Igauan Awal Tahun

Beberapa hari sebelum tahun 2017 berakhir, saya seperti kejar tayang, ngeposting beberapa tulisan di blog yang sebenarnya sudah pernah saya post di social media yang lain. Hehehe, dasar malas bikin postingan baru sih sebenarnya. Motivasi-nya supaya kolom bulan Desember tidak terlalu kering dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Adalah semacam kewajiban untuk tidak membiarkan list bulanan blog kosong atau minim postingan.

Kemudian di tanggal 30 Desember kemarin, seperti biasa facebook dengan baik hatinya memberikan notifikasi “You have memories with A B C and D to look back on today”. Ternyata salah satu postingan flashback yang diingatkan FB adalah postingan yang INI (Igauan Akhir Tahun), iseng saya akhirnya larut membaca postingan-postingan akhir tahun yang saya rekam selama hampir 8 tahun memiliki blog. Seru juga ternyata 🙂

Jadi, seperti apa 2017 yang sudah terlewati?

Sama seperti yang lain, saya merasa tahun 2017 ini berlangsung terlalu cepat. Saya seperti belum bisa menerima jika hari ini, sistem penanggalan untuk seterusnya akan memakai angka “2018” di belakangnya. Rasanya baru kemaren saya terganggu dengan suara kembang api dan kemudian iseng berlari naik ke lantai 3 kosan. Malam tadi seperti video yang di-rewind, saya mengulangi adegan yang sama, dengan persiapan yang lebih lengkap (kamera) hehehe. Oia, saya tidak terbiasa keluar di malam tahun baru. Seingat saya, seumur hidup saya tidak pernah memiliki agenda khusus untuk menikmati malam pergantian tahun. Jadi sepanjang hari di tanggal 31 Desember yang saya lakukan hanya: Keluar kamar untuk melengkapi stok makanan selama 3 hari, dan tidak keluar kamar lagi setelahnya (sampai malam ini di tanggal 1 Januari 2018 hingga besok, saya baru rencana keluar rumah di tanggal 3 Januari 2018).

What are you doin, Ni?

Oia, sedikit curhat. Saya membatalkan agenda pulang liburan semester 3 dan memilih mendekam di kamar kosan (sampai lumutan), demi mengumpulkan semangat untuk menyelesaikan proposal Tesis. Kok cepat banget, Ni? Ga sabaran mau wisuda ya?

Kurang lebih sih, IYA! ^_^ Mahasiswa mana yang tidak ingin segera wisuda. Namun itu bukan alasan yang sebenarnya. Saya sendiri tipikal orang yang santai, tidak ingin terlalu menonjol ‘lebih cepat’, ‘lebih tinggi’, ‘lebih hebat’, ketimbang yang lain. Yang penting sih lulus tepat waktu dan tidak extent saja. Namun, alasan sejujurnya adalah karena Profesor pembimbing saya menginginkan kami (iya, saya dan teman-teman satu pembimbing) agar bisa langsung sempro (seminar proposal) di awal semester 4 nanti (di bulan Februari), sekaligus bisa mencoba untuk apply hibah penelitian yang diberikan UI (detlen-nya juga awal Februari. Sebagai mahasiswa yang tidak terlalu kaya raya, bagi saya ini adalah kesempatan langka yang harus diusahakan sebaik mungkin “Give a try, break your leg, Ni!“. So, well… meski dengan berat hati dan memendam rindu yang mendalam, akhir Desember hingga Januari ini saya ‘berusaha’ untuk bisa fokus mencicil proposal tesis (meski faktanya terlalu banyak godaan dan kemalasan sampai rasanya ingin menangis karena sudah menyia-nyiakan banyak waktu di akhir tahun ini).

OK, balik lagi ke tema awal, pergulatan 2017 yang saya lalui boleh dikatakan sedikit banyak berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Saya memiliki lebih banyak waktu untuk traveling ke beberapa kota dan lokasi wisata di kampung halaman (efek samping menyenangkan dari menjadi mahasiswa adalah kamu bisa traveling lebih lama dan lebih banyak!), lebih sering mengkonsumsi buku dan karya sastra (saya tidak punya kebiasaan menghitung jumlah buku atau ebook atau novel online yang saya baca, tapi rasanya tahun ini saya lebih banyak bahan bacaan), lebih sering mengikuti event-event seperti bazar buku, pameran, kajian, hangout ke berbagai tempat dengan geng ‘JKT Ber3’ dan yang paling menyenangkan adalah saya memiliki kebiasaan baru yang cukup positif akhir-akhir ini: Mendengar kajian ustad via Youtube, fb, ig, dll. ^_^ khkhkhk, iyaaaa… Memang ini tidak terlalu istimewa, tapi bagi saya ini luar biasaaaaa. Tholabul ilmi yang saya lakukan selama ini hanya sebatas Liqo’, membaca beberapa artikel tausyiah, beberapa buku (*bila sanggup dan bila mood), dan kadang mengikuti kajian ahad pagi di Mesjid UI.

Ya, tahun 2017 adalah tahun viral nya beberapa nama ustad di social media. Jika dulu kita mengenal KH. Zainuddin MZ sebagai da’i sejuta umat, saat ini sudah banyak bermunculan Ustad-ustad sejuta Viewers. ^_^ . Saya merasa bahagia, setidaknya fasilitas Wi-Fi gratis di kosan digunakan untuk sesuatu yang lebih berfaedah. Aktivitas lain yang beberapa bulan belakangan saya ikuti adalah Tahsin Al-Qur’an. Berbekal penyesalan berkepanjangan tentang betapa tidak dekatnya kehidupan saya dengan Al-Qur’an, betapa rendah diri-nya saya ketika mendengar qori-qoriah yang saat ini banyak sekali menjamur dimana-mana, saya ingin sekali setidaknya sedikit demi sedikit belajar, memperbaiki bacaan al-Qur’ain. Saya merasa penyesalan dan rasa rendah diri itu akan berakhir sia-sia jika tidak ada usaha yang saya lakukan untuk memupusnya.

Kehidupan Akademik

Semester Dua berlangsung demikian cepat dan alhamdulillah lancar meski IPK saya menurun karena saya tidak belajar dengan baik et causa adanya kejadian yang bertepatan dengan masa-masa ujian yang berakhir membuat saya cukup stres untuk sekedar berkonsentrasi belajar. Di awal sebelum memasuki semester dua, saya mengikuti pelatihan APN (Asuhan Persalinan Normal) di Cianjur, dan di akhir semester dua berkesempatan mengikuti pelatihan Resusitasi Neonatus dengan predikat Provider, Alhamdulillah. Liburan semester dua dihabiskan dengan menjalani puasa Ramadhan dan lebaran Idul Fitri di kampung.

Semester tiga, saya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi semester yang konon kabarnya paling berat karena mata kuliah dibuat dengan sistem blok (kejar tayang setengah semester langsung khatam), selanjutnya setengah semester berikutnya dihabiskan di RS untuk praktik aplikasi (*dengan drama ujian pra Aplikasi, ujian selama Aplikasi, seminar Proposal Inovasi, seminar kasus, dan pembuatan laporan individu per hari). Ya, kurang lebih seperti jejaman profesi Ners dengan sedikit modifikasi laah.

Alhamdulillah, semester yang saya dan teman-teman pikir sebelumnya akan sangat berat, sudah kami jalani dan berakhir. Perjalanan yang semula kita pikir susah, ternyata tidak seberat yang kita bayangkan. Yang awalnya sudah parno dengan segala kesibukan pertugasan, sehingga mamak mamak geng kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) tidak akan bisa pulang kampung, eh ternyata mereka masih bisa pulang hampir setiap minggu nya. Hehehe. Di Rumah Sakit pun saya mendapatkan banyak pengalaman yang menyenangkan, pelajaran yang berharga, dan melakukan kompetensi yang selama ini selalu menjadi momok yang menakutkan (*read: Membantu proses persalinan). Dulu, menyaksikan (*baru menyaksikan ya…) proses persalinan semacam menimbulkan trauma; darah dimana-mana, bau amis ketuban, melihat ibu-ibu yang menjerit kesakitan dengan keringat yang membanjir. Beuh… Namun, saat ini kompetensi menolong persalinan adalah hal yang selalu saya tunggu selama praktik di RS. Ada kelegaan sekaligus kebahagiaan setiap kali saya melakukan pertolongan persalinan.

Di samping kegiatan akademik, tahun ini saya diamanahkan menjadi Ketua Panitia penyambutan Mahasiswa Magister angkatan 2017, yang notabene ini adalah kepanitian pertama yang dipegang mahasiswa selama sejarah Pasca Sarjana FIK UI, tahun sebelumnya dikelola full oleh dosen dan bagian akademik. Saya juga kembali memulai untuk berkonsentrasi meningkatkan skill Bahasa Inggris dengan mulai belajar IELTS. FYI, saya sudah beberapa tahun mengumpulkan dan mendapatkan materi IELTS dari beberapa orang teman yang berbeda. Semuanya menumpuk di dalam satu folder di komputer. Yang belum pernah saya lakukan adalah membuka dan mempelajari semua materi dan latihan soal IELTS tersebut karena selama ini terlalu asyik dengan TOEFL. Test IELTS pertama saya di tahun 2014 lalu, hanya mendapatkan overall score 5.5. Itu masih sangat jauh dari target. Dengan riwayat yang menyeramkan tersebut, saya akhirnya mencoba untuk ikut les privat IELTS di belajar.id bersama beberapa orang (*yang tidak saya kenal sebelumnya) dengan bantuan seorang tutor. Pertemuannya tidak banyak, setidaknya saya kembali tercerahkan dan mendapatkan panduan untuk belajar mandiri. Alhamdulillah ketika Book Fair beberapa bulan lalu di Jakarta, saya berhasil menemukan buku belajar IELTS ‘second hand’ yang masih sangat layak lengkap dengan CD listeningnya, di tumpukan buku-buku import, dengan harga yang sangat miring sekali. Saya adalah tipe orang yang akan lebih cepat nangkep dengan media kertas. Jadi ini akan sangat membantu dalam proses belajar.

Namun, aktivitas belajar tersebut terputus karena saya sudah harus dinas di RS (*sebenarnya bukan alasan sih), hanya tugas-tugas praktik lebih mendesak dan sangat menjengkelkan jika sudah ditumpuk. Jujur, manajemen waktu saya akhir-akhir ini sangat buruk. Oleh sebab itu, Januari 2018 dan kedepannya hingga semester 6, saya akan kembali memfokuskan diri untuk ‘nyicil’ belajar, dan jika memungkinkan ingin sekali ikut les intensive di Lembaga Bahasa UI (*tahun lalu saya kecolongan telat mendaftar, jadi quotanya sudah penuh). Saya akan memanfaatkan momen berada di kota ini untuk menuntaskan skill yang satu itu, karena kalau sudah berada di lingkungan kerja, beuh… tantangannya akan semakin berat. Tidak hanya untuk keperluan beasiswa luar negeri, skill ini akan sangat terpakai di manapun, termasuk lingkungan kerja (#AiniBelumMenyerahDenganBeasiswaLN).

Demikian sekilas gambaran tahun 2017 yang sebenarnya masih berkisar di ranah itu-itu juga. Namun, saya benar-benar harus berterimakasih dan kembali menghatur syukur yang mendalam kepada Allah SWT. Impian saya untuk bersekolah ke LN mungkin tidak dikabulkanNya saat ini, namun, segala kemudahan dan bantuan yang Allah berikan selama saya menempuh magister di UI juga tak terbilang besarnya. Jika banyak orang yang mengeluhkan betapa susahnya berkuliah di FIK UI, dengan segala kerendahan diri, saya merasakan begitu banyaknya kemudahan dalam menuntut ilmu di sini.

Last but not the least, terhadap issue yang sering dikepokan orang, Proklamasi: 2017 I’m still single and very Happy. Saya sama sekali tidak merasa tertekan dan frustasi terhadap kondisi dan apa-apa yang terjadi pada diri saya, justru yang membuat saya terkadang depresi adalah hasutan-hasutan dari orang-orang sekitar, bisikan-bisikan mereka, judgement-judgment yang mereka lontarkan. Semakin banyak yang nyinyir, hati saya semakin menolak, dan semakin saya ingin menjauhi issue tersebut. Saya tahu ini tidak baik untuk kedepannya ^_^, namun begitulah mekanisme koping individu saya bekerja. I’m stiil tryin to fix it.

2017, Thank you for the lessons
2018, Let’s do this!

C360_2017-12-24-20-43-55-218

 

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Igauan Awal Tahun

  1. Syandrez says:

    Sepakat dengan statementnya kak, tentang syukur.. yang penting kita jangan lupa bersyukur ya kak.. #jempol

    Like

    • Benaaaaaaaar sekali An, untuk setiap usaha yang tidak sesuai dengan keinginan, maka sesungguhnya selalu ada detail istimewa yang Allah suguhkan sebagai penggantinya. Tidak ada alasan untuk merasa kecewa untuk semua suratan Allah, hadapi, nikmati, syukuri. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s