ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN STROKE ISKEMIK DENGAN IMPLEMENTASI PEMBERIAN PERAWATAN RANGE OF MOTION (ROM ) DI RUANGAN RAWAT INAP NEUROLOGI

KARYA TULIS  ILMIAH AKHIR PROFESI NERS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN STROKE ISKEMIK DENGAN IMPLEMENTASI PEMBERIAN PERAWATAN RANGE OF MOTION (ROM ) DI RUANGAN RAWAT INAP NEUROLOGI

 

Oleh : FITRIYANTI, S.Kep

Dosen Pembimbing I : Ns. Nur’aini, S.Kep


BAB II

TINJAUAN TEORITIS

 

  1. ANATOMI FISIOLOGI OTAK
  1. Definisi Otak

Otak merupakan pengendali utama dari tubuh manusia, otak terbungkus dalam tengkorak kepala dan dilindungi oleh cairan serebrospinal. Cairan ini yang berfungsi untuk melindungi otak dari berbagai gangguan baik getaran maupun benturan di kepala.Otak manusia lebih besar dibandingkan dengan otak hewan, beratnya kira-kira 1,4 kg dan terdiri dari 100 milyar sel saraf. Otak terdiri atas beberapa bagian utama seperti serebrum, serebelum dan batang otak. Serebrum merupakan bagian terbesar dari otak. Beratnya sekitar 85% dari berat otak, serebrum terbagi atas dua hemisfer. Batang otak menghubungkan otak dengan sumsum tulang belakang (Evelyn C Pearce 2009)

  1. Bagian Otak

Seperti terlihat pada gambar di atas, otak dibagi menjadi empat bagian, yaitu:

  1. Cerebrum (Otak Besar)

Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut dengannama Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ juga ditentukan oleh kualitas bagian ini.

Cerebrum terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut Lobus. Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai parit disebut sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-masing adalah: Lobus Frontal, Lobus Parietal, Lobus Occipital dan Lobus Temporal.

  • Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak Besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara umum.
  • Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
  • Lobus Temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara.
  • Lobus Occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.

 

Selain dibagi menjadi 4 lobus, cerebrum (otak besar) juga bisa dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan itu terhubung oleh kabel-kabel saraf di bagian bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan mengontrol sisi kiri tubuh, dan belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh. Otak kanan terlibat dalam kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri untuk logika dan berpikir rasional (Syarifuddin, 2006)

  1. Cerebellum (Otak Kecil)

Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya.

Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.

 

  1. Brainstem (Batang Otak)

Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.

Batang otak dijumpai juga pada hewan seperti kadal dan buaya. Oleh karena itu, batang otak sering juga disebut dengan otak reptil. Otak reptil mengatur “perasaan teritorial” sebagai insting primitif. Contohnya seseorang akan merasa tidak nyaman atau terancam ketika orang yang tidak dikenal terlalu dekat dengan anda.

Batang Otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:

  • Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah bagian teratas dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan Otak Kecil. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan pendengaran.
  • Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla mengontrol fungsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.
  • Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah kita terjaga atau tertidur.

Susunan saraf pusat terdapat pada bagian kepala yang keluar dari otak melewati lubang yang terdapat pada tulang tengkorak, berhubungan erat dengan otot panca indra mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Di dalam kepala ada 2 saraf cranial. Beberapa diantaranya adalah serabut campuran gabungan saraf motorik dan saraf sensorik tetapi ada yang terdiri dari saraf motorik saja atau hanya sensorik saja.

Syaraf otak di batang otak berisi :

  • Nervus Olvaktorius

Sifatnya sensorik, menyerupai hidung, membawa rangsangan aroma (bau-bauan) dari rongga hidung ke otak. Saraf pembau yang keluar dari otak di bawah dahi, disebut lobus olfaktorius. Kemudian saraf ini melalui lubang yang ada didalam tulang tapi akan menuju rongga hidung selanjutnya menuju sel-sel panca indra.

  • Nervus Optikus

Sifatnya sensoris, mensarafi bola mata, membawa rangsangan penglihatan ke otak. Serabut mata yang serabut-serabut sarafnya keluar dari kulit membentuk saluran IV dan di dekat serabut-serabut tersebut memiliki tangkai otak dan membentuk saluran optik dan bertemu di tangkai hipofise serta membentang sebagai saraf mata, serabut tersebut tidak semuanya bersilang. Sebagian serabut saraf terletak di sebelah sisi serabut yang berasal dari saluran optik. Oleh sebab itu serabut saraf yang datang dari sebelah kanan retina tiap-tiap mata terdapat di dalam optik kanan. Begitu pula sebaliknya, retina kiri tiap-tiap mata terdapat di sebelah kiri.

 

  • Nervus Okulomotorius

Saraf ini bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital (otot penggerak bola mata). Di dalam saraf ini terkandung serabut-serabut saraf otonom (parasimpatis). Saraf penggerak mata keluar dari sebelah tangkai otak dan menuju ke lekuk mata yang berfungsi mengangkat kelopak mata atas, selain itu mensarafi otot miring mata atas dan otot lurus sisi mata.

  • Nervus Toklearis

Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Saraf pemutar mata yang pusatnya terletak di belakang pusat saraf penggerak mata dan saraf penggerak mata masuk ke dalam lekuk mata menuju orbital miring atas mata.

  • Nervus Trigeminus

Sifatnya majemuk (sensoris-motoris), saraf ini mempunyai 3 buah cabang. Fungsinya sebagai saraf kembar tiga, saraf ini merupakan saraf otak besar yang mempunyai 2 buah akar saraf besar yang mengandung serabut saraf penggerak. Di ujung tulang paling belakang yang terkecil mengandung serabut saraf penggerak. Di ujung tulang belakang bagian perasa membentuk sebuah ganglion yang dinamakan simpul saraf serta meninggalkan rongga tengkorak.

  1. Nervus oftalmikus

Sifatnya sensorik, mensarafi kulit bagian depan, kelopak mata atas, selaput lendir, kelopak mata dan bola mata.

  1. Nervus maksilaris

Sifatnya sensoris, mensarafi gigi-gigi atas, bibir atas, palatum, batang hidung, rongga hidung dan sinus maksilaris.

  1. Nervus mandibularis

Sifatnya majemuk (sensorik dan motoris). Serabut-serabut motorisnya mensarafi gigi bawah, kulit daerah temporal dan dagu. Serabut rongga mulut dan lidah dapat membawa rangsangan cita rasa ke otak.

  • Nervus Abdusen

Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Fungsinya sebagai saraf penggoyang sisi mata karena saraf ini keluar di sebelah bawah jembatan portis menembus selaput otak sela tursika. Sesudah sampai di lekuk mata lalu menuju ke otot lurus sisi mata.

  • Nervus Fasialis

Sifatnya majemuk (sensoris dan motoris), serabut-serabut motorisnya mensarafi otot-otot lidah dan selaput lendir rongga mulut. Di dalam saraf ini terdapat serabut-serabut saraf otonom (parasimpatis) untuk wajah dan kulit kepala fungsinya sebagai mimik wajah dan menghantarkan rasa pengecap saraf ini keluar di sebelah belakang dan beriringan dengan saraf pendengaran.

  • Nervus Auditorius

Sifatnya sensoris, mensarafi alat pendengar, membawa rangsangan dari pendengaran dan dari telinga ke otak. Fungsinya sebagai saraf pendengar. Saraf ini mempunyai 2 buah kumpulan serabut saraf yaitu rumah keong (koklea), disebut akar tengah adalah saraf untuk mendengar dan pintu halaman (vestibulum) disebut akar tengah adalah saraf untuk keseimbangan.

  • Nervus Glosofaringeus

Sifatnya majemuk (sensoris dan motoris), ia mensarafi faring tonsil dan lidah. Saraf ini dapat membawa rangsangan cita rasa ke otak. Di dalamnya mengandung saraf-saraf otonom. Fungsinya sebagai saraf lidah tekak karena saraf ini melewati lorong diantara tulang belakang dan karang. Terdapat 2 buah simpul saraf yang diatas sekali dinamakan ganglion petrosum atau ganglion jugularis atau ganglion atas dan yang di bawah dinamakan ganglion petrosum atau ganglion bawah. Saraf ini (saraf lidah tekak) berhubungan dengan nervus-nervus fasialis dan saraf simpatis ranting 11 untuk ruang faring dan tekak.

  • Nervus Vagus

Sifatnya majemuk (sensoris dan motoris), mengandung serabut-serabut saraf motorik, sensorik dan parasimpatis faring, laring, paru-paru, esophagus, gaster intestinum minor. Kelenjar-kelenjar pencernaan dalam abdomen dan lain-lain. Fungsinya sebagai saraf perasa. Saraf ini keluar dari sum-sum penyambung dan terdapat di bawah saraf lidah tekak.

  • Nervus Asesorius

Sifatnya motoris dan mensarafi muskulus sternokleido mastoid dan muskulus trapezius. Fungsinya sebagai saraf tambahan. Terbagi atas 2 bagian, bagian yang berasal dari sum-sum tulang belakang.

  • Nervus Hipoglosus

Sifatnya motoris dan mensarafi otot-otot tubuh (lidah), fungsinya sebagai saraf lidah. Saraf ini terdapat di dalam sum-sum penyambung, akhirnya bersatu dan melewati lubang yang terdapat di sisi foramen oksipital. Saraf ini juga memberikan ranting-ranting pada otot yang melekat pada tulang dan otot lidah

  1. STROKE
  2. Pengertian

Stroke adalah terjadinya kerusakan pada jaringan yang disebabkan berkurangnya aliran darah keotak atau retaknya pembuluh darah yang menyuplai darah ke otak dengan berbagai sebab yang ditandai dengan kelumpuhan sensoris dan motoris tubuh sampai dengan terjadinya penurunan kesadaran (Arif Mutaqqin, 2008)

Stroke didefenisikan sebagai defisit (gangguan) fungsi sistem saraf yang terjadi mendadak dan disebabkan oleh gangguan peredaran darah di otak. Stroke terjadi akibat gangguan pembuluh darah di otak, baik berupa tersumbatnya pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah di otak. Otak yang seharusnya mendapat pasokan oksigen dan zat makanan menjadi terganggu, sehingga memunculkan sel saraf (neuron) dan memunculkan gejala stroke (Pinzon dkk 2010).

Menurut WHO stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak lokal maupun menyeluruh (global) secara mendadak dan akur dengan gejala dan tanda sesuai bagian otak yang terkena, yang berlangsung lebih dari 24 jam, dapat sembuh sempurna, sembuh dengan cacat atau dengan kematian akibat gangguan aliran darah ke otak karena pendarahan atau tanpa pendarahan (Iskandar 2004).

  1. Etiologi

Menurut Smeltzer & Bare (2002), stroke biasanya disebabkan salah satu dari empat kejadian berikut :

  1. Trombosis (bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher)
  2. Embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain)
  3. Iskemia (penurunan aliran darah ke area otak)
  4. Haemoragic (pecahnya pembuluh darah serebral dengan pendarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak).
  1. Faktor Resiko

Menurut Pinzon, dkk (2010), seseorang menderita stroke karena  memiliki faktor resiko, terdiri dari faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor resiko yang dapat diubah.

  1. Yang tidak dapat diubah
  • Usia, makin tua usia seseorang akan semakin mudah terkena stroke. Stroke dapat terjadi pada semua usia, namun lebih dari 70%

stroke kasus stroke terjadi pada usia diatas 65 tahun.

  • Jenis kelamin, laki-aki lebih mudah terkena stroke karena tingginya faktor risiko stroke (misalnya hipertensi dan merokok) pada laki-laki.
  • Riwayat keluarga, seseorang dengan riwayat keluarga stroke lebih cenderung menderita diabetes dan hipertensi. Peningkatan kejadian stroke pada keluarga penyandang stroke adalah akibat diturunkannya faktor risiko stroke.
  • Ras, kejadian stroke pada ras kulit berwarna lebih tinggi dari kaukasoid.
    1. Faktor yang dapat diubah
  • Hipertensi

Hipertensi kronis dan tidak terkendali akan memacu kekakuan dinding pembuluh darah kecil (mikroangiopati). Hipertensi juga akan memacu munculnya timbunan plak pada pembuluh darah besar, yang akan menyempitkan diameter pembuluh darah. Plak yang tidak stabil akan mudah pecah dan terlelpas, sehingga meningkatkan risiko tersumbatnya pembuluh darah otak dan menimbulkan gejala stroke.

  • Diabetes Mellitus / Kecing Manis

DM dijumpai pada 15 – 20 % populasi usia dewasa. Dm merupakan faktor risiko stroke iskemik utama. Peningkatan kadar gula darah berhubungan lurus dengan risiko stroke (semakin tinggi kadar gula darah, semakin mudah terkena stroke).

 

  • Merokok

Merokok memacu peningkatan kekentalan darah, pengerasan dinding pembuluh darah. Merokok meningkatkan risiko stroke sampai 2 kali lipat. Risiko stroke akan bertambah 1,5 kali lipat setiap penambahan 10 batang rokok per hari).

  • Dislipidemia

Profil lemak seseorang ditentukan oleh kadar kolesterol darah, kolesterol LDL, kolesterol HDL, trigliserida dan Lp (a). Kolesterol darah yang tinggi meningkatkan risiko storke. Pemberian terapi obat untuk mengurangi kadar kolesterol 9statin) bermanfaat untuk menurunkan risiko stroke sumbatan (iskemik).

  • Obesitas

Seseorang dengan berat badan berlebih memiliki risiko yang tinggi untuk menderita stroke. Penelitian Oki, dkk (2006) Indeks Massa Tubuh > 30 memiliki risiko stroke 2,46 kali dibanding yang memiliki IMT < 30.

  • Faktor risiko lain

Faktor risiko stroke lainnya adalah gangguan tidur obstruktif, kadar homosistein yang tinggi, kadar lipoprotin yang tinggi, kontrasepsi hormonal, infeksi dan penyakit jantung.

 

  1. Jenis Stroke
    1. Berdasarkan serangan (Junaidi 2006)
  • Transient Ischemic Attack (TIA)

Adalah serangan stroke ringan yang berlangsung lebih kurang dari 24 jam lalu hilang kembali.

  1. Reversible Ischemic Neurologis Deficit (RIND)

Adalah gejala neurologis akan hilang antara 24 jam pertama sampai dengan 21 hari.

  1. Stroke komplit atau Complit Stroke

Adalah kelainan neurologis atau sudah menetap, dan tidak berkembang lagi.

  1. Berdasarkan etiologi
  • Stroke haemoragic

Merupakan pendarahan intra serebral dan pendarahan sub arachnoid yang disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh darah pada otak. Biasanya terjadi karena dinding pembuluh darah robek.

  • Stroke non haemoragic

Merupakan stroke yang disebabkan oleh berkurangnya/terhentinya aliran darah di otak, dapat disebabkan karena iskemik, emboli dan thrombosis serebral.

  1. Berdasarkan patologi (Pinzon, dkk 2010)
  • Stroke sumbatan (stroke iskemik)

Terjadi karena pembuluh darah ke otak mengalami sumbatan. Sumbatan tersebut bisa akibat thrombus dan sumbatan akibat emboli. Proporsi sumbatan (infark) pada umumnya mencapai 70%  kasus.

  • Stroke Perdarahan

Stroke perdarahan terjadi akibat pecahnya pembuluh darah

yang menuju otak. Stroke ini terdiri dari perdarahan intraserebral (pada  jaringan otak) dan stroke perdarahan subarachnoid (dibawah pembungkus otak). Proporsi stroke intraserebral 25 % dan perdarahan subarachnoid 5 %.  Perdarahan otak primer (80 – 85 %) dihubungkan dengan hipertensi yang tidak terkendali. Perdarahan intraserebral sekunder (15 – 20 %) disebabkan oleh kelianan pembuluh darah, penggunaan obat anti koagulan, penyakit hati, dan penyakit sistem darah (misal pada leukimia).

 

  1. Patofisiologi

Patofisiologi stroke berdasarkan jenis-jenis stroke:

  1. Stroke Iskemik (Stroke Non Hemoragik)

Stroke iskemik adalah yang paling sering terjadi. Hal ini sering terjadi ketika thrombus terbentuk dan mengakibatkan hambatan pada arteri di otak. Jika hal ini terjadi sel-sel otak (neuron) tidak memiliki cukup energi sehingga dapat berhenti bekerja, jika arteri terhambat selama beberapa menit sel-sel otak akan mati.

Sebagai akibat dari penutupan aliran darah ke sebagian otak tertentu, maka terjadi serangkaian proses patologik pada daerah iskemik. Perubahan ini dimulai ditingkat seluler, berupa perubahan fungsi dan struktur sel yang diikuti dengan kerusakan pada fungsi utama serta integritas fisik dari susunan sel selanjutnya akan berakhir dengan kematian neuron. Disamping itu terjadi pula perubahan-perubahan dalam milliu ekstra seluler, karena peningkatan pH jaringan serta kadar gas darah, keluarnya zat neurotransmitter (glutamat) serta metabolisme sel-sel yang iskemik, disertai kerusakan blood brain barrier. Seluruh proses ini merupakan perubahan yang terjadi pada stroke iskemik.

  1. Stroke Hemoragik

Menurut WHO, dalam internasional stasticial classification of disease and related

health problem 10 th revision, stroke hemoragik dibagi atas :

  • Perdarahan Intra Serebral (PIS)

Kasus PIS 70% terjadi di kapsula interna 20% di  fossaposterior (batang otak dan serebelum) dan 10% di hemisfer (diluar kapsula interna). Gambaran patologik menunjukkan ekstravasasi darah karena robeknya pembuluh darah otak, diikuti pembentukan edema dalam jaringan otak disekitar hematoma. Akibatnya terjadi diskontinuitas jaringan dan kompresi oleh hematoma dan edema pada struktur sekitar termasuk pembuluh darah otak dan menyempitkan/ menyumbatnya, sehingga terjadi puka iskemi pada jaringan yang dilayaninya. Maka gejala klinis yang timbul bersumber dari destruksi jaringan otak, kompresi otak, kompresi pembuluh darah otak/iskemi dan akibatnya kompresi pada jaringan otak lainnya.

  • Perdarahan Sub Arakhnoid (PSA)

PSA adalah keadaan terdapatnya/masuknya darah kedalam ruangan subarakhnoid PSA sering terjadi disebabkan karena abnormalitas arteri yang ada di basal otak, keadaan ini disebut cerebral aneurysms. Terdapat daerah pada arteri yang menjadi bengkak/udem, kemudian semakin parah, dinding pembuluh darah  menjad lemah sehingga akhirnya ruptur.

(Price Silvia A. 2005)

 

  1. Manifestasi Klinis

Stroke menyebabkan berbagai defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral (sekunder atau aksesori). Fungsi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya. Manifestasi klinis stroke menurut Smeltzer & Bare (2002), antara lain: defisit lapang pandang, defisit motorik, defisit sensorik, defisit verbal, defisit kognitif dan defisit emosional.

  1. Defisit Lapang Pandangan
  • Tidak menyadari orang atau objek di tempat kehilangan penglihatan
  • Kesulitan menilai jarak
  • Diplopia
    1. Defisit Motorik
  • Hemiparesis (kelemahan wajah, lengan, dan kaki pada sisi yang sama).
  • Hemiplegi (Paralisis wajah, lengan dan kaki pada sisi yang sama).
  • Ataksia (Berjalan tidak mantap, dan tidak mampu menyatukan kaki.
  • Disartria (Kesulitan berbicara), ditunjukkan dengan bicara yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara.
  • Disfagia (Kesulitan dalam menelan)
    1. Defisit Sensorik : kebas dan kesemutan pada bagian tubuh
    2. Defisit Verbal
  • Afasia ekspresif (Tidak mampu membentuk kata yang dapat dipahami)
  • Afasia reseptif (Tidak mampu memahami kata yang dibicarakan)
  • Afasia global (Kombinal baik afasia reseptif dan ekspresif)
    1. Defisit Kognitif
      • Kehilangan memori jangka pendek dan panjang
      • Penurunan lapang perhatian
      • Kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi
      • Perubahan penilaian
    2. Defisit Emosional
  • Kehilangan kontrol diri
  • Labilitas emosional
  • Penurunan toleransi pada situasi yang menimbulkan stres
  • Depresi
  • Menarik diri
  • Rasa takut, bermu
  • suhan dan marah
  • Perasaan isolasi
  1. Penatalaksanaan Stroke
    1. Penatalaksanaan Keperawatan stroke
      • Penatalaksanaan Klien pada Fase Awal serangan 42-72 jam pertama
    2. Mempertahankan klien cukup oksigen
    3. Membersihkan lendir dari jalan nafas klien
    4. Memonitor/pantau fungsi nafas klien
    5. Mengkaji tingkat kesadaran klien
    6. Melakukan penilaian kemampuan menelan
      • Penatalaksanaan Klien Stroke setelah melewati masa Kritis
    7. Tata ruang : meletakkan benda-benda yang klien butuhkan didekatnya
    8. Meletakkan pasien pada posisi kepala ditinggikan 15-30º
    9. Mengatur posisi tempat tidur datar
    10. Merubah posisi tubuh klien 1 kali 2 jam, miringkan kekiri dan kekanan
    11. Melakukan perawatan kebersihan badan, perawatan kulit, kebersihan mata.
    12. Melakuan latihan gerak tubuh dan sendi pada pasien
    13. Melatih klien untuk berbicara
      • Penatalaksanaan Klien Stroke Pada Fase Rehabilitasi (Penyembuhan)
    14. Rutin melakukan latihan gerak/ROM
    15. Melatih klien melakukan aktifitas ringan seperti : memakai baju
    16. Melakukan latihan berbicara
    17. Keluarga memberikan motivasi pada klien untuk sembuh
      • Pengaturan Makanan Sehat Untuk Pasien Stroke
    18. Menganjurkan pasien minum banyak air putih minimal 8 gelas/hari
    19. Menghindari minum kopi dan alcohol
    20. Menganjurkan menghindari memakan makanan yang mengandung banyak gula
    21. Menganjurkan menghindari makanan yang banyak lemak, banyak makan sayur, rendah garam
    22. Menganjurkan klien banyak makan buah
    23. Pada dasarnya makanan dapat diberikan sesuai dengan kondisi klien. Makanan klien stroke dapat diberikan dalam 3 bentuk : pada diblender, dan makanan cair
      1. Penatalaksanaan Medis

Secepatnya pada terapeutik window (waktu dari serangan hinga mendapatkan pengobatan maksimal).

Terapeutik window ini ada 3 konsensus :

  • Konsensus Amerika : 6 jam
  • Konsensus Eropa : 1,5 jam
  • Konsensus Asia : 12 jam

Prinsip pengobatan pada terapeutik window :

  1. Jaringan penubra ada aliran lagi sehingga jaringan penubra tidak menjadi iskemik
  2. Meminimalisir jaringan iskemik yang terjadi

Terapi Umum :

Untuk merawat keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai berikut :

  1. Menstabilkan tanda-tanda vital
    1. Mempertahankan saluran nafas (sering melakukan penghisapan yang dalam ,O2, trakeotomi, pasang alat bantu pernafasan bila batang otak terkena)
    2. Kendalikan tekanan darah sesuai dengan keadaan masing-masing individu : termasuk usaha untuk memperbaiki hipotensi maupun hipertensi
  2. Deteksi dan memperbaiki aritmia jantung
  3. Merawat kandung kemih. Sedapat mungkin jangan memasang kateter tinggal, cara ini telah diganti dengan kateterisasi “keluar-masuk” setiap 4 sampai 6 jam.
  4. Menempatkan posisi penderita dengan baik secepat mungkin :
    1. Penderita harus dibalik setiap jam dan latihan gerakan pasif setiap 2 jam
    2. Dalam beberapa hari dianjurkan untuk dilakukan gerakan pasif penuh sebanyak 50 kali perhari : tindakan ini perlu untuk mencegah tekanan pada daerah tertentu dan untuk mencegah kontraktur (terutama pada bahu, siku dan mata kaki).
  5. Pemasangan NGT pada pasien dengan penurunan kesadaran.

 

Terapi Khusus :

Ditujukan untuk stroke pada teraperutik window dengan obat anti agregasi dan neuroprotektan. Obat antri agregasi : golongan pentoxifilin, tielopidin, low heparin, tPA

  • Pentoxifilin

Mempunyai 3 cara kerja :

  1. Sebagai anti agregasi : menghancurkan thrombus
  2. Meningkatkan deformalitas eriotrosit
  3. Memperbaiki sirkulasi intrserebral
    • Neuroprotektan
  4. Piracetam : menstabilkan membrane sel neuron, ex : neotropil Cara kerja dengan menaikkan cAMP ATP dan meningkatkan sintesis glikogen.
  5. Nimodipin : gol. Ca bloker yang merintangi masuknya Ca2+ kedalam sel, ex.nimotop. Cara kerja dengan merintangi masuknya Ca2+ kedalam sel dan memperbaiki perfusi jaringan otak
  6. Citicolin : mencegah kerusakan sel otak, ex Nicholin. Cara kerja dengan menurunkan free faty acid, menurunkan generasi radikal bebas dan biosintesa lesitin
  7. Ekstrak gingkobiloba, ex ginkan
  1. Pemeriksaan Penunjang
  1. Laboratorium
    • Hemoglobin, hematokrit, erirtosit, lekosit, hitung jenis, trombosit, masa perdarahan dan pembekuan, laju endap darah
    • Ureum, kreatinin, fungsi hati, urin lengkap
    • Gula darah sewaktu, puasa, 2 jam setelah makan, kolesterol total, HDL, LDL, trigliserid, asam urat
    • Bila perlu, elektrolit (natrium, kalium) dan gas darah
  2. Pemeriksaan radiologi
    • Angiografi serebral : membantu menemukan penyebab stroke secara fisik, seperti perdarahan atau obstruksi arteri, adanya titik oklusi atau ruptur
    • Scan CT: memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan adanya infark. Catatan : mungkin tidak dengan segera menunjukkan semua perubahan tersebut
    • Fungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya da trombosis, emboli serebral, dan TIA. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya hemoragic subarakhnoid atau perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat pada tormbosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi.
    • MRI : menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragic, malformasi arteriovena (MAV)
    • Ultrasonografi doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena (Masalah sistem arteri karotis (aliran darah/muncul plak) arterosklerotik)
    • EEG: mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik
    • Sinar x tengkorak : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng perineal daerah yang berlawanan dari masa yang meluas; klasifikasi karotis interna terdapat pada trombus serebral; klasifikasi parsial dinding aneurisma pada perdarahan sub arakhnoid
    • Neusonografi dilakukan untuk mendeteksi adanya stenosis pembuluh darah ekstrakranial dan intrakranial dalam membantu evaluasi diagnostik, etiologik, terapi dan prognostik (Doenges, 1999).
  1. Komplikasi
  1. Kelemahan fisik yang lebih berat (gangguan fisik)
  2. Penyembuhan penyakit lama
  3. Biaya unuk penyembuhan mahal
  4. Tidak bisa memenuhi aktifitas sehari-hari
  5. Dapat menyebabkan kematian
  6. Hipoksia serebral
  7. Penurunan darah serebral
  8. Luasnya area ceera
  9. Peningkatan TIK
  10. Aspirasi atesletaksis
  11. Kontraktur
  12. Disritmia jantung
  13. Gagal nafas

(Smeltzer & Bare 2002)

 

  1. Pencegahan

Stroke sangat dapat dicegah, hampir 85 % dari semua stroke dapat dicegah, karena ancaman stroke sehingga merenggut nyawa dan derita akibat stroke. Hidup bebas tanpa stroke merupakan dambaan bagi semua orang. Tak heran semua orang selalu berupaya untuk mencegah stroke atau mengurangi faktor resiko dengan menerapkan pola hidup sehat, olahraga teratur, menghindari stress hingga meminum obat atau suplemen untuk menjaga kesehatan pembuluh darah hingga dapat mencegah terjadinya stroke, mengatur pola makan rendah garam dan mengurangi makanan yang berlemak ( Pinzon dkk, 2010).

 

  1. Latihan Kekuatan Otot

Latihan kekuatan otot adalah latihan penguatan penguatan/pengencangan otot gluteal dan kuadrisep serta latihan pergerakan sendi yang dilakukan sebelum tindakan operasi dengan tujuan untuk memelihara kekuatan otot yang diperlukan untuk berjalan (Smeltzer & Bare, 2002). Tujuan dari pengencangan otot gluteal dan kuadrisep ini adalah agar kekuatan otot yang diimobilisasi tetap terjaga.  Range of Motion (ROM) adalah latihan gerak sendi untuk meningkatkan aliran  darah perifer dan mencegah kekakuan otot / sendi. Latihan range of  motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005). Menurut Suratun, dkk (2008) Range of motion adalah gerakan dalam keadaan normal dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan.

Tujuan dilakukannya latihan kekuatan otot/Range of Motion adalah memperbaiki dan mencegah kekakuan otot, memelihara/meningkatkan fleksibilitas sendi, memelihara /meningkatkan pertumbuhan tulang dan mencegah kontraktur. Latihan gerak sendi dapat segera dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot dan ketahanan otot (endurance) sehingga memperlancar aliran darah serta suplai  oksigen untuk jaringan sehingga akan mempercepat proses penyembuhan (Noviestari dkk, 2006).

Ada beberapa jenis latihan kekuatan otot/latihan gerak sendi (Waher,Salmond & Pellino, 2002 dalam Eldwati, 2011) diantaranya:

  1. Aktif Asistif Range of Motion (AAROM) adalah kontraksi aktif dari otot dengan bantuan kekuatan ekternal seperti terapis, alat mekanik atau ekstremitas yang tidak sakit.AAROM meningkatkan fleksibilitas, kekuatan otot, meningkatkan koordinasi otot dan mengurangi ketegangan pada otot sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
  2. Aktif Resistif ROM (ARROM) kontraksi aktif dari otot melawan tahanan yang diberikan, tahanan dari otot dapat diberikan dengan berat/beban, alat, tahanan manual atau berat badan.Tujuannya meningkatkan kekuatan otot dan stabilitas.
  3. Isometric Exercise adalah kontraksi aktif dari otot tanpa menggerakan persendian atau fungsi pergerakan. Isometrik exercise digunakan jika ROM persendian dibatasi karena injuri atau immobilisasi.
  4. Isotonic Exercise (Aktif ROM dan Pasif ROM) adalah kontraksi terjadi jika otot dan yang lainnya memendek (konsentrik) atau memanjang (ensentrik) melawan tahanan tertentu atau hasil dari pergerakan sendi.contoh isotonic exercise fleksi atau ekstensi ekstremitas, Isotonic exercise tetap menyebabkan ketegangan pada otot yang menimbulkan rasa nyeri pada otot. Cara melakukan Aktif ROM (Black, 2005)
  • Gerakan Kepala dan Leher : fleksi, lateral fleksi, ekstensi,hiperekstensi, rotasi.
  • Gerakan Bahu, sendi siku dan pergelangan tangan Bahu; fleksi, hiperekstensi, abduksi, adduksi, sirkumduksi, internal rotasi, elevasi. Siku; fleksi, ekstensi, pronasi, supinasi. Pergelangan tangan ; fleksi, ekstensi, hiperekstensi, abduksi, adduksi. Tangan dan jari tangan ; fleksi, ekstensi, hiperekstensi, abduksi, adduksi.
  • Gerakan tungkai bawah (sendi pinggul, lutut dan kaki) Sendi pinggul (hip) ; fleksi, ekstensi, hiperekstensi, abduksi, sirkumduksi, internal dan eksternal rotasi. Sendi lutut (knee) dan sendi kaki (ankle); fleksi, ekstensi, hiperekstensi. Jari kaki; fleksi, ekstensi, hiperekstensi, abduksi, adduksi.

Ada beberapa prinsip pelaksanaan latihan kekuatan otot dan range of motion  menurut Potter & Perry (2006), yaitu:

  1. Harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari
  2. Dilakukan perlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien.
  3. Dalam merencanakan program latihan kekuatan otot, perhatikan umur, diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.
  4. Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan adalah ekstrimitas dan leher.
  5. Range of Motion dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-bagian yang di curigai mengalami proses penyakit.
  6. Latihan dilakukan sesuai waktunya, misalnya setelah mandi atau perawatan rutin telah di lakukan.

Nilai kekuatan otot:

  1. Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total.
  2. Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada persendiaan yang harus digerakkan oleh otot tersebut.
  3. Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya berat (gravitasi).
  4. Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.
  5. Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit tahanan yang diberikan.
  6. Tidak ada kelumpuhan (normal)
  7. Asuhan Keperawatan Teoritis Pada Pasien Stroke
    1. Pengkajian

Untuk mengetahui permasalahan yang ada pada klien dengan stroke infark perlu dilakukan pengkajian yang lebih menyeluruh dan mendalam dari berbagai aspek yang ada sehingga dapat ditemukan masalah-masalah yang ada pada klien dengan stroke infark. Pengkajian pada klien stroke infark menurut Tuti Pharia, dkk (1996), Doenges (1999) dan Lynda Juall (2006) adalah sebagai berikut :

  1. Aktivitas / istirahat

Gejala : merasa kesulitan dalam melakukan aktifitas karena kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis ( hemiplegi ), merasa mudah lelah, susah untuk beristirahat.

Tanda : gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia), kelemahan umum, gangguan penglihatan dan gangguan tingkatan kesadaran.

  1. Sirkulasi

Gejala    : adanya penyakit jantung, polisitemia.

Tanda    : hipertensi arterial, frekuensi nadi dapat bervariasi, distrimia, perubahan EKG.

  1. Integritas Ego

Gejala : perasaan tidak berdaya dan putus asa.

Tanda : emosi yang labil, ketidaksiapan untuk marah , sedih, gembira dan kesulitan untuk mengekspresikan diri.

  1. Eliminasi

Gejala : perubahan pola kemih, distensi abdomen, bising usus negatif.

  1. Nutrisi

Gejala : nafsu makan hilang, mual muntah, kehilangan sensasi pada lidah, pipi dan tenggorokan, disfagia, ada riwayat diabetes mellitus, peningkatan lemak dalam darah.

Tanda : kesulitan menelan, obesitas.

  1. Neurosensori

Gejala  : pusing, sakit kepala, kelemahan/kesemutan, kebas, penglihatan menurun, penglihatan ganda, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.

Tanda  : gangguan fungsi kognitif, kelemahan/paralisis, afasia, kehilangan kemampuan untuk mengenali/menghayati rangsangan visual, pendengaran, kekakuan muka dan kejang.

  1. Nyeri / Kenyamanan

Gejala : sakit kepala

Tanda : tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot

 

  1. Pernafasan

Gejala : merokok

Tanda : ketidak mampuan menelan / batuk / tambatan jalan nafas, pernafasan sulit, suara nafas terdengar ronkhi.

  1. Keamanan

Tanda : masalah dengan penglihatan, tidak mampu mengenali objek, gangguan regulasi suhu tubuh, kesulitan dalam menelan, perhatian sedikit terhadap keamanan.

  1. Interaksi sosial.

Tanda : masalah bicara, ketidak mampuan untuk berkomunikasi

  1. Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : adanya riwayat hipertensi pada keluarga dan stroke

 

  1. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien stroke untuk mengetahui penyebab dan daerah yang terkena menurut Doenges (1999) adalah sebagai berikut ;

  • Angiografi Serebral : membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik.
  • CT Scan : memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan infark.
  • Pungsi lumbal : menunjukan adanya tekanan normal dan biasanya ada trombosis emboli serebral dan TIA.
  • MRI : menunjukan adanya daerah yang mengalami infark, haemoragik, malformasi arteriovena.
  • Ultrasonografi Doppler : mengidentifikasikan penyakit arterivena.
  • EEG : mengidentifikasi masalah yang didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
  • Sinar X tengkorak : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari massa yang meluas, klasifikasi karotis interna dan parsial dinding aneurisma.

 

  1. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data pengkajian yang telah didapat atau terkaji, kemudian data dikumpulkan maka dilanjutkan dengan analisa data untuk menentukan diagnosa keperawatan yang ada pada klien dengan stroke infark. Berdasarkan Nanda diagnosa keperawatan pada klien stroke adalah sebagai berikut :

  1. Perfusi jaringan tidak efektif: cedera b.d gangguan sirkulasi darah ke otak
  2. Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskuler, kerusakan persepsi sensori, penurunan kekuatan otot.
  3. Kerusakan komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi ke otak.
  4. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh d ketidakmampuan pemasukan b.d faktor biologis
  5. Sindrom defisit self-care: b.d kelemahan, gangguan neuromuskuler, kerusakan mobilitas fisik
  6. Risiko infeksi b.d imunitas tubuh primer menurun, prosedur invasif
  7. Gangguan eliminasi BAB b.d dengan imobil
  8. Gangguan menelan b.d dengan kerusakan neuromuskuler otot menelan
  9. Risiko trauma/injuri b.d dengan penurunan kesadaran
  1. Gangguan integritas kulit b.d dengan perubahan sensorik, immobilisasi, inkontinensia, perubahan status nutrisi.
  2. Perubahan persepsi sensori b.d dengan perubahan persepsi sensori, transmisi, integritas, stress, psikologis.
  3. Ansietas b.d penurunan fungsi tubuh, kurangnya informasi tentang proses penyakitnya

 

  1. Implementasi

Setelah perencanaan keperawatan  disusun berdasarkan diagnosa keperawatan yang  prioritas maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan keperawatan. Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan dan merupakan tindakan yang bermanfaat bagi klien berhubungan dengan diagnosa keperawatan dan tujuan yang telah ditetapkan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat berupa tindakan mandiri maupun tindakan kolaborasi. Terkait dengan masalah yang ada pada pasien stroke, maka pelaksanaan tindakan keperawatan ditujukan pada klien, perawat dan keluarga.

Dalam pelaksanaan tindakan, langkah yang dilakukan pertama kali adalah mengkaji  kembali keadaan klien untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang direncanakan masih sesuai kondisi klien saat itu, memvalidasi rencana keperawatan untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang direncanakan masih dilanjutkan atau dimodifikasi sesuai keadaan klien saat itu, menentukan kebutuhan dan bantuan yang diberikan pada klien baik dalam bentuk pengetahuan maupun keterampilan keperawatan serta menetapkan strategi tindakan yang akan dilakukan dan mengkomunikasikan intervensi keperawatan,  selain itu juga dalam pelaksanaan tindakan keperawatan didokumentasikan dalam catatan keperawatan.

Dalam pendokumentasian catatan keperawatan hal yang perlu didokumentasikan adalah waktu tindakan dilakukan, tindakan dan respon klien serta diberi tanda tangan sebagai aspek legal dari dokumentasi yang dilakukan (Potter Perry, 2006)

 

6.Evaluasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan maka perlu dilakukan kaji ulang terhadap asuhan keperawatan yang diberikan apakah masalah yang muncul pada klien dapat teratasi secara maksimal atau tidak untuk itu perlu dilakukan evaluasi.

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang mengukur seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai berdasarkan standar atau kriteria yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan aspek penting di dalam proses keperawatan, karena menghasilkan kesimpulan apakah intervensi keperawatan diakhiri atau ditinjau kembali atau dimodifikasi. Prinsip evaluasi adalah obyektivitas yaitu mengukur keadaan yang sebenarnya, reabilitas yaitu ketepatan hasil ukuran dan validitas yaitu mengukur dengan tepat harus dapat dipertahankan agar keputusan yang diambil tepat.

Evaluasi proses keperawatan terdiri dari evaluasi kwantitatif yaitu penilaian yang dilihat dari jumblah kegiatan. Evaluasi kwalitatif  yaitu evaluasi mutu yang difokuskan pada tiga dimensi yang saling terkait. Evaluasi struktur / sumber yaitu terkait dengan tenaga manusia / bahan-bahan yang diperlukan dalam pelaksanan kegiatan. Evaluasi proses (evaluasi formatif) yaitu pernyataan yang mencerminkan pengalaman perawatan dan analisa respon pasien segera setelah intervensi. Evaluasi hasil (evaluasi sumatif) yaitu pernyataan yang mencerminkan suatu observasi untuk menilai sejauh mana pencapaian tujuan berdasarkan kriteria yang ditetapkan (Potter Perry, 2006)

DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin.2008. Buku Ajar.Asuhan Keperawatan klien dengan Gangguan Sistem Persarafan, Salemba Medika : Jakarta

Brunner dan Suddart,2001. “Keperawatan Medical Bedah”, Edisi 8, EGC: Jakarta.

Capernito, Lynda Juall 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Terj Monica Ester. Jakarta : EGC,

Doenges, M (1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC

Jusuf Misbch, dr.Sp.S (K).1999.” Aspek diagnostic, Patofisiologi, Manajemen Stroke”. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.

Long. C, Barbara:1996. Keperawatan Medikal Bedah Jilid 2 Bandung ; Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Perawatan Pajajaran.

Lumbantobing, prof. DR. 2003.”Neurologi Klinik”..Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.EGC:Jakarta

Mansjoer, A. (1999). Kapita selekta kedokteran. Edisi 3, Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius

Price Silvia A, dkk. 2005. Patofisiologi Konsep KIinis Proses-proses Penyakit, EGC: Jakarta.

Pinzon, rizaldi.2010.Awas Stroke! Yokyakarta:ANDI

Syaifuddin, 1995.Anatomi Fisiologi Keperawatan.Jakarta : EGC

Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 vol.3. Jakarta: EGC