ASKEP APPENDIKSITIS

BAB I
LANDASAN TEORITIS

I. Defenisi
Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm (4 inchi), melekat pada sekum, tepat dibawah katup ileosekal. Appendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur kedalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi (apendisitis).
Apendisitis penyebab umum inflamasi akut pada kuadran kanan dari rongga abdomen, adalah penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. Kira-kira 7% dari populasi mengalami apendisitis pada waktu ynag bersamaan dalam hidup mereka, pria lebih sering dari wanita, remaja lebih sering dari dewasa. Meskipun ini dapat terjadi pada usia berapapun, apendisitis sering terjadi pada usia 10 dan 30 tahun.
Apendisistis
 Suatu peradangan appendiks yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut.
Tanda patogenik primer diduga karena obstruksi lumen, Biasanya oleh fekolit (feses keras) penyumbatan pengeluaran sekret mukus mengakibatkan pembengkakan, infeksi dan ulserasi.

II. Etiologi
Menurut Joyce, M.Black tahun 1995 apendisitis dapat disebabkan oleh:
1.    Fekolit yang terperangkap dalam lumen
Adanya fekolit menyebabkan terjadinya obstruksi sekret appendiks yang disertai pelebaran alaat tubuh. Pelebaran ini mengakibatkan terjadinya tekanan pada pembuluh-pembuluh darah yang menyebabkan edema dinding apendiks, karena edema maka resistensi selaput berkurang dan mudah diserang kuman.

2.    Kekakuan appendiks
Sama halnya dengan peyumbatan oleh fekolit, dimana appendiks yang kaku dapat meyebabkan terjadinya obstruksi pada lumen.
3.    Bengkak pada dinding usus / tumor appendiks.
Jenis tumor yang paling sering pada appendiks adalah tumor carcinoid. Carcinoid pada appendiks tumbuh mengelilingi  rongga, tidak mempunyai batas yang jelas dan dapat tumbuh infiltrat kedalam lapisan otot sehingga menimbulkan obstruksi pada lumen.
4.    Fibrosis yang luas disekeliling appendiks.
Benang fibrin juga akan dapat menyebabkan terjadinya obstruksi pada lumen.
5.    Tersumbatnya usus oleh adhesi
Iritasi atau adhesi pada usus menyebabkan obstruksi pada appendiks.
6.    Hiperplasia jaringan limfe
Pembesaran jaringan limfe dapat menyebabkan penyumbatan yang berakibat radang pada appendiks.
7.    Cacing Ascaris
Cacing ascaris lumbricoides jika masuk appendiks dapat menyebabkan penyumbatan radang sekunder.
8.    Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti Entamoeba Histolytica dapat menyebabkan terjadi infeksi.
Penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendisitis. Konstipasi akan menyebabkan meningkatnya tekanan intra sekal yang mengakibatkan timbulnya sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora normal kolon, semua ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut.

III. Manifestasi klinis
o    Nyeri kuadran kanan bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan.
o     Nyeri tekan lokal pada titik Mc.burney bila dilakukan tekanan.
o    Nyeri tekan lepas mungkin dijumpai.
o    Derajat nyeri tekan spasme otot dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi appendiks.
o    Bila appendiks melingkar dibelakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa didaerah lumbal; bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini dapat diketahui hanya dengan pemeriksaan pada pemeriksaan rektal.
o    Nyeri pada defekasi menunjukkan ujung appendiks berada dekat rektum; nyeri pada saat berkemih mununjukkan bahwa ujung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter.
o    Adanya kekakuan pada bagian bawah otot-otot testis kanan dapat terjadi.
o    Tanda Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran kanan bawah. Apabila ileus paralitik, dan kondisi pasien memburuk.
o    Pada pasien lansia, tanda dan gejala apendisitis dapat sangat bervariasi. Tanda-tanda tersebut dapat sangat meragukan, menunjukkan destruksi usus atau proses penyakit lainnya. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai ia mengalami ruptur appendiks. Insiden perforasi pada appendiks lebih tinggi pada lansia, karena banyak dari pasien-pasien ini mencari bantuan perawatan kesehatan tidak secepat pasien-pasien yang lebih muda.

IV. Komplikasi
1. Perforasi, ditandai oleh:
-Meningkatnya nyeri.
-Spasme otot dinding perut kudran kanan bawah.
-Demam.
-Malaise.
-Leukositosis.
2.  Peritonitis.
3. Abses appendiksteraba massa dikuadran kanan bawah, yang cenderung                 menggelembung kearah rektum atau vagina.
4. Trombofebitis supuratif, jarang terjadi ; ditandai dengan gejala:
– Demam sepsis.
-Menggigil.
-Hepatomegali.
-Ikterus.
5. Abses subfrenikus.
6. Fokal sepsis intra abdominal.
7. Obstruksi intestinal dapat terjadi akibat perlengketan.

V. Penatalaksanaan
1.    Penatalaksanaan medis.
a. Sebelum operasi
    Observasi
Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala appendisitis sering kali masih belum jelas. Dalam keadaan ini observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan. Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya appendisitis atau bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah ( leukosit dan hitung jenis) diulang secara periodik. Foto abdomen tegak dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis dilakukan dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
    Intubasi bila perlu
    Anti biotik (ampisilin, gentamisin, metronidazol, atau klindomisin)
b. Operasi appendiktomi
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Apendiktomi dapat dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif.
c. Pasca operasi
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan didalam, syok, hipertermia, atau gangguan pernafasan. Angkat sonde lambing bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.
Baringkan pasien dalam posisi Fowler. Pasien dapat dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal.
Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

2. Penatalaksanaan keperawatan
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang pernah dialami dalam hal appendiktomi tidak ada tata laksana keperawatan khusus yang diberikan pada pasien apendisitis.adapun tindakan non medis yang diberikan adalah persiapan pasien untuk apendiktomi diantaranya perawat memastikan  kepada dokter bahwa tes darah,cek urin, rontgen, dan puasa sudah dilaksanakan.
Kemudian tindakan keperawatan yang dapat diberikan post-op adalah perawatan luka jahitan dan mobilisasi pasien secara teratur untuk mencegah dekubitus.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
•    RKD: Riwayat nyeri abdomen tidak terlokalisir, riwayat penyakit     askariasis, kebiasaan mengkonsumsi diet rendah serat,     konstipasi
•    RKK: riwayat neoplasma pada keluarga, pola makan dan diet keluarga, riwayat penyakit DM, penyakit jantung.
•    RKS:
-Aktivitas
Gejala: Malaise
-Sirkulasi
Tanda: Takikardi
-Eliminasi
Gejala:    Konstipasi pada awitan awal
Diare (kadang-kadang)
Tanda:    Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas
Penurunan atau tidak ada bising usus
-Makanan dan cairan
Gejala:    Anoreksia
Mual/muntah
-Nyeri/ Kenyamanan
Gejala: Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus, yang meningkat berat     dan terlokalisasi pada daerah Mc. Burney, meningkat karena berjalan, batuk,     bersin, dan nafas dalam (nyeri berhenti tiba-tiba diduga perforasi atau infark     pada apendisitis)
Tanda: Perilaku berhati-hati: berbaring kesamping atau terlentang dengan lutut     ditekuk; meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena eksistensi     kaki kanan/posisi duduk tegak nyeri lepas pada sisi kiri diduga inflamasi     peritoneal.

-Keamanan
Tanda: Demam (biasanya rendah), munculnya proses infeksi.
Gejala: Alergi atau sensitif, defisiensi imun.
-Pernafasan
Tanda: Takipnea, pernafasan dangkal, kondisi kronis / batuk.
– Penyuluhan/ Pembelajaran
Gejala: Kondisi lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen contoh: pielitis     akut, salpingitis akut, ileitis regional. Dapat terjadi pada berbagai usia.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1.    Infeksi, Resiko tinggi terhadap
Faktor resiko meliputi:
– tidak adekuatnya pertahanan utama, perforasi/ruptur pada apendiks; peritonitis;        pembentukan abses.
– Prosedur invasif, insisi bedah.
Intervensi:
Mandiri
    Awasi tanda vital perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan mental, meningkatnya nyeri abdomen.
    Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptik. Berikan perawatan paripurna.
    Lihat insisi dan balutan. Catat karakteristik dan drainase luka/drain (bila dimasukkan), adanya eritema.
    Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien/orang tua dekat.
Kolaborasi
    ambil contoh drainase bila diindikasikan.
    berikan anti biotik yang sesuai indikasi.

2.    Kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap
Faktor resiko meliputi:
–    muntah pra operasi.
–    pembatasan pasca operasi (contoh puasa).
–    status hipermetabolik (contoh demam, proses penyembuhan).
–    inflamasi peritonium dengan cairan asing.
Intervensi
Mandiri
^    Awasi TD dan nadi.
^    Lihat membran mukosa; kaji turgor kulit dan pengisian kapiler.
^    Awasi masukan dan haluaran;  catat warna urune/konsentrasi, berat jenis.
^    Auskultasi bising usus. Catat kelancaran flatus, gerakan usus.
^    Berikan sejumlah kecil minuman cairan jernih bila pemasukan peroral     dimulai, dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi.
^    Berikan perawatan mulut seiring dengan perhatian khusus pada     perlindungan bibir.
Kolaborasi
^    Pertahankan penghisapan gaster/usus.
^    Berikan cairan  IV.

3.    Nyeri [akut], dapat dihubungkan dengan:
#    Distensi jaringan usus oleh inflamasi.
#    Adanya insisi bedah.
Intervensi
Mandiri
    Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10).selidiki dan laporkan nyeri dengan tepat.
    Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler.
    Dorong ambulasi dini.
    Berikan aktivitas hiburan.
Kolaborasi
    Pertahankan puasa/penghisapan NG pada awal.
    Berikan analgesik sesuai indikasi.
    Berikan kantong es pada absomen.

4.    Kurang pengetahuan [kebutuhan belajar] tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan. Dapat dihubungkan dengan:
#    Kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.
#    Tidak mengenal sumber informasi.
Intervensi
Mandiri
    kaji ulang pembatasan aktivitas pasca operasi, contoh mengangkat berat, olah raga, seks, latihan, menyetir.
    Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodik.
    Anjurkan menggunakan laksatif/pelembek feses ringan bila perlu dan hindari enema.
    Diskusikan perawatan insisi, termasuk mengganti balutan, pembatasan mandi, dan kembali ke dokter untuk mengangkat jahitan/pengikat.
    Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh pengikat nyeri; edema/eritema luka, adanya drainase, demam.

Advertisements

9 Responses to ASKEP APPENDIKSITIS

  1. Pingback: askep bedah apendisitis | Info Askep Terlengkap

  2. Pingback: askep post insisi abses | Info Askep Terlengkap

  3. Pingback: Download Askep Apendiksitis Pre Operasi | Terbaru 2015

  4. Pingback: Laporan Kasus Download Askep Apendisitis | Terbaru 2015

  5. Pingback: Download Askep Pada Klien Dengan Apendiksitis | Terbaru 2015

  6. Pingback: Www.Download Askep Atresia Ani | Terbaru 2015

  7. Pingback: Download Askep Stroke Hemoragik Dan Non Hemoragik | Terbaru 2015

  8. Pingback: Download Askep Apendisitis Kronis | Terbaru 2015

  9. dila says:

    asslamualaikum teh mohon di cantumkan dengan daftar pustaka nya juga ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s