bagaimana. Tidak jelas alur waktu yang digunakan (tidak ada kalimat penjelas seperti,”Sementara itu, di tempat lain, bla bla bla…). Karena sudut pandang yang dipakai dalam pengisahan adalah orang pertama tunggal, ada kata-kata “aku” di sana, namun untuk tokoh kedua menggunakan sudut pandang orang ketiga. Jadi harus berhati-hati dalam mengotak-ngotakkan jalan cerita, sampai nanti di tengah baru akan kelihatan benang merah penghubung antara tokoh pertama dengan kedua. Semakin mendekati ujung cerita, pembaca juga akan dikejutkan dengan rahasia-rahasia dan keistimewaan tokoh lainnya yang tidak pernah disangka-sangka. Sangat jarang saya menemukan tokoh yang dikira antagonis sepanjang jalan cerita, justru di bab terakhir dibuktikan sebagai tokoh protagonis sesungguhnya. Hahaha, baca sendiri deh! Sungguh banyak kejutan di dalamnya.

Sirkus Pohon juga mengangkat isyu tentang potret perpolitikan Indonesia masa kini, namun direfleksikan dengan seting masyarakat yang masih terbelakang dengan cara yang sederhana, yaitu topik: pemilihan kepala desa. Bahasa yang digunakan juga benar-benar membumi, tapi nyentrik dan menyentil. Jangan lupakan sisi humor khas Andrea Hirata. Baru kali ini saya baca bab perpolitikan tapi sambil mengulum senyum. 🙂

Sirkus Pohon juga menjelma menjadi roman yang tak kalah kelasnya dari drama Korea. Tentang kesabaran menunggu, tentang kesetiaan, tentang penerimaan cinta yang tidak memandang rupa, harta, maupun tahta, tentang kegigihan dan keyakinan akan cinta pertama yang tidak terlupakan. Romantisme sederhana yang tanpa menggunakan kalimat-kalimat gombalan receh atau puisi romantis-pun, akan membuat siapapun meleleh alias melted.

Yang paling membuat gemas, Andrea Hirata tidak mengisahkan ending spesifik untuk novel ini, beliau hanya memberi gambaran, bukan menyimpulkan. Saya menghargai ini sebagai kesempatan yang diberikan penulis agar pembaca berimajinasi sendiri dengan bahasa dan kalimat yang meraka inginkan. Tapi tetap saja saya merasa ini kuraaaang panjanggg, seharusnya ada Bab yang benar-benar mengisahkan bagaimana akhir yang spesifik! Saya maunya lebih dirinciiii! *pembaca banyak maunya*

Well, last but not least, sirkus pohon menurut saya adalah novel yang unik lagi nyentrik. Ada bebera benda/orang/sesuatu/hal mainstream yang ditonjolkan di sini: Sirkus, badut, dan Pohon delima, namun kemudian menjadi antimainstream karena dipadupadankan dengan seting dan kisah yang wah (*oke, saya mulai speechless).
Bagi yang belum membaca, novel ini bisa menjadi pilihan akhir tahun yang menyenangkan untuk menutup 2017. Jangan percaya apa yang saya tulis, sampai teman-teman membaca sendiri Sirkus Pohon.

Ojeh?

*tidak sabar menunggu novel berikutnya…

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Book Review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s